Maelo Pukek, Tradisi Turun-temurun Nelayan di Pesisir Ranah Minang

Oleh Novia Harlina pada 10 Jun 2020, 06:00 WIB
Diperbarui 10 Jun 2020, 12:25 WIB
Beberapa orang nelayan maelo pukek yang merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang.
Perbesar
Beberapa orang nelayan maelo pukek yang merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang. (Liputan6.com/ Novia Harlina)

Liputan6.com, Padang - Mentari masih belum terlalu tinggi di arah timur. Cuaca cukup terik jika berdiri di tepi Pantai Purus, Kota Padang, Sumatera Barat. Namun, hal ini tak menyurutkan delapan pria paruh baya menarik 'pukek'.

Maelo pukek artinya menarik pukat untuk menangkap ikan di laut. Maelo pukek merupakan tradisi turun-temurun bagi nelayan hampir di seluruh pesisir Ranah Minang.

Sebelum maelo pukek, nelayan terlebih dahulu menyebarkan pukek ke laut dengan jarak 100 hingga 200 meter dari bibir pantai menggunakan perahu.

Pukek ditebar melebar mengikuti garis pantai kemudian nelayan kembali ke pinggir. Setelah menunggu 15-20 menit masing-masing ujung pukek mulai ditarik, kemudian ikan terjebak di bagian tengah jaring.

Ikan-ikan kecil akan terlepas karena ukuran pukat sudah diperhitungkan besaran ikan yang akan ditangkap. Saat nelayan maelo pukek, tidak sedikit pula masyarakat atau pembeli ikan yang menyaksikan atraksi tersebut.

Koordinator Program Yayasan Cahaya Maritim, Yani mengatakan tradisi maelo pukek sudah ada sejak zaman dahulu, tetapi ia belum bisa memastikan kapan maelo pukek ini dimulai oleh nenek moyang.

"Maelo pukek memiliki makna yang dalam sebenarnya selain menjaga tradisi turun-temurun," katanya.

Menurut Yani, tradisi maelo pukek wujud kekompakan nelayan, meski yang punya pukek satu orang, tetapi yang terlibat untuk menariknya ke pinggir pantai butuh beberapa orang dan itu biasanya kerabat sekitar tempat tinggal atau saudara.

Kemudian yang lainnya, secara tidak langsung nelayan yang menagkap ikan menggunakan pukek sudah melakukan konservasi. Artinya, ikan-ikan yang masuk ke jaring merupakan ikan yang cukup besar dan ikan kecil akan lepas.

"Pukat juga tidak merusak terumbu karang karena cukup dekat dari bibir pantai," jelas Yani.

2 dari 3 halaman

Daya Tarik Wisata

Beberapa orang nelayan menyiapakan proses maelo pukek yang merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang.
Perbesar
Beberapa orang nelayan menyiapakan proses maelo pukek yang merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang. (Liputan6.com/ Novia Harlina)

Selain itu, Yani menyampaikan masyarakat pesisir sebenarnya puka kearifan dalam mengelola sumber daya alam, dan mereka percaya ikan-ikan yang ditangkap melalui pukat itu adalah rezeki dari yang kuasa.

Hasil tangkapan nelayan dari 'maelo pukek', nantinya untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga. Kemudian sisanya dijual karena masyarakat cukup antusias membeli ikan-ikan segar di pantai.

Lebih lanjut, ia menyebut maelo pukek juga berpotensi menjadi daya tarik wisata, karena wisatawan nusantara maupun mancanegara sangat menyukai wisata atraksi yang memberikan pengalaman baru ketika berwisata.

"Namun konsepnya hingga saat ini belum jelas," kata Yani.

Tetapi yang pasti, jika potensi ini dikembangkan pemerintah maka yang dibutuhkan adalah sinergi antara pihak terkait dengan nelayan sehingga roda perekonomian semakin bergerak.

3 dari 3 halaman

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓