BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Priangan Timur Capai 5 Persen, Apa Pendorongnya?

Oleh Jayadi Supriadin pada 10 Des 2020, 02:30 WIB
Diperbarui 10 Des 2020, 02:30 WIB
Beberapa narasumber tengah mendengarkan penjelasan mantan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti dalam pemaparan pertumbuhan ekonomi di saat pandemi Covid-19 di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Perbesar
Beberapa narasumber tengah mendengarkan penjelasan mantan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti dalam pemaparan pertumbuhan ekonomi di saat pandemi Covid-19 di Tasikmalaya, Jawa Barat. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Liputan6.com, Tasikmalaya - Meskipun di tengah badai pandemi Covid-19, Bank Indonesia Perwakilan Tasikmalaya, Jawa Barat, menargetkan angka pertumbuhan ekonomi wilayah Priangan Timur tahun depan, tumbuh di angka 5 persen.

Beberapa sektor seperti pertanian, perdagangan, dan pariwisata, ikut andil menambah kinerja positif pertumbuhan ekonomi pada 2021 mendatang.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya Darjana, mengatakan terus membaiknya laju pertumbuhan ekonomi kuartal akhir tahun ini, terutama saat pandemi Covid-19 masih mewabah, diprediksi terus berlanjut hingga tahun depan.

Adanya penerapan kebijakan yang selaras antara pendekatan kesehatan dan ekonomi, ujar dia, berdampak positif terhadap perbaikan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, terutama sejak triwulan III 2020.

"Terjadi pengurangan kontraksi dari -5,98% menjadi -4,08% (yoy)," ujar dia dalam Webiner Bersinergi Membangun Pertumbuhan Ekonomi Priangan Timur, Selasa (8/12/2020).

Saat ini, kontribusi pertumbuhan ekonomi Priangan Timur terhadap perekonomian Jawa Barat, berkisar 5 persen, sedangkan laju pertumbuhan ekonomi Priangan Timur berkisar sekitar 5,57 persen atau lebih tinggi dibanding Provinsi Jawa Barat sebesar 5,07 persen (yoy).

Beberapa sektor yang menyokong ekonomi di Priangan Timur yakni sektor pertanian 25 persen serta perdagangan 21 persen, termasuk UMKM). Sektor ini mampu bertahan terutama saat pandemi Covid-19 berlangsung.

"Kinerja produksi pertanian masih tinggi dan UMKM memiliki potensi untuk pulih secara cepat," ujarnya.

Saat ini, sekitar 57,3 persen struktur ekonomi ditentukan oleh tingkat konsumsi swasta dan konsumsi rumah tangga. Hal ini sejalan dengan stimulus ekonomi yang tepat sasaran, dalam mendukung percepatan pemulihan ekonomi akibat Covid-19.

Darjana menyatakan, berdasarkan survei dunia usaha dan Liaison, kinerja usaha pada awal triwulan IV menunjukkan tren positif dan tetap bertahan hingga akhir tahun ini.

Lembaganya mencatat, inflasi bulanan Kota Tasikmalaya pada November 2020 tercatat 0,27% (mtm), meningkat secara rendah dan terkendali.

Sedangkan, inflasi tahunan sebesar 1,82% (yoy) dan inflasi tahun berjalan sebesar 1,35% (ytd). "Ini merupakan yang terendah dalam 10 tahun terakhir," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Sinergitas Semua Pihak

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Tasikmalaya Darjana tengah memberikan penjelasannya di depan wartawan, di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Perbesar
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Tasikmalaya Darjana tengah memberikan penjelasannya di depan wartawan, di Tasikmalaya, Jawa Barat. (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Darjana mengaatakan, meskipun secara menyeluruh ekonomi nasional terpuruk, tetapi khusus di wilayah Priangan Timur, sinergitas Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui program ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif, mampu menekan inflasi.

"Di bulan Desember, kita perlu tetap memantau perkembangan harga," kata dia.

Beberapa komoditas yang berpotensi memberikan tekanan pada inflasi yakni telur, daging ayam ras, serta bawang merah, sehubungan dengan meningkatnya permintaan menjelang akhir tahun, sementara pasokan terbatas saat musim hujan.

Namun, meskipun demikian, Darjana menilai stabilitas sistem keuangan Priangan Timur masih terjaga. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga sebesar 32,51 persen (yoy), kemudian penyaluran kredit tumbuh 4,57 persen (yoy), mampu diikuti rasio NPL yang terkendali pada level 2,95 persen.

"Suku bunga 7 Days Reverse Repo Rate Bank Indonesia sebesar 3,75 persen, merupakan paling rendah dalam sejarah," kata dia.

Rendahnya acuan suku bunga tersebut, ujar dia, mampu mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat terutama dari sisi suplai.

Selain itu, kelancaran sistem pembayaran tunai dan non-tunai di Priangan Timur tetap terpelihara dengan baik. "Pada triwulan IV (sampai dengan November 2020), kecukupan uang rupiah terjaga," kata dia.

Hal itu diperkuat dengan tingginya penyaluran dana Bantuan Sosial Tunai bagi masyarakat, untuk mendorong konsumsi rumah tangga di Priangan Timur, terutama saat pandemi Covid-19.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓