Distribusi BBM Satu Harga di Maluku, Pertamina Habiskan Rp18 M Tiap Bulan

Oleh Abdul Karim pada 02 Jul 2020, 20:00 WIB
Diperbarui 02 Jul 2020, 22:22 WIB
Ilustrasi : Pengisian BBM
Perbesar
Aktivitas pengisian BBM disalah satu SPBBU yang ada di Jakarta.

Liputan6.com, Maluku - Program Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga ternyata menelan biaya pendistribusi yang tidak sedikit. Pertamina harus merogoh kocek Rp18 miliar tiap bulannya untuk biaya pengirim BBM ke berbagai wilayah di Maluku.

Komite BPH Migas, M Lobo Balia dalam kunjungan pengawasannya bersama anggota Komisi VII DPR RI Saadiyah Uluputty mengatakan, Pertamina sebagai badan usaha negara memang punya tanggungjawab untuk menyamaratakan harga BBM di tanah Air. Sehingga biaya pendistribusian menjadi tanggungan Pertamina.

"Anggap saja itu (Rp18 miliar) CSRnya Pertamina tiap bulannya anggap sajalah itu kemurahan hati Pertamina, gitu," kata M.Labo kepada wartawan disela-sela kunjungannya ke TBBM Wayame di Ambon. Kamis 2 Juli 2020.

Selain itu, kebijakan menanggung biaya pendistribusian diharapkan dapat menarik minat para investor untuk membantu Pertamina menyalurkan BBM agar ada keseragaman harga ke seluruh penjuru negeri. Terutama di wilayah terpencil, sayangnya itu belum cukup berhasil.

"Pertamina di sini bahkan kekurangan investor, tidak banyak yang mau bangun SPBBU Satu Harga," bebernya.

2 dari 2 halaman

Kunjungan Pengawasan ke TBBM Wayame

Pengawasan
Perbesar
Anggota Komisi VII DPR-RI Saadiyah Uluputty (kiri) didampingi Komite BPH Migas M.Lobo Balia (Kanan) saat meninjau TBBM Wayame Ambon. Kamis 2 Juli 2020

Anggota Komisi VII DPR-RI Saadiyah Uluputty didampingi Komite BPH Migas M.Lobo Balia sengaja mengunjungi TBBM Wayame. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka pengawasan ketersediaan dan pendistribusian BBM di Maluku, Kamis 2 Juli 2020.

Dalam pertemuan selama tiga jam itu, tim menemukan beberapa persoalan teknis dan adminitrasi yang dialami Pertamina terkait pendistribusian BBM satu harga di Maluku.

"Tidak semua daerah di Maluku ada SPBBU, sementara untuk membangun SPBBU tidak gampang. Dan tidak banyak investor yang tertarik di Maluku," ungkap Komite BPH Migas M.Lobo Balia.

Selain itu, dilaporkan juga kalau pendistribusian BBM di Propinsi Maluku saat Pandemi Covid-19 turun rata-rata 50-60%.

Ini akibat adanya penurunan permintaan dan kendala akses dalam pendistribusian. Banyak jembatan yang putus dan minimnya moda transportasi pengangkut.

Akan tetapi Pertamina tetap optimis kebutuhan masyarakat Ambon dan Maluku tetap terpenuhi, sebab kondisi stok di TBBM Wayame dalam status aman dengan coverage days rata-rata mencapai 24 hari.

Lanjutkan Membaca ↓