Perkembangan Pengusutan Dugaan Penembakan Warga oleh Anggota Satgas Tinombala

Oleh Heri Susanto pada 27 Jun 2020, 13:00 WIB
Diperbarui 27 Jun 2020, 13:00 WIB
Ayah alm Qidam, Irwan Mowance bersama anggota TPM Sulteng, Andi Akbar
Perbesar
Ayah alm Qidam, Irwan Mowance bersama anggota TPM Sulteng, Andi Akbar saat mengadu ke DPRD Sulteng mengenai kasus kematian Qidam yang diduga oleh Satgas Tinombala, Jumat (26/6/2020). (Foto: Liputan6.com/ Heri Susanto).

Liputan6.com, Palu - Hingga dua bulan lebih pascapenembakan Qidam Alfarizki yang diduga dilakukan oknum anggota Satgas Tinombala di Poso, pihak keluarga korban terus menagih keadilan dari polisi. Apalagi keluarga merasa dirugikan lantaran korban sempat disebut sebagai jaringan MIT Poso.

Penembakan yang diduga dilakukan oknum Satgas Tinombala di Poso pada 9 April lalu, menewaskan Qidam Alfarizki. Pemuda berusia sekitar 20 tahun itu tewas dengan luka tembak saat berada di belakang Polsek Poso Pesisir Utara pada malam hari.

Dua bulan sejak itu, pihak keluarga korban terus menuntut pihak kepolisian mengungkap dan menindak tegas para pelaku. Apalagi, menurut pihak keluarga, polisi belum mampu menjelaskan keterkaitan anggota keluarganya yang kehilangan nyawa secara tragis itu dengan kelompok teroris yang jadi target Operasi Tinombala di Poso.

Dalam rentang dua bulan tersebut juga, pihak keluarga bersama Tim Pembela Muslim (TPM) yang jadi kuasa hukum telah mengadukan kasus dugaan penambakan oleh anggota Satgas Tinombala itu ke berbagai pihak. Polda Sulteng, Komnas HAM, DPRD Poso, dan DPRD Provinsi telah didatangi untuk meminta keadilan.

“Saya hanya minta keadilan dan pelaku dihukum sampai dipenjarakan sesuai hukum yang berlaku,” ucap ayah korban penembakan, Irwan Mowance usai mengadu ke DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Jumat sore (26/6/2020).

2 dari 3 halaman

Polisi Akui Qidam Tidak Terkait Jaringan MIT Poso

markas polda sulteng
Perbesar
Sejumlah personel Propam berjaga di pintu masuk Mapolda Suteng saat digelar acara di halaman Mapolda, Jumat (26/6/2020). (Foto: Liputan6.com/ Heri Susanto).

Anggota TPM yang mendampingi keluarga, Andi Akbar menilai sejak awal polisi mengesankan sikap tidak profesional dengan menyebut korban termasuk bagian dari kelompok MIT.

“Tidak lama setelah penembakan Qidam, tiba-tiba Kabid Humas Polda Sulteng sudah menyebut korban sebagai anggota Ali Kalora (kelompok MIT). Kami tunggu penjelasan tentang itu tapi sampai sekarang tidak ada,” kata Andi Akbar, anggota TPM Sulteng saat mendampingi ayak Qidam di DPRD Sulteng, Jumat (26/6/2020).

Upaya mengungkap dugaan salah sasaran yang mengorbankan warga tidak bersalah itu dilakukan polisi dengan melibatkan Mabes Polri dan Komnas HAM. Namun para pelaku belum juga terungkap.

Hingga 10 Juni lalu, pihak Polda Sulteng menyatakan sudah puluhan anggota polisi dalam kasus itu telah diperiksa, dengan status sebagai saksi.

“Untuk kasus penembakan Qidam ada 29 dari internal yang diperiksa dan 3 dari pihak keluarga. Semua sebagai saksi,” Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto kepada jurnalis, Rabu (10/6/2020).

Penyelidikan yang dilakukan hingga akhir Juni dengan pemeriksaan saksi, olah TKP, dan rekontruksi terhadap kasus itu juga belum menemukan keterlibatan Qidam dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang jadi target operasi Satgas Tinombala di Poso.

Penyelidikan dilakukan oleh Bidpropam dan Ditreskrimum dibantu penyidik dari Biro Provost Divpropam Polri.

“Sampai saat ini belum ditemukan keterkaitan Qidam dengan kelompok MIT Poso pimpinan Ali Kalora. Korban juga tidak termasuk dalam DPO pelaku tindak pidana terorisme yang selama ini sudah beredar,” kata Didik dalam rilis yang dibagikan ke jurnalis di Palu, Jumat (26/6/2020).

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓