Komoditas Makanan Penyumbang Terbesar Inflasi Sumut, Salah Satunya Cabai Merah

Oleh Reza Efendi pada 02 Feb 2021, 19:59 WIB
Diperbarui 02 Feb 2021, 19:59 WIB
cabai rawit
Perbesar
ilustrasi cabai merah/Photo by Elle Hughes on Unsplash

Liputan6.com, Medan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada Januari 2021 mengalami inflasi sebesar 0,45 persen. Penyumbang terbesar inflasi tersebut berasal dari komoditas makanan, salah satunya cabai merah.

Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut, R Sabrina, yang juga Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut, mengatakan, kondisi tersebut masih aman. Stok pangan secara umum juga masih mencukupi.

"Kalau kita lihat, sejauh ini bahan pokok kita masih aman," kata Sabrina usai memimpin rapat koordinasi TPID Sumut di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Medan, Selasa (2/2/2021).

Dijelaskan, ada beberapa poin penting yang harus ditindaklanjuti ke depan. Antara lain, petani Sumut harus mendapatkan harga yang baik. Begitu pula dengan harga konsumen. Selain itu, cuaca juga menjadi penentu masa tanam atau produksi pangan.

"Kalau sudah mengetahui pola cuaca, kita bisa memprediksikan kapan dan di mana kita bertanam," sebutnya.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Penyebab Fluktuasi Inflasi

Sekdaprovsu
Perbesar
Sabrina memimpin rapat koordinasi TPID Sumut di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Medan, Selasa (2/2/2021)

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumut, Soekowardojo menyampaikan, makanan merupakan penyebab terjadinya fluktuasi inflasi Sumut. Cabai merah masih menjadi kunci dalam menjaga stabilitas inflasi. Perekonomian di 2021 diperkirakan menguat seiring pulihnya ekonomi global.

"Juga diiringi peningkatan harga komoditas dan kondisi Covid-19 yang terkendali, sejalan perbaikan pertumbuhan inflasi juga diprediksi meningkat, namun masih dalam rentang sasaran," sebut Soekowardojo.

Disebutkan Soekowardojo, dampak La Nina juga masih perlu dicermati, karena berpotensi menyebabkan gagal panen. Sebab, komoditi lainnya juga berpotensi mengalami kenaikan harga karena pasokan yang lebih sedikit.

"Kondisi ini disebabkan respons produsen akibat pendapatan yang menurun di tahun 2020," sebutnya.

Soekowardojo juga menyampaikan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh berbagai pihak. Di antaranya pemerintah perlu terus mengupayakan penanganan kesehatan dan distribusi vaksin Covid-19.

"Serta optimalisasi intervensi pemerintah, pembuatan neraca pangan, perbaikan infrastruktur pendukung, dan penguatan BUMD," ujarnya.

3 dari 4 halaman

Dampak La Nina

Ombak Tinggi
Perbesar
Ilustrasi Cuaca Buruk (Istimewa)

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Deli Serdang, BMKG, Syafrinal menyampaikan, secara umum Indonesia terdampak La Nina. Khusus Sumut, dampak La Nina tidak begitu signifikan.

"Dampak La Nina ini tidak begitu signifikan pada peningkatan curah hujan di Sumut," tandasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓