Kisah-Kisah Putra Daerah Indonesia Mewarnai Dunia

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 21 Agu 2020, 21:00 WIB
Diperbarui 21 Agu 2020, 21:34 WIB
buku launching
Perbesar
Launching virtual buku “The Covid 19 Stories from 19 Countries”. (foto: Liputan6.com / edhie prayitno ige)

Liputan6.com, Semarang - Namanya Eva Reinhard. Ia lahir di Magelang, dibesarkan dan mendewasa di Palu, Sulawesi Tengah, dan kini bermukim di Jerman. Ia galau ketika tiket mudiknya beridulfitri terancam hangus. 

Emosinya menjadi tak stabil. Aroma rempah dalam kuah opor terus menusuk-nusuk imajinasi syaraf pembauannya. Apa daya, dunia mulai panik. Pandemi covid-19 mulai menancapkan cakarnya di peradaban manusia.

Itulah sepenggal kisah dari Jerman. Kisah ini termuat dalam buku “The Covid 19 Stories from 19 Countries”. Seperti judulnya, buku ini memuat 19 cerita dari 19 negara seputar pandemi Covud 19.

"Benar-benar shock ketika usai karnaval kasus meningkat pesat. Karena kami berada di sana. Lalu bagaimana dengan tiket kami?" kata Eva.

Kisah Eva cukup menggemaskan karena pembaca menjadi bertanya-tanya apakah tiket Eva pada akhirnya hangus atau tidak. Bagaimana Eva mengelola emosinya?

Tak kalah menarik adalah kisah dari seorang biarawan di pedalaman Afrika. Namanya Kornelius Glosanto. Ia menjadi bruder dalam kongregasi FIC dan akhirnya menjadi tumpuan informasi seputar wabah covid-19 tersebut.

“Susahnya, di pedalaman ini akses internet untuk informasi sangat sulit. Bahkan listrik saja di Dusun Mongo Bendugu tempat saya ini hanya kami yang memiliki genset untuk listrik,” kata Bruder Kornel kepada Liputan6.com.

Ketika ditawari untuk menuliskan kisahnya, Kornel sangat antusias. Ia tak membayangkan kesulitan yang akan terjadi. Tiap hari ia membuka laman wordlmeter.info untuk memperbarui pengetahuannya. Kadang laman tersebut diakses sambil memberi makan ayam-ayam milik kongregasi.

“Di kandang ayam itu sinyalnya bagus,” katanya.

Tak hanya itu, setelah tulisan dan foto-foto berhasil dikumpulkan, Bruder Kornel berniat mengirimkan tulisannya ke editor di Indonesia. Celakanya, saat itu jaringan internet di dusunnya tak bisa untuk mengirim data. Ia harus menuju ke kota terdekat.

“Kota terdekat adalah Kota Kabala itu Ibu Kota Distrik Koinadugu. Dari dusun kami sekitar 3 jam perjalanan pada musim kemarau, kalau musim hujan bisa lebih,” katanya.

Ia bersama para biarawan lain menuju kota Kabala, tentu dengan kepentingan yang tak hanya satu. Di perjalanan, mereka masih harus menguras persediaan kesabaran. Ada jembatan yang putus, dan warga membuat jembatan darurat.

“Macet akibat jembatan itu 6 jam berangkat dan 6 jam pulang. Jadi total saya mengirim naskah untuk buku covid-19 ini butuh waktu 15 jam perjalanan. Ha ha ha,” kata Kornel.

 

2 dari 3 halaman

Pohon yang Kesepian

buku launching
Perbesar
Pemandangan di dusun Mongo Bendugu di pedalaman Sierra Leone, Afrika (foto:Liputan6.com/dok.pribadi/edhie prayitno ige)

Beda dengan kisah Novia Aruma, pekerja migran dari Lumajang Jawa Timur. Ia yang aktif dalam lembaga advokasi pekerja migran menjadi sibuk memastikan para pekerja migran Indonesia di Singapura terpenuhi hak-haknya selama masa pandemi.

Novia mengaku sering kesepian dan mencipta puisi atas situasi ini. Ia menyempatkan diri menulis kisahnya untuk dikirimkan.

“Ada sebatang pohon di Botanical Garden yang menjadi semacam landmark. Itulah pohon legendaris, penanda tempat berkumpulnya para pekerja migran Indonesia diluar jam kerja. Dan kini, pohon itu sendirian, terlihat kesepian akibat pandemi covid 19,” kata Novia.

Kisah-kisah inilah yang bisa dibaca di buku “The Covid 19 Stories from 19 Countries”. Liputan6.com menganggap buku ini bisa menjadi sumber inspirasi. Baik secara penanganan maupun kisah-kisah humanismenya.

Masih ada kisah-kisah lain yang bahkan konyol dan lucu, reflektif dan penuh renungan, hingga yang memancing emosi.

Harun Mahbub, redaktur pelaksana Liputan6.com dan editor buku  ini menyebut bahwa ini akan menjadi catatan penting di masa mendatang. Jika dikembangkan, masing-masing kisah bisa menjadi novel berjilid-jilid.

“Saya mengajak mbak Indah Morgan yang ada di Cina untuk mengkoordinir para diaspora. Kemudian bersama Gerakan Kebaikan Indonesia, kami berbagi kisah bahwa manusia-manusia Indonesia dimanapun tempatnya, tetap saja mewarnai kehidupan di lingkungannya,” kata Harun.

Buku ini akan diluncurkan secara resmi pada Sabtu 22 Agustus 2020 secara virtual, live di Liputan6.com dan Vidio.com. Publik bisa bergabung untuk menyaksikan peluncuran buku ini dan mendengarkan kisah-kisah kemanusiaan di balik penerbitan buku ini mulai jam 16.00 WIB.

3 dari 3 halaman

Simak video berikut

Lanjutkan Membaca ↓