Negeri K-Pop Impor Limbah Kelapa dari Sulut, Mau Dibuat Apa?

Oleh Yoseph Ikanubun pada 10 Feb 2021, 14:00 WIB
Diperbarui 10 Feb 2021, 14:00 WIB
Tidak kurang dari 75 ton cocopead asal Sulut untuk pertama kalinya berangkat menuju Negeri Gingseng, Korea Selatan.
Perbesar
Tidak kurang dari 75 ton cocopead asal Sulut untuk pertama kalinya berangkat menuju Negeri Gingseng, Korea Selatan.

Liputan6.com, Manado - Serat halus dari sabut kelapa, atau cocopied kini menjelma menjadi komoditas pertanian unggulan ekspor baru asal Sulut. Produk turunan komoditas kelapa yang dahulu dianggap limbah, kini berkat kejelian pelaku usaha di bidang agribisnis dapat menjelma menjadi komoditas yang bernilai.

Tidak kurang dari 75 ton cocopead asal Sulut untuk pertama kalinya berangkat menuju Negeri K-Pop, Korea Selatan.

"Kami mengapresiasi hadirnya ragam komoditas ekspor baru ini dan siap mengawal dengan memberikan fasilitasi pengarantinaan untuk proses ekspornya," kata Kepala Karantina Pertanian Manado Donni Muksydayan Saragih, Senin (8/2/2021).

Donni mengatakan, sebelum diberangkatkan melalui Pelabuhan Bitung pada Selasa (2/5/2021) pekan lalu, seluruh komoditas tersebut telah melewati serangkaian tindakan karantina tumbuhan. Hal ini sesuai dengan persyaratan negara tujuan, dan setelah dinyatakan sehat dan aman pihaknya menerbitkan sertifikat kesehatan tumbuhan atau  Phytosanitari Certificate (PC).

"Pihak CV Putri Bitung Gemilang selaku pemilik barang menyebutkan bahwa di negara tujuan, komoditas ini akan dijadikan media tanam. Hal ini seiring dengan kegiatan menanam di rumah akibat pandemi yang makin digemari di Korea Selatan," ujar Donni.

Berdasarkan data pada sistem pengarantinaan, IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan) pada tahun 2020 tercatat ekspor cocopead asal Indonesia sebanyak 20 ribu ton, dengan tujuan negara Cina, Jepang, Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa.

"Angin segar bagi petani dan industri Kelapa di Sulut, semoga dengan produk yang terjamin dapat terus bertumbuh," ujar Donni.

Untuk mendukung keberlanjutan dan standar mutu produk turunan kelapa ini, Donni selaku koordinator upaya peningkatan ekspor produk pertanian di wilayah Sulut berencana untuk melakukan sinergi dengan berbagai instansi, antara lain Bank Indonesia Sulut, Pemda, dan pelaku usaha Industri Kecil Menengah (IKM).

"Skema berupa penyediaan fasilitas olahan sabut sederhana dan kami dari Karantina Pertanian memberikan pendampingan teknis agar dapat diekspor," ujar Donni.

Kepala Barantan Ali Jamil menyebutkan bahwa meningkatkan sinergisitas merupakan langkah operasional jajarannya dalam mengawal pencapaian target upaya peningkatan ekspor pertanian. Sebelumnya, gerakan tiga kali lipat ekspor pertanian (Gratieks) yang merupakan program strategis yang digagas oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Dari rilis data Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat peningkatan kinerja ekspor pertanian tahun 2020 sebesar 16,61% dibanding tahun lalu (YoY) atau dengan total capaian sebesar Rp460 triliun.

Sesuai skema empat tahun Gratieks maka peningkatan pada 2021 ditetapkan sebanyak 20% atau target sebesar Rp552 triliun.

"Bukan hal mudah, namun dengan sinergisitas seperti yang dilakukan di Sulut ini saya optimis," kata Jamil.

Jamil mengatakan, ekspor produk dalam bentuk olahan menjadi pilihan terbaik saat ini. Selain bernilai tambah, tahan lama, dan mudah mengemasnya.

"Sulut sudah menerapkan hal ini pada komoditas kelapa, dan harapannya kedepan juga dilakukan pada komoditas pertanian segar unggulan ekspor lainnya," ujar Jamil.

2 dari 2 halaman

Simak juga video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓