Tiba-Tiba Tanah Bergerak dan Rumah Retak, 710 Orang Dievakuasi di Purbalingga

Oleh Rudal Afgani Dirgantara pada 04 Des 2020, 12:30 WIB
Diperbarui 04 Des 2020, 12:30 WIB
Sebanyak 710 orang di Purbalingga, Jawa Tengah diungsikan karena terjadi gerakan tanah yang merusak rumah dan berbahaya. (Foto: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara)
Perbesar
Sebanyak 710 orang di Purbalingga, Jawa Tengah diungsikan karena terjadi gerakan tanah yang merusak rumah dan berbahaya. (Foto: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara)

Liputan6.com, Purbalingga - Kamis malam (3/12/2020) warga Dusun Pagersari, Kecamatan Pengadegan Purbalingga geger setelah tembok rumah mereka retak. Setelah memeriksa retakan tembok itu, warga menemukan ada retakan tanah. Spontan mereka mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman.

Pihak desa berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Pengadegan. Hasilnya, warga dievakuasi di dua tempat, pertama di masjid Pagersari dan kedua di gedung SDN 2 Tumanggal.

"Pemerintah desa bersama Forkopimcam mengevakuasi warga sejak jam 00.00 sampai jam 03.00," kata Kapolsek Pengadegan, AKP Susilo, menjelaskan dampak tanah bergerak itu.

Dari data di lapangan, ada 165 rumah yang terdampak bencana tanah bergerak di Tumanggal. Sementara warga yang mengungsi berjumlah 214 KK yang terdiri dari 710 jiwa.

Susilo mengatakan, pergerakan tanah terus terjadi. Kondisi ini membuat rumah-rumah warga tak aman lagi untuk ditinggali.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Penelitian Ahli Geologi

Sebanyak 710 orang di Purbalingga, Jawa Tengah diungsikan karena terjadi gerakan tanah yang merusak rumah dan berbahaya. (Foto: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara)
Perbesar
Sebanyak 710 orang di Purbalingga, Jawa Tengah diungsikan karena terjadi gerakan tanah yang merusak rumah dan berbahaya. (Foto: Liputan6.com/Rudal Afgani Dirgantara)

"Tadi pagi kami amati rekahan tanah baru selebar satu senti, sekarang sudah lima senti," ujar Susilo.

Kapala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purbalingga, Umar Faozi, menjelaskan, retakan tanah dipicu hujan lebat beberapa hari terakhir. Karakter tanah diduga mendukung tanah bergerak di Pagersari.

"Kami akan konsultasikan dengan pakar geologi Unsoed untuk menganalisis penyebab dan solusinya," ucapnya.

BPBD, personel TNI-Polri dan unsur relawan membangun dua dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengungsi. Sejauh ini, logistik masih cukup untuk kebutuhan satu hingga dua hari ke depan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓