Buntut Penganiayaan di Besipae, Warga Laporkan Pegawai Pemprov NTT

Oleh Ola Keda pada 18 Okt 2020, 05:00 WIB
Diperbarui 18 Okt 2020, 05:00 WIB
Konflik Besipae
Perbesar
Foto: Warga Besipae yang menjadi korban penganiayaan saat membuat laporan polisi di Polda NTT (Liputan6.com/Ola Keda)

Liputan6.com, Kupang - Kasus penganiayaan di Desa Pubabu-Besiape Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga dilakukan sejumlah pegawai Pemerintah Provinsi NTT akhirnya dilaporkan ke Polda NTT.

“Kami sudah laporkan kasus penganiayaan dan pengeroyokan ke Polda NTT," ujar kuasa hukum warga Pubabu-Besipae, Ahmad Bumi kepada wartawan, Sabtu (17/10/2020).

Pihaknya melaporkan sejumlah oknum yang diduga melakukan penganiyaan terhadap ibu-ibu dan anak-anak di Pubabu.

“Kami tidak tahu siapa pelakunya. Yang kami tahu orang dari provinsi yang terlibat dalam kasus penganiayaan itu,” ucapnya.

Walaupun telah melapor ke Polda NTT, menurut dia belum dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Sebab, anak-anak yang menjadi korban penganiayaan masih trauma. Sedangkan ibu Damaris yang sempat pingsan, hingga kini belum stabil kondisinya.

“Belum di-BAP, kami masih menunggu panggilan dari Polda NTT untuk itu,” ujarnya.

 

2 dari 3 halaman

Pemprov Bantah Aniaya Warga

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah warga Pubabu-Besipae dan Sat Pol PP serta sejumlah pegawai Pemprov NTT terlibat bentrok.

Akibatnya seorang ibu bernama Damaris pingsan dan anak-anak dibanting oleh orang diduga pegawai Pemrpov di lokasi kejadian.

Namun, Plt Badan Pendapatan dan Aset Daerah, Welltly Rohi Mone membantah aksi penganiyaan itu, dan mengaku stafnya yang menjadi korban penganiyaan.

“Kepala staf saya benjol dipukul oleh ibu-ibu di sana. Kami sudah lapor kasus itu ke polisi,” ucap Wellty.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓