Gaji Para Guru Honorer di Palembang Mandek di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh Nefri Inge pada 14 Jun 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 14 Jun 2020, 16:54 WIB
Ilustrasi – Guru dan siswa. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Ilustrasi – Guru dan siswa. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Palembang - Aktivitas belajar mengajar di sekolah dialihkan secara online di Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), di tengah pandemi Corona Covid-19.

Untuk memenuhi materi pembelajaran, para guru diwajibkan untuk mengajar secara daring. Sehingga harus menyiapkan anggaran khusus, untuk membeli kuota internet yang tercukupi.

Namun sayang, tingginya pengeluaran anggaran ini tak sebanding dengan penghasilan yang didapat oleh para guru honorer. Ternyata, pencairan gaji para guru honorer di Kota Palembang mandek, terutama di masa wabah Corona Covid-19.

Seperti diungkapkan RN (30), salah satu guru honorer di Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Palembang.

Sejak adanya Corona Covid-19 di Palembang, honor per tiga bulan sekali dari Dana Bos tak kunjung cair. Bahkan kondisi ini sudah dialami selama enam bulan terakhir.

"Sudah enam bulan terakhir gaji saya tidak cair. Tapi saya tetap harus mengajar via online ke anak-anak. Untuk beli pulsa kuota pun tidak ada dianggarkan," katanya, Sabtu (13/6/2020).

Biasanya setiap bulan dia digaji sebesar Rp500.000, yang akan cair selama 3 bulan sekali atau sebesar Rp1,5 juta.

Bahkan dia mendengar jika para guru dari sekolah lain, mendapatkan uang pulsa untuk menunjang mengajar daring.

"Teman saya, guru di SDN lain di Palembang dapat uang kuota sebesar Rp100.000 hingga Rp300.000 per bulannya. Tapi di sekolah kami tidak diberi, jadi harus pakai uang pribadi," katanya.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, RN akhirnya membantu temannya berjualan berbagai produk secara online. Hasil dari penjualan produk tersebut, sedikit membantu untuk membayar tagihan listrik dan air.

Sama halnya dengan LY (35), Tata Usaha (TU) di salah satu SDN Palembang. Dia pun merasakan nasib yang sama, bertahan hidup di tengah himpitan perekonomian karena gaji yang tak kunjung cair.

"Sudah enam bulan juga gaji tidak cair-cair. Kami kesulitan untuk mencukupi hidup sehari-hari," ungkapnya.

Kisruh telatnya pencairan gaji bagi guru honorer di Kota Palembang juga dialami oleh Fauziah, guru tunanetra yang mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Palembang.

Hal ini diungkapkan oleh Abi Hilmi, Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Palembang. Fauziah yang juga merupakan istrinya sudah sebulan terakhir ini tidak mendapatkan gaji.

2 dari 3 halaman

Gaji Guru Tunanetra

PPDB untuk SDN di Kota Bogor Dibuka
Perbesar
Guru memakai pelindung wajah melayani calon orang tua siswa yang mengalami kesulitan mendaftar secara online saat pendaftaran peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2020/2021di SDN Pengadilan I Bogor, Jawa Barat, Selasa (9/6/2020). (merdeka.com/Arie Basuki)

"Biasanya sebulan sekali dapat gaji Rp400.000, tapi karena pandemi Corona Covid-19 ini, jadi terhenti," ungkapnya.

Dia pun yang juga menggeluti aktivitas syiar sebagai da’i di berbagai pengajian dan khotbah Jumat, juga mengalami hal yang sama.

Terhentinya aktivitas pengajian dan berkurangnya salat Jumat beberapa peka lalu, membuat pendapatannya pun semakin minim.

"Kita pernah dapat bantuan sembako dari pemerintah sebelum lebaran. Tapi itu hanya sekali. Perhatian pemerintah sangat minim untuk kaum disabilitas, dari pihak sekolah juga tidak ada. Kemungkinan memang belum ada dananya," katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓