Ramai-Ramai Para Seniman Yogyakarta Tunjukkan Kekagumannya terhadap Soekarno

Oleh Switzy Sabandar pada 12 Feb 2021, 17:39 WIB
Diperbarui 12 Feb 2021, 17:39 WIB
MoU Seniman Yogyakarta
Perbesar
Penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum Of Understanding (MOU) dengan 78 seniman di Yogyakarta yang akan berpartisipasi di dalam pameran ini dengan Balai Kesenian dan Kebudayaan DPD PDI Perjuangan DIY pada 10 Februari 2021.

Liputan6.com, Yogyakarta- Para seniman di Yogyakarta akan berpartisipasi dalam pameran lukisan bertajuk AKARA yang digelar di Kantor DPD PDI Perjuangan DIY pada 1 sampai 21 Juni 2021. Para seniman Yogyakarta itu akan menuangkan gagasan dan pandangan mereka di atas kanvas perihal Soekarno.

Ada 78 perupa di Yogyakarta yang terlibat dalam perhelatan seni ini. Sederet nama seniman kondang juga akan ikut memamerkan karyanya di kantor DPD PDI Perjuangan DIY, antara lain, Butet Kartaredjasa, Ong Hari Wahyu, Bambang Herras, Budi Ubrux, Bunga Jeruk, Agung Pekik, Laksmi Shitaresmi, Nasirun, Ugo Untoro, dan Putu Sutawijaya.

Pameran lukisan AKARA yang bermakna wujud atau rupa dalam bahasa Sansekerta ini diadakan untuk memperingati bulan Soekarno. Juni merupakan salah satu bulan bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Pada 6 Juni 1901 tercatat sebagai hari lahir Soekarno. Pada 1 Juni 1945 Soekarno menyampaikan gagasannya dalam sidang BPUPKI (Dokuritzu Zyubi Tyoosakai) tentang dasar, arah,  tujuan , sekaligus pandangan hidup berbangsa dan bernegara.  Pada bulan Juni juga, tepatnya 21 Juni 1970, Soekarno meninggal dunia dalam usia 69 tahun.

Menurut Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY, GM Totok Hedi Santosa, pameran seni rupa yang akan digelar di kantor DPD PDI Perjuanagan DIY itu menunjukkan keberadaan kantor yang bukan sekadar tempat administrasi melainkan juga rumah rakyat dan rumah budaya.

“Kami mengajak para seniman di Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam pameran lukisan ini,” ujarnya, dalam siaran pers, Kamis (11/2/2021).

Ia mengungkapkan banyak pemikiran Soekarno yang bisa dijadikan inspirasi oleh para seniman. Misal, bagaimana Soekarno menyaksikan penderitaan rakyat karena kolonialisme dan ancaman imperialisme bangsa asing maupun bangsa sendiri.

Ada pula soal buruh yang tersingkir karena modernisasi, rakyat marhaen dengan lahan sempit, rakyat buta huruf sehingga mudah dibohongi, serta fragmentasi masyarakat karena pandangan yang berbeda.

“Jadi, para seniman tidak harus melukis gambar Soekarno, Megawati, atau banteng dalam pameran ini, tetapi juga bisa memanifestasikan pemikiran Soekarno lewat goresan di kanvas,” ucapnya.

PDIP DIY juga sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum Of Understanding (MOU) dengan 78 seniman di Yogyakarta yang akan berpartisipasi di dalam pameran ini dengan Balai Kesenian dan Kebudayaan DPD PDI Perjuangan DIY pada 10 Februari 2021.

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓