Ketika Eksistensi Alay Merusak Keindahan 'Pohon Pelangi' Endemik TN Lore Lindu

Oleh Heri Susanto pada 23 Nov 2020, 06:00 WIB
Diperbarui 23 Nov 2020, 06:00 WIB
vandalisme yang merusak keindahan pohon Leda di TN Lore Lindu
Perbesar
Sejumlah jurnalis melihat pohon Leda di objek wisata alam Telaga Tambing yang jadi objek vandalisme yang merusak keindahan pohon endemik TN Lore Lindu itu. Minggu (15/11/2020). (Foto: Liputan6.com/ Heri Susanto).

Liputan6.com, Poso - Di antara kekayaan hayati di Taman Nasional Lore Lindu, Pohon Leda menjadi salah satu yang unik karena corak dan warnanya yang khas. Namun sayang vandalisme pengunjung di TN Lore lindu kini justru merusak keindahan pohon berstatus endemik sulawesi itu.

Pernahkah Anda melihat pelangi di pohon? Jika belum, maka anda harus berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu, khususnya di objek wisata alam Telaga Tambing di Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Suawesi Tengah.

Di kawasan konservasi 1.700 MDPL itu Anda akan takjub dengan barisan pohon berwarna-warni yang menjulang di tepi sebelah timur Telaga. Sekilas, warna-warni alami di batang pohon yang berjejer di camping ground wisata alam itu seperti sengaja dicat. Nama pohon itu Leda, pohon endemik yang disebut hanya bisa ditemui di tiga daerah di Indonesia.

“Dia (Leda) hanya bisa dijumpai di hutan Papua, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Dia juga hanya bisa tumbuh pada kelembaban tinggi,” Kepala Resort Tongoa Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL), Asdi Soiyong menjelaskan, Minggu (15/11/2020) di objek wisata alam Telaga Tambing.

Sayang, keberadaan pohon pesolek itu kini justru menjadi objek eksistensi diri yang alay oleh pengunjung objek wisata tersebut. Tulisan nama, curhatan, hingga kisah asmara mejeng di batang-batang Leda dan merusak keindahannya.

Tidak hanya vandalisme, sebagian pengunjung malah kerap leyeh-leyeh dengan hammock yang mereka gantung di antaran deretan pohon eksotik itu. Padahal dua aktivitas itu jelas-jelas melanggar aturan yang dimuat dalam papan informasi di pos masuk kawasan itu.

“Kami malah sudah pasang papan informasi larangan corat-coret tepat di sebelah pohon leda terbesar di sini. Hanya saja banyak yang bandel. Kami menyayangkan itu,” keluh Herman Sasia, Kepala Seksi Wilayah III Tongoa BBTNLL.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Konservasi Leda untuk Ekosistem TN Lore Lindu

vandalisme yang merusak keindahan pohon Leda di TN Lore Lindu
Perbesar
Seorang jurnalis melihat pohon Leda di objek wisata alam Telaga Tambing yang jadi objek vandalisme yang merusak keindahan pohon endemik TN Lore Lindu itu. Minggu (15/11/2020). (Foto: Liputan6.com/ Heri Susanto).

Pohon yang bisa mencapai tinggi 40 meter itu menurut World Conservation Monitoring Centre (1992), berada dalam status terancam punah karena pembatasan regenerasi, penebangan, dan pembukaan lahan.

Sebab itu juga konservasi tengah dilakukan oleh pihak BBTNLL dengan penyemaian bibit dan penanaman pohon yang indah itu di sekitar Telaga Tambing sejak bulan Oktober 2020.  

Pohon Leda di kawasan Taman Nasional Lore Lindu sendiri selama ini punya banyak fungsi. Statusnya yang endemik berpotensi mengundang wisatawan dan peneliti untuk melihat keunikannya dari dekat.

Sedangkan untuk menjaga ekosistem, pohon bernama ilmiah Eucalyptus deglupta dengan pertumbuhannya yang cepat itu digunakan untuk rehabilitasi dan konservasi kawasan TN Lore Lindu yang rusak. Pun bagi fauna endemik Telaga Tambing. Leda adalah rumah bagi burung-burung pengicau.

Kepala balai besar taman nasional lore lindu (BBTNLL), Jusman, menilai kenakalan sebagian pengunjung itu justru berlawanan dengan upaya konservasi itu dan akan menjadi bagian dari evaluasi pengelolaan objek wisata alam yang juga bagian cagar biosfer tersebut. Pembatasan pengunjung demi upaya konservasi dan keberlangsungan ekosistem di kawasan itu akan jadi pertimbangan utama.

“Sebelum ditutup karena pandemi kawasan ini (telaga tambing) kerap kelebihan pengunjung hingga 3.000 orang padahal daya dukung lahan hanya cukup untuk 1.000, tentu itu berdampak pada ekosistem di sini. Perlahan pembenahan kami lakukan,” kepala BBTNLL, Jusman mengevaluasi, Minggu (15/11/2020) di objek wisata alam Telaga tambing.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓