80 Ribu Nakes di Jabar Sudah Disuntik Vaksin Covid-19

Oleh Huyogo Simbolon pada 04 Feb 2021, 05:00 WIB
Diperbarui 04 Feb 2021, 05:00 WIB
Ketua IDI Terpilih Vaksinasi COVID-19 Bersama Nakes RSUD Cengkareng
Perbesar
Seorang tenaga kesehatan bersiap menjalani vaksinasi COVID-19 di RSUD Cengkareng, Jakarta, Kamis (14/01/2021). Tenaga kesehatan menjadi prioritas utama pada program vaksinasi virus corona COVID-19 tahap awal. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Bandung - Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, sebanyak 80 ribu tenaga kesehatan (nakes) di Jabar telah mendapatkan vaksinasi Covid-19, baik dosis pertama atau dosis kedua sampai Rabu (3/2/2021). Pada tahap pertama vaksinasi ini, Jabar menargetkan vaksinasi 150 ribu nakes selesai pada minggu ketiga Februari 2021.

Menurut Uu, target vaksinasi tahap pertama ini rampung dalam waktu dua atau tiga pekan ke depan. Untuk mempercepat pemberian vaksin ini, salah satunya dengan melalui vaksinasi masif yang dilakukan di Gedung Sabuga ITB, Kota Bandung, hari ini.

"Hari ini (vaksinasi massal) serentak dilaksanakan di 27 kota/kabupaten di Jawa Barat. Sampai saat ini sekitar 80 ribu sudah divaksin di Jabar. Insya Allah selesai 2 atau 3 minggu dari sekarang untuk tahap pertama 150 ribu SDM kesehatan bisa dilaksanakan (vaksinasi)," papar Uu.

Adapun para nakes disuntik vaksin Covid-19 karena sebagai ujung tombak penanganan virus corona. Selain itu, mereka akan kembali bertugas untuk menyuntik vaksin kepada sasaran pelayan publik.

"Setelah SDM kesehatan divaksin, maka masyarakat akan berlanjut (mendapat giliran suntik vaksin)," kata Uu.

Dengan adanya pelaksanaan vaksinasi masif ini, Uu berharap Jawa Barat dapat menyelesaikan target 80 persen masyarakatnya tervaksinasi selama satu tahun. "Sehingga Jawa Barat sekitar satu tahun ke depan 80 persen masyarakat akan selesai divaksin," ucapnya.

Pelaksana Tugas Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Maxi Rein Rondonuwu menambahkan, pelaksanaan vaksinasi masif sudah digelar di beberapa lokasi di Indonesia. Di Bandung sendiri sudah dua kali digelar.

"Minggu lalu saya datang di Poltekkes masih sebatas di Kota Bandung dan ini sudah ditiru di Surabaya dan hari ini 27 kab/kota di Jawa Barat melaksanakan serentak. Insya Allah kalau hari ini kalau hasilnya di atas 10 ribu, kemarin di Surabaya rekor 4.000. Jadi kalau hari ini 10 ribu saya kira kemarin rekor MURI (itu pecah lagi), waktu di Yogyakarta rekor 3.000 orang nakes dalam sehari," katanya.

Maxi mengatakan, vaksinasi masif ini sebagai upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan agar kekebalan kelompok bisa diharapkan sesuai target. Tak hanya jangkauan jumlah masyarakatnya, tetapi juga waktu pelaksanaan.

"Kita mau kejar bahwa minimal 70 persen harus mendapatkan kekebalan kelompok. Bukan hanya coverage-nya tapi juga waktu. Jadi setahun ini harus tervaksinasi," tuturnya.

Maxi menjelaskan, jika pelaksanaan vaksinasi Covid-19 tidak dilakukan secara massal mustahil akan selesai dalam satu tahun. Jawa Barat sendiri dengan jumlah penduduk terbesar, kata dia, bisa mencapai 2 tahun untuk bisa vaksinasi secara massal.

"Kalau cara-cara biasa kita tidak mungkin 300 hari. Oleh karena itu sekali lagi kami menyampaikan terima kasih Pemprov Jabar menjadi contoh pertama vaksinasi menggerakkan kabupaten/kota. Semoga ini bisa memberi manfaat untuk provinsi lainnya," ungkapnya.

 

**Ingat #PesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Sasar Pedagang Pasar

Pasar Cikutra Bandung
Perbesar
Suasana pasar tumpah di Jalan Cikutra, Kota Bandung, ramai saat pelaksanaan hari pertama PSBB, Rabu (22/4/2020). (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Dalam kesempatan itu, Maxi mengungkapkan bahwa Kemenkes akan menyasar pelayan publik terkait vaksinasi. Menurutnya, pedagang pasar hingga pengemudi ojek online bisa mendapat vaksinasi lebih awal.

"Saya tadi malam rapat dengan Pak Menteri Kesehatan bahwa DKI dan Jawa Barat akan menjadi yang pertama vaksinasi pelayanan publik mulai dari guru, dosen, pedagang pasar, ojek, PNS, TNI, Polri termasuk pegawai BUMN/BUMD dan perangkat desa. Vaksinnya sudah datang dan kita juga paling lambat minggu keempat Februari untuk pelayan publik," ujarnya.

Dipilihnya pedagang pasar untuk vaksinasi, kata Maxi, karena mereka dinilai rentan terhadap virus akibat banyaknya interaksi dengan masyarakat. Ia pun berkoordinasi dengan Menkes untuk menggelar vaksinasi secara mobile.

"Ini merupakan pesan Pak Menteri, saya sedang buatkan konsep bukan hanya di gedung tapi juga mobile. Artinya, kita mendatangi langsung ke pasar-pasar," katanya.

Untuk pelaksanaan vaksinasi mobile ini, lanjut Maxi, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI dan Jawa Barat serta kabupaten/kota. Di minggu ini, Kemenkes akan melakukan sosialisasi tersebut.

"Ini sekaligus try out melangkah ke pelayan publik. Nakes cuma 1,5 juta tapi kalau pelayan publik di catatan kami pendataan kami 18 juta lebih. Kalau kami tidak lakukan percepatan maka akan molor untuk sasaran-sasaran berikutnya," imbuhnya.

Maxi mengungkapkan, pemerintah menargetkan vaksinasi untuk pelayan publik pada April mendatang. Setelah pelayan publik, sasaran berikutnya adalah masyarakat umum.

"Harus selesai di bulan April (vaksinasi pelayan publik). Selanjutnya sasaran berikut untuk masyarakat umum," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini

Lanjutkan Membaca ↓