Perpusnas Umumkan 6 Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional 2020

Oleh Liputan6.com pada 23 Okt 2020, 18:53 WIB
Diperbarui 23 Okt 2020, 18:54 WIB
Pemilihan Pustakawan Berprestasi
Perbesar
Kepala Perpustakaan Muhammad Syarif Bando saat membuka Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional yang digelar virtual, Senin (19/10/2020). (Liputan6.com/ Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Perpustakaan Nasional baru saja mengumumkan 6 pustakawan terbaik, yang mewakili daerahnya masing-masing, dalam ajang Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional 2020. 

Pustakawan asal DKI Jakarta, Eka Meifrina Suminarsih terpilih sebagai juara pertama. Pustakawan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ini mengusung inovasi 'Knowledge Management System'. Sementara juara kedua diraih Atin Istiarni (Jawa Tengah), pustakawan Universitas Muhammadiyah Magelang yang mengusung inovasi 'Kemas Ulang Informasi Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (KUI KIMMI)'. Sedangkan juara ketiga diraih Rizka Pratiwi (Jawa Timur), pustakawan STKIP Al Hikmah Surabaya yang mengusung 'Laskar Literasi (Program Kolaborasi Pustakawan dan Mahasiswa Mewujudkan Masyarakat Berliterasi)'.

Sementara juara harapan pertama diraih pustakawan Meri Susanti (Bengkulu) dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu, juara harapan kedua diraih pustakawan Yosefa Silaen (Kalimantan Utara) dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Utara, dan juara ketiga diraih Zulfa Kurniawan (DI Yogyakarta) dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DIY.

Sebelumnya, Perpustakaan Nasional RI menggelar lomba Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2020, yang diikuti 32 pustakawan terbaik di Indonesia yang mewakili setiap provinsi. Proses pemilihan berlangsung pada 18-23 Oktober secara virtual meliputi tes kognitif, presentasi, sekaligus wawancara. Pengumuman pemenang dilakukan di Jakarta dan disiarkan secara daring, Jumat (23/10/2020).

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menyatakan selamat kepada juara dan para peserta. Menurutnya, seluruh peserta merupakan para pemenang, khususnya di bidang kepustakawanan dan berhasil menunjukkan eksistensinya sebagai pustakawan. Karenanya, Syarif Bando kembali menekankan bahwa kreativitas dan inovasi harus terus dilakukan dan kembangkan.

Saat ini, daya saing SDM di Indonesia di wilayah Asia Tenggara (ASEAN) berada di peringkat keempat, di belakang Singapura, Malaysia, dan Thailand. Bahkan dokumen Global Competitive Report 2019 yang diterbitkan World Economic Forum, menyimpulkan daya saing SDM Indonesia berada di posisi 50.

"Kekuatan Indonesia yang paling besar adalah pasarnya yang sangat besar dan ekonomi makro yang stabil. Pada indikator yang lain, Indonesia masih bisa untuk lebih berkembang. Kemudian laporan ini juga menerangkan bahwa Indonesia memiliki tingkat adaptasi teknologi yang cukup tinggi. Namun, kapasitas inovasi terbatas meski terus meningkat. Hal yang perlu kita cermati adalah pasar yang besar, adaptasi teknologi dan kapasitas inovasi,” katanya.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Daya Saing Manusia Indonesia

Menurut Syarif, perpustakaan dan pustakawan bisa memainkan peran dalam meningkatkan daya saing manusia Indonesia. Perpustakaan harus mampu merangsang kreativitas dan inovasi masyarakat di sekitarnya. Ini bisa dilakukan melalui program yang diusung Perpusnas, yakni transformasi perpustakaan. Perpustakaan harus bisa menjadi sumber informasi, tempat untuk berdiskusi dan bertumbuh, serta perpustakaan harus menyediakan alat-alat untuk mendukung kreativitas.

"Sebagaimana yang kita tahu bahwa perpustakaan adalah sumber informasi, namun yang perlu kita jaga adalah bagaimana manajemen koleksi harus berbasis data dan sesuai kebutuhan serta potensi pengembangan masyarakat, bagaimana pengetahuan lokal dikelola, dan melakukan transfer pengetahuan tersebut," tuturnya.

Syarif Bando berharap para peserta menjadi agen perubahan di bidang perpustakaan dan kepustakawanan. Para peserta didorong memiliki kemampuan mengidentifikasi dan menganalisa kondisi masyarakat serta tren perkembangan. "Pustakawan mentransformasi perpustakaannya untuk menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat atau pemustaka,"pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pustakawan Opong Sumiati dalam laporannya menyatakan, biasanya lomba diadakan pada Agustus. Namun tahun ini, pelaksanaan lomba mundur dari jadwal yakni Oktober karena diharapkan selesai Covid-19.

"Ternyata masih berlangsung, sehingga dilaksanakan secara daring. Semoga tahun depan bisa dilaksanakan seperti biasa kembali," tuturnya.

Hadiah berupa uang dengan total puluhan juta rupiah untuk para pemenang diberikan secara simbolis melalui dewan juri.

 

3 dari 3 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓