Curhat Pilu Korban Banjir Konawe, Mau Tak Mau Jual Murah Gabah ke Tengkulak

Oleh Ahmad Akbar Fua pada 26 Jul 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 26 Jul 2020, 18:00 WIB
Banjir Konawe, merendam rumah warga hingga setinggi 2 meter.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)
Perbesar
Banjir Konawe, merendam rumah warga hingga setinggi 2 meter.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Liputan6.com, Konawe - Korban banjir Konawe sudah 11 hari menempati tenda pengungsian sejak 13 Juli 2020. Menginap hampir dua pekan dalam tenda, pengungsi yang sebagian besar bertani, kebanyakan sudah menjual hasil panen mereka.

Dari pengakuan para petani, mereka menjual gabah dengan harga murah. Gabah ini, biasanya dijual ke tengkulak atau pabrik penggilingan di wilayah Konawe dan Konawe Selatan.

Ketut Wirawan, salah seorang petani di Desa Ambulanu Konawe Utara mengatakan, rata-rata tengkulak atau pengumpul membeli gabah dengan harga Rp3.800 hingga Rp4.000.

"Kalau gabah kering, petani kasih harga maksimal. Tapi karena hujan ini, kebanyakan harga gabah dipotong," ujar Ketut Wirawan.

Dia menjelaskan, sebelum banjir Konawe, sebagian besar petani sudah panen. Mereka berbondong-bondong menjual gabahnya ke penampung.

Gabah ditempatkan dalam ukuran karung 50 kilogram hingga 115 kilogram sebelum ditimbang. Rata-rata, tengkulak memotong volume gabah mulai dari tiga kilogram hingga 10 kilogram perkarung.

"Tapi, itu terserah kesepakatan antara tengkulak dan petani," ujarnya.

Agus Salim, petani lainnya mengatakan, mereka tak bisa banyak memilih. Sebab, sudah ada pembeli yang kerap datang saat panen usai.

"Petani butuh uang cepat begitu selesai panen. Jadi, harus dijual cepat meskipun harus dipotong," ujar Agus Salim.

Dia mengatakan, pembeli yang datang di kampung mereka juga akan mengalami hal yang sama saat sudah menjual gabah padi di pabrik penggilingan. Disana, gabah masih akan dipotong lagi.

"Jadi, di kampung sudah dipotong memang. Di pabrik juga dipotong," jelasnya.

Banjir Konawe yang terjadi sejak 13 Juli 2020 menyebabkan 14.298 jiwa terdampak. Hingga Minggu (26/7/2020), warga masih bertahan di pengungsian yang dibangun di sekitar perkampungan.

2 dari 3 halaman

Banjir Rendam 67 Desa

Pengungsi di bangsal darurat di Kabupaten Konawe, menampung korban banjir Konawe.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)
Perbesar
Pengungsi di bangsal darurat di Kabupaten Konawe, menampung korban banjir Konawe.(Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Banjir Konawe merendam 67 desa dan 19 kecamatan yang tersebar di sekitar Sungai Konaweeha. Hingga Sabtu (25/7/2020), banjir masih merendam hingga setinggi 2 meter pada sejumlah lokasi.

Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Konawe, Syamsul mengatakan, saat ini ada sebanyak 4.161 kepala keluarga terdampak. Sebagian besar, BPBD sudah menyalurkan bantuan berupa logistik.

"Ada dari lembaga pemerintah dan ada pula dari lembaga masyarakat," ujar Syamsul. Dia mengatakan, total jumlah pengungsi ada sebanyak 922 jiwa.

Mereka tinggal di tenda penampungan darurat dan rumah kerabat. Saat ini, pihak BPBD terus memantau potensi banjir dan pengungsi yang ada di Konawe Utara.

Desa paling parah yang terdampak paling berat yakni, Desa Laloika, Desa Ambulanu dan Desa Wonua Monapa. Ketiganya berada di Kecamatan Pondidaha.

"Ada juga sebagian desa yang masih terisolir," ujar Samsul.

Desa dimaksud yakni, Desa Aleuti Kecamatan Padangguni, Desa Nesomi Kecamatan Latoma dan Desa Lamerui Kecamatan Routa. Desa Lamerui, memiliki medan berat sehingga sulit diakses dan nyaris tak tersentuh.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓