Kelangkaan Pupuk di Bangkalan: Rampung di Hilir, Macet di Hulu

Oleh Musthofa Aldo pada 09 Nov 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 09 Nov 2020, 08:29 WIB
Stok Pupuk Bersubsidi 2020 Cukup, Realisasi Penyaluran Masih Sangat Rendah
Perbesar
Pupuk bersubsidi di Kabupaten Ciamis.

Liputan6.com, Bangkalan - Kritik tajam publik ihwal kelangkaan pupuk bersubsidi yang bikin hidup petani ruwet makin tajam akhir-akhir ini.

Bahkan hingga sepekan, pasca-DPRD Bangkalan memanggil para pihak mulai dari pengecer, agen, distributor pupuk hingga penyuluh serta pejabat Dinas Pertanian, zat kimia penyubur tanaman itu tetap masih sulit didapatkan.

Merespons situasi pelik itu, para Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) se-Kabupaten Bangkalan berkumpul guna mencari tahu akar masalah yang memicu pupuk langka, karena banyak petani di desa mengeluhkannya.

Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kamal, Syamsul Arifin mengatakan keluhan petani yang bertubi itu direspons dengan menginstruksikan seluruh pengurus PAC turun lapangan. Mereka meng-croscek stok pupuk di tiap-tiap desa, baik ke pengecer, agen hingga distributor.

"Hasilnya, pupuk memang kosong. Bahkan di gudang penyangga kabupaten pun tak ada pupuk, khususnya jenis urea," kata dia.

Fakta itulah yang kemudian dibawa ke dalam rapat yang digelar Minggu siang, 8 November 2020. Mereka berkesimpulan langka pupuk bukan lagi soal ketiadaan pengajuan data kebutuhan pupuk dari petani seperti diduga sebelumnya. Melainkan juga akibat tersendatnya pengiriman pupuk dari produsen PT Petro Kimia.

"Maka kami mendesak, agar produsen pupuk PT Petro Kimia segera menyalurkan pupuk sesuai kebutuhan yang diajukan petani. agar masalah ini tak berlarut-larut, kasihan petani," Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Socah, Abdul Aziz menambahkan. 

2 dari 3 halaman

Bermula Dari Program Kartu Tani

GP Ansor Bangkalan
Perbesar
Sejumlah pengurus PAC GP Ansor Kabupaten Bangkalan berkumpul untuk membahas kelangkaan pupuk di kota itu.

Semula dikira, kelangkaan pupuk yang tidak hanya terjadi di Kabupaten Bangkalan itu, disebabkan keterlambatan pengajuan kebutuhan pupuk oleh petani ke distributor.

Alasan ini muncul setelah program kartu tani, sebagai alat resmi pembelian pupuk, gagal diterapkan tahun ini karena kendala pencetakan kartu serta tak kunjung rampungnya pendataan petani.

Atas situasi itu, Dinas Pertanian Bangkalan memberi kelonggaran pengajuan kebutuhan pupuk lewat mekanisme pengisian formulir manual lewat masing-masing kelompok tani.

Solusi alternatif ini pun memicu gejolak baru karena hingga masuk musim tanam, banyak kecamatan belum menyetor kebutuhan pupuknya. Kondisi ini memaksa Komisi B DPRD Bangkalan memanggil para pihak agar segera merampungkan pengajuan kebutuhan pupuk tersebut.

Namun setelah pengajuan itu rampung, pupuk rupanya tetap langka sampai hari ini. GP Ansor kemudian menelusuri masalah itu dan terungkaplah bahwa kelangkaan pupuk bukan hanya soal pengajuan yang lamban tapi pengiriman pupuk dari produsen pun lemot.

"Makanya, kami mendesak PT Petro Kimia agar secepatnya mengirimkan kebutuhan pupuk. Kasian petani, mereka sudah saatnya memupuk tanamannya agar tak gagal panen," ungkap Arifin, Ketua PAC GP Ansor Kamal.

Kepala Dinas Pertanian Bangkalan, Puguh Santoso belum dapat dikonfirmasi soal temuan GP Ansor ini. Namun dalam sebuah salinan surat tertanggal 6 Oktober 2020. Puguh Santoso telah mengajukan surat permohonan pengiriman pupuk yang ditujukan ke PT Petrokimia Gresik.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓