Perjuangan Petani Cabai Sikka di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh Dionisius WilibardusOla Keda pada 15 Jun 2020, 08:00 WIB
Diperbarui 15 Jun 2020, 08:00 WIB
Dampak covid-19
Perbesar
Foto: Edi Hoere, petani cabe di Kabupaten Sikka, NTT (Liputan6.com/Dion)

Liputan6.com, Sikka- Penyebaran virus corona atau covid-19 di dunia, termasuk ke Indonesia berdampak ke sejumlah sektor usaha di tanah air, seperti pariwisata dan perdagangan. Namun tidak dengan sektor pertanian.

Sektor pertanian justru menjadi pengaman dalam menghadapi wabah virus covid-19 ini. Sektor ini tidak bisa dianggap remeh karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat.

Pertanian memiliki nilai ekonomi yang mampu membuat Indonesia bertahan dari ancaman krisis global, termasuk krisis yang diakibatkan wabah covid-19 saat ini.

Edi Hoere, seorang seorang petani cabe rawit di Desa Koting B, Kecamatam Koting, Kabupaten Sikka, NTT, mengaku saat ini hasil lahan cabainya tetap stabil. Lelaki paruh baya ini menekuni pekerjaan sebagai petani cabai sejak tahun 2019 lalu. Kini ia mulai menikmati hasil cabainya.

"Kami tetap bekerja, demi mendapatkan penghasilan yang cukup di tengah wabah virus corona ini. Walaupun bekerja di tengah teriknya matahari kami tetap mematuhi peraturan protokoler pemerintah," ucapnya kepada Liputan6.com, Rabu (10/6/2020).

Sejak tahun 2019, ia mulai menggarap lahan miliknya dengan kondisi tanah kapur yang diubah menjadi tanaman cabai. Lahan cabai yang digarap saat ini merupakan lahan miliknya. Setiap petak lahan, ia menanam sekitar 20-30 batang tanaman cabai. Petak yang berukuran panjang bisa mencapai 80 pohon.

Cabai memang tanaman yang cepat menghasilkan buah. Hanya butuh tiga bulan untuk panen. Apalagi dengan perlakuan yang baik terhadap tanaman seperti memberikan pupuk dan menyemprot hama dengan baik bisa seminggu sekali dipanen.

Meski hasil tanamannya melimpah, namun harga jual cabai menurun drastis. Turunnya harga cabai saat ini disebabkan lantaran banyak masyarakat takut keluar rumah. Imbasnya, pasar jadi sepi.

Normalnya, cabai biasa dijual oleh petani dengan harga Rp50 ribu per kilogram. Tetapi, harga cabai kini turun sampai dengan Rp20 ribu dan bahkan jatuh ke harga Rp10 ribu per kilogram.

"Itu pun terpaksa kami jual untuk bisa mengembalikan modal, kalau tidak dijual akan rusak," dia menjelaskan.

Dia berharap ada intervensi pemerintah dalam menjamin keberlangsungan para petani, mengingat wabah pandemi covid-19 ini menyerang seluruh sektor.

"Kami mengharapkan, ke depan pemerintah dapat memberikan suatu jaminan kepada petani, khususnya petani cabai mengenai harga jual disaat terjadi suatu musibah seperti sekarang ini. Kita menginginkan agar kondisi seperti ini tidak berlarut-larut, dan kehidupan para petani dapat kembali stabil," tutupnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓