Nasib Tragis Lepo Gete, Rumah Bersejarah Kerajaan Portugis di Sikka

Oleh Dionisius WilibardusOla Keda pada 04 Jul 2020, 08:00 WIB
Diperbarui 04 Jul 2020, 08:00 WIB
Warisan Sejarah
Perbesar
Foto: Lepo Gete, rumah raja peninggalan kerajaan Portugis di Desa Sikka, Kabupaten Sikka, NTT yang kondisinya memprihatinkan (Liputan6.com/Dion)

Liputan6.com, Sikka - Rumah raja Lepo Gete, merupakan salah satu rumah adat peninggalan Portugis yang berada di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, NTT.

Dalam bahasa Sikka, Lepo Gete berarti rumah yang ditempati orang besar, seperti Raja Sikka sehingga sering disebut dengan istana raja. Selama masa penjajahan Portugis di abad ke-16 dan penjajahan Belanda pada abad ke-17, Lepo Gete merupakan istana kerajaan Sikka sekaligus menjadi pusat pemerintahan pada masa kerajaan Sikka.

Lepo Gete ini memiliki bentuk seperti rumah panggung dengan panjang dan lebar 20 x 15 meter dengan atap yang tinggi dan melancip. Lepo Gete ditopang oleh 25 kayu yang berasal dari pohon lontar yang diletakkan secara memanjang dan beratapkan ilalang.

Berada persis di bibir pantai selatan, Lepo Gete warisan kerajaan ini hancur ditelan ganasnya ombak pantai selatan. Niat baik pemerintah Kabupaten Sikka membangunnya kembali membuat Lepo Gete bisa disaksikan generasi muda saat ini. Meski tidak sesuai aslinya, Lepo Gete tetap menjadi sebuah bangunan unik penuh sejarah.

Kampung Sikka atau Sikka Natar terletak di pantai selatan Kabupaten Sikka, di Kecamatan Lela, berjarak kurang lebih 28 kilometer dari Kota Maumere. Sikka Natar ini kelihatan sederhana, namun sesungguhnya mengandung suatu perjalanan sejarah yang sangat berarti. Di kampung inilah terdapat sebuah gereja tua dan rumah raja yang disebut Lepo Gete.

Lepo Gete ini menjadi istana kerajaan Sikka dan sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Sikka dalam rentan waktu yang cukup lama terutama dalam masa penjajahan Portugis abad ke XVI dan Belanda abad ke XVII.

Lepo Gete hanya berjarak kurang lebih 5 meter dari bibir pantai selatan. Lepo Gete pernah menjadi pusat kontak budaya antara penduduk pribumi Sikka pada umumnya dan bangsa asing seperti Portugal dan Belanda.

 

2 dari 3 halaman

Nasib Tragis

Sejak awal terbentuknya Kerajaan Sikka sekitar tahun 160, Raja Sikka, Don Alexius Alessu Ximenes da Silva, membangun pusat pemerintahannya dengan bermarkas di Kampung Sikka, di istana Lepo Gete. Hampir semua Raja Sikka mendiami istana kerajaan Sikka ini. Lepo Gete persis berada di sebelah selatan gereja tua Sikka, berjarak kurang lebih 15 meter.

Lepo Gete sendiri saat ini hanya serupa bangunan bale-bale, atau bisa dikatakan 'gubuk' besar di pinggir pantai Sikka yang diyakini sebagai bekas area kediaman keluarga raja. Kerajaan Sikka yang yang dinobatkan oleh raja Don Alexus Ximenes da Silva menjadi kerajaan katolik pertama di Nusantara, bahkan mungkin satu-satunya di Asia, karena sang raja bertitah bahwa Agama Raja adalah Agama Rakyat.

Hal itu dititahkan sang raja sepulang dari perjalanan mencari tanah tanpa kematian dimana ia sampai ke tana Malaka dan mendapati ajaran katholik. Don Alessu pulang ke Sikka diiringi oleh beberapa pastor katolik Portugis (catholic priests) dengan membawa cinderamata sebagai symbol keagungan yaitu sebuah mahkota emas, gading gajah, sebuah tongkat dengan gelang emas, sejumlah pisau dengan rantai emas, dan patung kristus kecil (Menino) dan beberapa peninggalan raja lainnya kala itu.

Peninggalan regalia itu masih ada di tangan beberapa keturunan raja Sikka terakhir. Tidak satupun keturunan raja yang menetap di kampung Sikka, semuanya di Maumere atau di luar Flores.

Saat tim Liputan6.com berkunjung, Minggu sore (28/6/2020), sisa-sisa keagungan itu tidak lagi bisa disaksikan. Bekas istana dan juga kediaman raja Sikka (Lepo Gete) memang masih berdiri, namun kondisinya tidak terawat.

Lepo Gete bisa dikatakan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sikka selain sebagai tempat tinggal. Namun bangunan yang ada saat ini merupakan bangunan baru yang dibangun di masa pemerintahan Bupati Paulus Moa pada 2000. Namun, rekonstruksi itu tidak memuaskan masyarakat Sikka, karena tidak sesuai dengan kondisi aslinya.

Konstruksi dan bahan-bahan yang digunakan juga tidak sesuai dengan bentuk aslinya. Bangunan panggung itu beratap daun ilalang dengan tiang penyangga dari balok batang pohon lontar.

Sayang sekali rumah ini atapnya sudah banyak yang rusak, matahari bisa bersinar langsung ke dalam ruangan menembusi atap yang rusak. Padahal bangunan ini adalah bangunan bersejarah, sama seperti gereja tua Sikka itu.

Kepala Desa Sikka, Ignasius Mikhael Riwu, mengatakan, pemerintah desa sikka ingin melakukan renovasi rumah raja atau Lepo Gete.

"Tetapi ini tergantung negosiasi antara pemerintah daerah dan pemilik atau ahli waris. Kita bisa menggunakan dana desa untuk merenovasi bagunan tersebut, karena dalam program dana desa bisa digunakan untuk pengembangan potesni wisata budaya dalam hal ini dari dana desa bisa diprogramkan untuk dibangun kembali rumah raja Lepo Gete," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓