Hasil Uji Swab Terlambat Datang, Pasien Positif Covid-19 Keburu Menghilang

Oleh Liputan6.com pada 05 Jul 2020, 02:30 WIB
Diperbarui 05 Jul 2020, 02:31 WIB
thumbnail pasien kabur
Perbesar
thumbnail pasien kabur

Liputan6.com, Balikpapan - Pasien positif COVID-19, BPN-198, perempuan 43 tahun, dikabarkan kabur ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Saat yang bersangkutan meninggalkan Balikpapan, hasil uji swab yang menyatakan dirinya positif terpapar COVID-19 belum disampaikan.

"Ketika petugas kami ingin menyampaikan hasil swab tersebut, yang bersangkutan menghilang," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Balikpapan dr Andi Sri Juliarty, Sabtu.

BPN-198 adalah istri dari pedagang Pasar Pandansari yang meninggal pekan lalu, setelah mengalami komplikasi parah yang disebabkan COVID-19. Karena itu, istri maupun anak yang bersangkutan segera dites swab.

"Namun karena masih dalam suasana berduka, kami tidak bisa serta-merta melakukan uji swab itu," kata dr Juliarty. Baru 3 hari setelah pemakaman suaminya, istri dan anaknya menjalani uji usap tersebut sebagai bagian dari tracking untuk menghentikan penularan.

Setelah menjalani uji usap yang bersangkutan kemudian berhenti berjualan dan melakukan isolasi mandiri di rumah. Namun ketika petugas datang, yang bersangkutan kemudian sudah tidak ditemukan, dilansir Antara.

Pelacakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menemukan bahwa pasien ini sudah berada di Banjarmasin, 560 km barat daya Balikpapan, atau lebih kurang 10-12 jam perjalanan dengan mobil.

Keberadaan pasien tersebut juga sudah dilaporkan kepada gugus tugas di Banjarmasin.

"Agar segera ditemukan dan mendapat penanganan yang semestinya, karena yang bersangkutan positif terpapar COVID-19," kata Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi pada kesempatan yang sama.

Wali Kota Rizal menambahkan sementara ini belum diketahui, apakah Tim Gugus Tugas Banjarmasin sudah menemukan yang bersangkutan atau belum. "Kita masih menunggu laporan apakah sudah dapat atau belum," kata Wali Kota.

Kadinkes dr Juliarty juga menyatakan, pihaknya tidak punya kemampuan mengawasi setiap pasien terkait Covid-19, apalagi yang menjalani isolasi mandiri di luar rumah sakit secara penuh 24 jam.

Sama seperti mengenakan masker atau rajin cuci tangan, termasuk juga jaga jarak antarorang, menjalani isolasi adalah sepenuhnya kesadaran pribadi.

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓