Kisah Sapi-Sapi Bali di Perkebunan Sawit Siak

Oleh syukur pada 24 Jan 2021, 20:00 WIB
Diperbarui 24 Jan 2021, 20:00 WIB
Perkebunan sawit yang baru saja replanting atau mengikuti peremajaan sawit rakyat di Riau.
Perbesar
Perkebunan sawit yang baru saja replanting atau mengikuti peremajaan sawit rakyat di Riau. (Liputan6.com/M Syukur)

Liputan6.com, Pekanbaru - Replanting atau peremajaan pada perkebunan sawit merupakan masa-masa galau petani. Mereka harus menunggu beberapa tahun untuk menikmati pundi-pundi uang dari sawit sementara pekerjaan lain belum tentu ada.

Namun lain halnya bagi petani di Kabupaten Siak, Riau, khususnya anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Tunas Muda karena ikut program peremajaan sawit rakyat (PSR). Mereka mendapat bantuan Rp1 miliar dari PT Perkebunan Nusantara atau PTPN V sebagai modal usaha peternakan sapi.

Chief Executive Officer PTPN V Jatmiko K Santosa mengatakan, bantuan kepada petani plasma perusahaan ini bertujuan mendongkrak kemandirian ekonomi petani yang pendapatannya menurun karena peremajaan perkebunan sawit.

"Dengan demikian diharapkan partisipasi petani dalam percepatan peremajaan kebun juga meningkat," kata Jatmiko di Pekanbaru, Sabtu petang, 23 Januari 2021.

Jatmiko menerangkan, salah satu kendala percepatan PSR, selain permasalahan legalitas dan birokrasi, adalah kekhawatiran petani kehilangan penghasilan menjelang panen. Sebagai solusi, PTPN V juga memberikan kesempatan kepada petani bekerja langsung di areal perusahaan.

"Petani bisa mendapatkan gaji melalui pola padat karya tersebut, kemudian ada bantuan usaha sampingan melalui pendanaan UMK bergilir bergulir tadi," terang Jatmiko.

Jatmiko mengatakan, modal peternakan sapi di KUD tersebut juga program jangka panjang karena bisa mengintegrasikan sawit dengan sapi. Dari kebun sawit, petani bisa mencari pakan sementara sapi bisa menjadi pupuk.

Tak hanya modal, petani penerima bantuan juga didampingi mengembangkan peternakan. Sehingga ke depannya, Siak tidak hanya jadi sentra sawit tapi juga sentra peternakan sapi.

"Saya berharap program ini berhasil sehingga menjadi nilai tambah ekonomi bagi para petani," kata pria yang juga menjabat Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Provinsi Riau ini.

 

2 dari 3 halaman

Sentra Peternakan Sapi

Sementara itu, Ketua KUD Tunas Muda, Setyono, menyebut anggotanya juga sudah beternak sapi secara mandiri. Kemudian dengan program ini, ekonomi petani lebih terjaga selama replanting dan para petani mendapatkan tambahan sapi berupa jenis sapi bali.

"Sapi bali dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan seperti tingkat adaptasi dan fertilitas tinggi serta daging yang lebih tebal," katanya.

Setyono merinci, dana Rp1 miliar yang didapat tidak seluruhnya digunakan untuk membeli sapi, melainkan juga digunakan untuk mendirikan kandang, serta perawatan perkebunan sawit milik para petani yang melaksanakan peremajaan.

"Saat ini sudah ada 50 ekor sapi bali yang kita beli. Sapi-sapi tersebut kita bagikan kepada para petani anggota," ujarnya.

Setyono mengatakan bahwa kelompok tani yang dia pimpin telah memiliki pengalaman beternak sapi secara mandiri sejak 2005 silam. Dia memastikan pengalaman itu akan menjadi modal berharga dalam penerapan praktik peternakan sapi bali yang tepat dengan integrasi perkebunan sawit.

Dia juga menyebut kebutuhan daging sapi di Kabupaten Siak cukup besar sehingga dirinya tidak khawatir dengan pemasaran daging sapi di kemudian hari.

"Terimakasih banyak kepada PTPN V yang mendukung kami secara penuh karena tidak hanya membantu dalam peremajaan sawit melalui jaminan pembiayaan, jaminan bibit unggul, dan jaminan kultur teknis, saat ini usaha sapi kami juga mendapat pendanaan," terangnya.

Setyono berkomitmen agar program ini berhasil dan menjadi pilot project pengembangan sapi di perkebunan sawit. Dia pun berdoa ke depannya Kabupaten Siak bisa menjadi sentra peternakan sapi.

Sebagai informasi, Tunas Muda merupakan salah satu dari empat KUD petani plasma PTPN V yang tengah melaksanakan peremajaan sawit. Program peremajaan sawit rakyat itu dilaksanakan sepenuhnya oleh perusahaan perkebunan milik negara tersebut dengan total luas lahan mencapai 720 hektare.

Hingga kini, PTPN V terus mengakselerasi PSR sesuai dengan target perusahaan seluas 18.000 hektare hingga tahun 2023 mendatang.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓