Riwayat Sang Legenda KA Prameks yang Bakal Digantikan KRL Solo-Yogya

Oleh Fajar Abrori pada 27 Jun 2020, 19:00 WIB
Diperbarui 27 Jun 2020, 19:00 WIB
KRL Commuter Line
Perbesar
Penumpang berada di rangkaian KRL Commuter Line jurusan Bogor-Jakarta Kota di Stasiun Depok Baru, Jawa Barat, Senin (25/5/2020). Banyaknya warga yang silaturahmi selama lebaran menyebabkan perjalanan KRL tetap dipadati penumpang, meskipun waktu operasional dibatasi. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Solo - Riwayat KA Prambanan Ekspres (Prameks) yang melayani jarak lokal Solo-Yogyakarta bakal segera berakhir pada akhir tahun nanti. Sebagai gantinya, dua kota tersebut bakal dilayani dengan moda transportasi kereta rel listrik (KRL).

Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri proses pembangunan jalur KRL saat ini dalam proses pemasangan tiang-tiang listrik. Proses pemasangan itu sudah dilakukan sejak akhir tahun 2019 silam.

"Tiang-tiang untuk aliran listrik di atasnya sudah terpasang semua," kata dia di Stasiun Balapan Solo, Jumat, 26 Juni 2020.

Rencananya KRL tersebut akan mulai beroperasi secara bertahap. Tahap awal jalur yang bakal dilayani itu Yogyakarta-Klaten pada Oktober nanti. Setelah itu jalur moda transportasi kereta itu akan diperpanjang menjadi Yogyakarta-Solo.

"Mungkin nanti awalnya dari Yogyakarta-Klaten dulu sampai awal Oktober. Terus akhir tahun ini, kita bisa operasikan sampai Yogyakarta-Solo," harapnya.

Beroperasinya KRL nanti, menurut Zulfikri memang bertujuan untuk mengganti KA Prameks yang selama ini melayani penumpang kereta untuk jalur lokal Solo-Yogyakarta. Dibandingkan Prameks, kapasitas penumpang KRL lebih banyak jumlahnnya.

"Tentunya dengan beroperasinya KRL ini akan semakin tinggi kapasitasnya," sebutnya.

Selain kapasitas penumpang lebih banyak, lanjut dia, pengoperasian KRL juga lebih efisien serta ramah lingkungan. Pasalnya, KRL tidak seperti KA Prameks yang merupakan kereta diesel.

"Alasan penggantian ini, pertama lebih efisien karena menggunakan listrik. Kedua, ramah lingkungan dan itu jelas sustainable. Ketiga, kapasitas lebih banyak," ungkap dia.

Lantas, rangkaian KA Prameks rencananya ke depan akan difungsikan sebagai kereta bandara. Hal ini dilakukan karena sejumlah bandara masih membutuhkan armada kereta untuk mengangkut para penumpang bandara.

"Nantinya Prameks masih banyak untuk kebutuhan lainnya karena untuk kereta bandara juga masih butuh (rangkaian)," jelasnya.

Sedangkan mengenai tarif, Zulfikri menyebutkan tidak beda jauh dengan besaran tarif KA Prameks yang berlaku saat ini sekitar Rp8.000 per tiket. Kereta tersebut juga menjadi primadona bagi para pekerja yang melaju di antara dua kota tersebut. Bahkan, permintaan tiket untuk pagi dan sore selalu tinggi.

"Sebenarnya tarif masih sama dengan Prameks karena ini sifatnya mengganti. Apalagi Prameks makin penuh, pada jam-jam sibuk pagi dan sore. Mudah-mudahan nanti penumpang Yogya-Solo bisa menikmati KRL," ucapnya.

2 dari 2 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓