Kisah Perjuangan Warga Duyu Menyulap Bukit Tandus Jadi Kebun Anggur

Oleh Heri Susanto pada 20 Jul 2020, 07:00 WIB
Diperbarui 20 Jul 2020, 07:00 WIB
kebun anggur Pua Mbaso Farm & Stone Garden
Perbesar
Warga pengelola kebun anggur Pua Mbaso Farm & Stone Garden sedang membantu seorang pengunjung memilih anggur yang akan dipetik. (Foto: Liputan6.com/ Heri Susanto).

Liputan6.com, Palu - Sebuah kebun anggur yang dikelola secara swadaya oleh kelompok masyarakat di Kelurahan Duyu, Kota Palu mendadak menjadi objek wisata favorit. Selain pengunjung bisa memetik sendiri, lokasi dan sebab munculnya agrowisata anggur itu punya cerita menarik.

Kebun anggur seluas satu hektare di Kelurahan Duyu, Kota Palu itu oleh warga setempat diberi nama 'Pua Mbaso Farm & Stone Garden'. Nama itu merujuk pada nama tokoh leluhur Warga Duyu serta kondisi lingkungan sekitar kebun yang banyak terdapat bebatuan cadas.

Akhir pekan selalu jadi saat terbaik bagi warga untuk menikmati waktu di lokasi di agrowisata yang terletak di perbukitan sebelah barat kota Palu itu. Terlebih, ratusan pohon anggur sejak dua pekan terakhir sedang berbuah ganti-berganti, lebat.

Ratusan orang berlomba memanen buah matangnya. Cukup membayar Rp60 ribu untuk satu kilogramnya, anggur langsung bisa dinikmati.

Di Palu, objek wisata yang menawarkan konsep agrowisata seperti itu adalah hal baru. Jika ingin memenuhi hasrat berwisata alam, pilihan selama ini hanya ada di luar Kota, seperti Sigi atau Donggala. yang jadi alternatif pilihan berwisata alam. Biasanya hasrat berwisata

“Selama ini kan di Palu tempat wisata yang kita tau hanya ada pantai, itupun banyak fasilitasnya yang rusak karena gempa. Kalau di sini selain sejuk, kita juga bisa langsung menikmati anggur,” kata Hariyanti, salah satu pengunjung kebun anggur Pua Mbaso Farm & Stone Garden, MInggu (19/7/2020).

2 dari 3 halaman

Lahan Nganggur untuk Kesejahteraan Warga Lokal

kebun anggur Pua Mbaso Farm & Stone Garden
Perbesar
pengunjung kebun anggur Pua Mbaso Farm & Stone Garden menyerahkan anggur petikannya ke penjaga untuk ditimbang sebelum dibawa pulang. (Foto: Liputan6.com/ Heri Susanto).

Kebun anggur itu sendiri adalah garapan kelompok warga RW 02 Kelurahan Duyu sejak tahun 2016 silam, setelah terbengkalai tahun 2018 karena bencana, ditahun 2019 warga kembali serius menggarapnya. 50 orang komunitas warga setempat berbagi peran mengelola agrowisata itu, dari merawat, menjaga, hingga menemani pengunjung memilih anggur.

Saat ini rata-rata pengunjung yang datang setiap akhir pekan bisa mencapai ratusan dengan jumlah buah yang dipetik pengunjung bisa mencapai 500 kilogram atau sekitar Rp15 juta jika diuangkan.

Iwan (50 th), inisiator kebun anggur Pua Mbaso Farm & Stone Garden menceritakan, dulunya lahan kebun itu tandus dan merupakan tempat penggembalaan ternak. Ketimbang tidak termanfaatkan, dia bersama warga lainnya mulai menanami dengan tanaman dan membuat green house agar anggur-anggur tumbuh.

“Dulu tandus di sini. kami berpikir supaya lahan yang nganggur ini bisa memberi manfaat bagi warga. akhirnya kami buat kebun ini dengan swadaya,” cerita iwan, Minggu (19/7/2020).

Iwan juga berharap, kesuksesan kebun ini bisa menjadi dorongan bagi komunitas warga lokal lainnya di Kota Palu, khususnya yang tinggal di sekitar lahan kosong dan menganggur berbuat serupa.

“Banyak lahan di Palu yang berstatus dihakgunakan tapi tidak dimanfaatkan, seperti yang kami tempati ini. Padahal jika dimanfaatkan bisa berpotensi mendatangkannilai ekonomi, bisa menyerap tenaga kerja warga lokal,” Iwan berharap.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan lainnya berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓