Horor Tanah Bergerak di Dusun Semaya Banyumas

Oleh Liputan6.com pada 07 Jan 2021, 03:30 WIB
Diperbarui 07 Jan 2021, 03:30 WIB
Longsor Jatiluhur, Desa Padangjaya Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap merusak sebanyak 24 rumah dan menyebabkan seratusan lebih jiwa mengungsi. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Longsor Jatiluhur, Desa Padangjaya Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap merusak sebanyak 24 rumah dan menyebabkan seratusan lebih jiwa mengungsi. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Banyumas - Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mempertimbangkan kemungkinan untuk merelokasi keluarga-keluarga yang menjadi korban tanah bergerak di Dusun Semaya, Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas.

"Ini sudah kita lihat dan juga nanti akan ada ahli geologi untuk memberikan rekomendasi kepada kita karena relokasi kan butuh anggaran besar menggunakan APBD, jadi harus ada dasarnya," kata Bupati Banyumas Achmad Husein di Banyumas, Rabu.

Saat meninjau lokasi bencana tanah bergerak di Dusun Semaya, Bupati mengatakan bahwa penanganan masalah tanah bergerak membutuhkan kajian teknis dari ahli geologi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas Junaidi, yang punya latar belakang pendidikan bidang geologi, juga mengemukakan perlunya kajian lebih detail mengenai kondisi tanah di Dusun Semaya.

"Sehingga nanti pemerintah daerah ketika memberi keputusan atau kesimpulan itu dasarnya dari kajian teknis yang bisa dilakukan dari Kementerian ESDM, di sana itu ada Badan Geologi yang memang punya kapasitas untuk melakukan penelitian terkait dengan bencana alam khususnya pergerakan tanah," katanya, dikutip Antara.

Pergerakan tanah yang terjadi di Dusun Semaya, menurut dia, perlu diteliti lebih lanjut mengingat dusun tersebut jauh dari sungai dan merupakan daerah di kaki Gunung Slamet yang secara geologis seharusnya stabil karena fondasi bawahnya merupakan batuan beku, bukan batuan berlapis.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Lahan Relokasi

"Yang bahaya itu kan kalau memang litologinya ada pelapisan. Di sini itu batuan beku yang stabil sebetulnya, cuma apakah ini mungkin tanah endapannya terlalu tebal sehingga ada proses penggerusan di dalam tanah yang memunculkan semacam gua di dalam tanah yang mengakibatkan ketahanan di permukaan menjadi berkurang," katanya.

Menurut dia, kemungkinan adanya mata air yang airnya merembes dan membuat tanah tergerus dan membentuk lubang juga perlu diteliti.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Banyumas Kresnawan Wahyu Kristoyo mengatakan penyediaan lahan untuk relokasi rumah warga bisa dilakukan oleh pemerintah desa setempat.

"Mengenai masalah pembangunan rumah dan sebagainya, kita bisa ajukan bantuan ke provinsi," katanya.

Berdasarkan data pemerintah, ada 20 rumah warga Dusun Semaya yang terdampak pergerakan tanah, lima di antaranya mengalami kerusakan dan 15 lainnya dalam kondisi terancam rusak.

Pergerakan tanah antara lain menyebabkan sebagian tembok rumah Casan Efendi retak-retak.

Selain itu, menurut Casan, muncul lubang berukuran panjang lebih kurang 10 meter, lebar dua meter, dan kedalaman tiga meter di bawah lantai ruang tamu rumahnya.

"Lubang yang memanjang dari ruang tamu hingga kamar mandi ini muncul sejak adanya tanah bergerak," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓