Gunung Ili Lewotolok Naik Status Siaga, Pemkab Lembata Perpanjang Masa Tanggap Darurat

Oleh Dionisius Wilibardus pada 16 Des 2020, 11:32 WIB
Diperbarui 16 Des 2020, 12:24 WIB
Pengungsi erupsi gunung Ili Lewotolok berada di kema pengungsian halaman kantor perpustakaan Kabupaten Lembata. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)
Perbesar
Pengungsi erupsi gunung Ili Lewotolok berada di kema pengungsian halaman kantor perpustakaan Kabupaten Lembata. (Liputan6.com/ Dionisius Wilibardus)

Liputan6.com, Lembata - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperpanjang masa tanggap darurat terkait peningkatan status Gunung Ili Lewotolok menjadi Siaga. Setelah Pemkab Lembata mendapat rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Status tanggap darurat ini dimulai sejak pascaerupsi gunung berapi Ili Lewotolok, 29 November 2020 hingga Sabtu 12 Desember 2020. Kemudian, diperpanjang lagi hingga 26 Desember 2020.

PVMBG memberikan data terkini bahwa Gunung Ili Lewotolok masih mengeluarkan material vulkanik setiap hari.

"Betul, status tanggap darurat bencana erupsi Gunung Ili Lewotolok diperpanjang sampai tanggal 26 Desember 2020. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi," kata Kepala Pelaksana BPBD Lembata Kanis Making, kepada media Liputan6.com, Selasa (15/11/2020) malam.

Ia mengatakan bahwa perpanjangan masa tanggap darurat bencana tersebut akan berlangsung selama 2 pekan sambil melihat kondisi Gunung Ili Lewotolok yang hingga saat ini masih terus mengeluarkan material vulkaniknya.

"Ya sesuai dengan aturannya, masa tanggap darurat ini 2 minggu. Tetapi kita lihat lagi kondisi di lapangan, kalau memang dalam perjalanan oleh PVMBG dinyatakan status Gunung Ili Lewotolok turun dari siaga ke waspada maka masa tanggap daruratnya akan dicabut," katanya.

Kanis Making mengatakan bahwa hingga saat ini jumlah pengungsi yang masih berada di lokasi pengungsian dan di rumah-rumah keluarga di Lembata, NTT mencapai 8.097 ribu jiwa.

Sementara pengungsi yang ditampung oleh Pemda di 20 titik lokasi pengungsian hanya mencapai 3 ribuan pengungsi.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa mereka yang masih di lokasi pengungsian itu adalah warga yang rumah mereka berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) baik itu KRB 2 kilometer, maupun KRB 4 kilometer.

"Oleh karena itu mereka belum bisa dipulangkan ke desa masing-masing," katanya.

Sementara itu, laporan dari pos pemantauan Gunung Ili Lewotolok, Lembata, NTT terhitung sejak pukul 06.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita, jumlah letusan yang terjadi di puncak gunung Ili Lewotolok mencapai 3 kali letusan, amplituda 25-28 mm, durasi 28 detik, jumlah embusan 38 kali kejadian, amplitudo 2-18 mm, durasi 10-25 detik, sedangkan microtremor/tremor menerus dengan amplituda 1-5 mm, amp dominan 1 mm  dan mengeluarkan asap berwarna putih kelabu setinggi 200-300 meter disertai dengan gemuruh dentuman lemah dan sedang.

Ia mengharapkan agar masyarakat di sekitar Gunung Ili Lewotolok dan pengunjung, pendaki, wisatawan agar tidak berada dan tidak melakukan pendakian, serta tidak beraktivitas dalam zona perkiraan bahaya di dalam area kawah Gunung  Ili Lewotolok dan di seluruh area dalam radius 4 km dari puncak pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak juga video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓