Cara Wawako Palembang Blusukan ke Rumah Warga di Tengah Wabah Covid-19

Oleh Nefri Inge pada 12 Mei 2020, 17:17 WIB
Diperbarui 13 Mei 2020, 00:42 WIB
Cara Wawako Palembang Blusukan ke Rumah Warga di Tengah Wabah Covid-19
Perbesar
Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang Fitrianti Agustinda mengunjungi salah satu panti asuhan di Kota Palembang, untuk membagikan sembako (Liputan6.com / Nefri Inge)

Liputan6.com, Palembang - Di tengah wabah Corona Covid-19 di Indonesia, Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang Fitrianti Agustinda terus melakukan aksi sosial pembagian sembako ke warga miskin. Terlebih di bulan Ramadan, kebutuhan sembako pun cukup tinggi.

Pada hari Selasa (12/5/2020) pagi, Wawako Palembang memulai aktivitas dengan mendatangi Pasar Tradisional Kilometer 5 Palembang. Bersama Satpol-PP Palembang, Wawako Palembang melakukan inspeksi dadakan (sidak) penggunaan masker.

Ternyata di tengah wabah Covid-19, masih ada pengunjung dan penjual yang enggan menggunakan masker. Wawako Palembang pun langsung memberikan masker dan mengedukasi, agar selalu menggunakan masker untuk menghindari penularan Covid-19.

Blusukan pun kembali dilakukan, dengan mengunjungi Panti Asuhan Siti Aisyah, di Jalan Kolonel H Burlian Sukabangun 1 Palembang. Fitrianti Agustinda langsung memberikan paket sembako ke rumah panti asuhan tersebut.

"Saya tahu informasi dari media sosial (medsos), bahwa ada salah satu panti asuhan yang membutuhkan bantuan. Apalagi sejak wabah Covid-19, belum ada yang menyumbangkan bantuan ke panti asuhan ini, makanya hari ini kita berikan sumbangan," ucapnya.

Fitrianti Agustinda lalu melanjutkan perjalanannya ke rumah warga di Jalan Wahid Hasyim Lorong Mutiara 2 Kelurahan 5 Ulu Kecamatan Seberang Ulu (SU) 1 Palembang, pada Selasa siang.

Mantan anggota DPRD Palembang ini, blusukan ke rumah Tasnim (67), warga Lorong Mutiara 2 Palembang yang hanya berdiam diri di rumahnya. Namun Fitrianti Agustinda tetap menjaga jarak, seperti imbauan pemerintah.

Tasnim sendiri, merupakan salah satu warga miskin yang belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Terlebih saat ini, kondisi tangannya mengalami patah tulang, karena terjatuh di awal bulan ramadan.

Nenek 6 orang cicit ini, biasanya bekerja sebagai tukang pijat, harus berdiam diri di rumah. Selain tangannya tidak diurus oleh tenaga medis, Covid-19 di Palembang membuatnya semakin sulit untuk mengais rezeki.

Saat mengetahui warganya tidak mampu untuk mendapatkan pelayanan medis, Fitrianti Agustinda langsung menginstruksikan tenaga medis puskesmas langsung membantu Tasnim.

"Nanti akan ada tenaga medis yang akan kesini, untuk melihat kondisi tangan nenek Tasnim yang patah. Kita juga memberikan bantuan sembako, untuk membantu kebutuhan sehari-harinya," ujarnya.

Tanpa melepaskan maskernya, Wawako Palembang kembali menjelajahi jalan setapak di kawasan tersebut untuk kembali menyambangi warga miskin lainnya.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kartu Indonesia Sehat

Cara Wawako Palembang Blusukan ke Rumah Warga di Tengah Wabah Covid-19
Perbesar
Wakil Wali Kota (Wawako) Palembang Fitrianti Agustinda mengunjungi salah satu warganya yang masuk kategori miskin dan memberikan paket sembako (Liputan6.com / Nefri Inge)

Dia pun bertemu dengan Husni dan Sania, pasangan suami istri (pasutri) lanjut usia yang berada di tengah keterbatasan hidup.

Husni yang sudah kepala tujuh, sudah tiga tahun tidak mengayuh becaknya. Sedangkan istrinya Sania (69), hanya bisa terduduk di teras depan, karena penyakit komplikasi yang dia alami.

Pasutri lansia tersebut ternyata masih harus membayar Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan kelas 3. Karena setiap mendaftar Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi warga miskin, mereka selalu terkendala banyak hal.

"Kita akan mendata para warga yang harusnya mendapatkan KIS, agar mereka mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Bantuan sembako pun akan diberikan secara berkala," katanya.

Yeni Marlina (42), anak Husni-Sania menuturkan, selama ini mereka hidup bersama-sama di sebuah rumah reot. Dalam satu rumah, ada 7 orang yang hidup serba pas-pasan.

"Hanya suami saya yang bekerja serabutan, pendapatannya Rp100.000 per hari. Setiap bulan, kami harus bayar BPJS Kesehatan untuk ibu dan belum ada bantuan apa pun ke rumah. Baru ini bantuan datang dari Wawako Palembang," ucapnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya