Panen Beluluk, Tradisi Masyarakat Jambi Tulo Menyambut Ramadan

Oleh Gresi Plasmanto pada 24 Apr 2020, 01:00 WIB
Diperbarui 24 Apr 2020, 01:00 WIB
Panen Beluluk Jambi

Liputan6.com, Jambi - Siang yang terik, Rabu (22/4/2020), mata Pak Kengkeng (47) tertuju pada buah beluluk yang menggantung di batang pohon enau. Setelah sampai di bawah batang enau itu, ia cekatan memanjat dan memilah-milah tandan buah berwarna hijau tua itu.

Pak Kengkeng sudah lihai memilih mana buah beluluk yang cocok untuk dijadikan kolang-kaling. Buah beluluk yang dipanen tidak boleh terlalu muda dan terlalu tua. Jika buahnya terlalu tua, nanti hasil kolang-kaling pun jadi keras.

Setelah beberapa saat Pak Kengkeng berada di atas pohon enau, kemudian beberapa tandan buah beluluk itu diturunkan dan langsung dibawa menggunakan gerobak sorong untuk diolah di rumah. Itu lah rangkaian awal tradisi panen beluluk di Jambi Tulo.

Pak Kengkeng adalah satu di antara lima orang perajin buah beluluk yang sampai kini masih bertahan di Desa Jambi Tulo, Kecamata Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Ia masih menjalankan tradisi memanen buah beluluk dalam menyambut Ramadan 1441 Hijriah.

Tradisi ini rutin dilakukan masyarakat di sana setiap bulan suci Ramadan. Tradisi panen beluluk ini membutuhkan kerjasama. Setiap orang memiliki peran berbeda dalam menghasilkan beluluk, makanan khas yang ada hanya saat bulan puasa.

"Perajin yang memanen beluluk harus tahu mana buah yang sudah memenuhi syarat untuk diambil," kata Adi Ismanto, warga Desa Jambi Tulo kepada Liputan6.com, Kamis 23 April 2020.

Adi yang juga seorang pelestari budaya di desanya itu mengatakan, dalam tradisi panen beluluk setiap orang memiliki peran berbeda. Khusus orang yang bagian memanjat dan memanen harus dilakukan oleh orang yang sudah ahli.

Tandan beluluk yang telah diturunkan dari batang enau, kemudian buah beluluk itu dipretel. Setelah proses mempreteli beluluk ini selesai, kemudian buah beluluk direbus dalam kuali besar menggunakan tungku api selama dua jam. Biasanya pada proses perebusan ini dilakukan oleh ibu-ibu.

Setelah proses perebusan itu selesai, lantas berlanjut pada proses pengupasan. "Nah pas pengupasan ini dilakukan oleh anak-anak dan juga ibu-ibu, jadi di dalam rumah tangga kebagian semua prosesnya," Adi menjelaskan dengan logat melayu khasnya itu.

Saat sudah menjadi kolang-kaling atau makanan berbentuk lonjong dan berwana putih transparan itu, kemudian direndam supaya tahan lama. Kolang-kaling siap dijadikan dalam berbagai bentuk olahan makanan selama bulan Ramadan.

2 dari 4 halaman

Beluluk, Ramadan, dan Kegembiraan Masyarakat

Buah Beluluk Jambi
Sejumlah ibu-ibu saat mengolah buah beluluk untuk dijadikan kolang-kaling di Desa Jambi Tulo, Kabupaten Muaro Jambi, Rabu (22/4/2020). Tradisi memanen beluluk dilakukan masyarakat saat menyambut Ramadan. (Liputan6.com / dok Adi Ismanto/ Gresi Plasmanto)

Beluluk, buah kecil lonjong dan berwarna putih transparan itu menjadi primadona yang wajib ada saat bulan puasa. Biasanya beluluk atau kolang-kaling ini diolah menjadi hidangan seperti kolak serta sebagai campuran minuman segar untuk pelepas dahaga saat berbuka puasa.

Bila saatnya bulan puasa tiba sudah dipastikan masyarakat di Desa Jambi Tulo berbondong menyambut bulan suci itu dengan tradisi panen beluluk di kebun. Beluluk dan Ramadan tidak dipisahkan.

Masyarakat di desa itu bergembira menyambut bulan suci Ramadan. Mereka juga bergembira dengan hasil panen buah beluluk, karena masyarakat atau pengrajin dipastikan akan mendapatkan ekonomi tambahan dari buah keluluk itu.

Saat ini di Desa Jambi Tulo Adi bilang, terdapat sekitar seratusan pohon enau yang masih tersisa. Saat bulan puasa, pohon enau akan mengucurkan rezeki, karena buah yang dihasilkan dari pohon enau itu banyak dicari dan dibeli masyarakat.

"Ketika menyambut bulan puasa kami gembira, beluluk bisa jadi pendapatan ekonomi keluarga, terutama pengrajinnya. Harapannya semakin banyak masyarakat yang kembali menanam pohon enai," kata Adi.

Dalam satu batang enau lanjut Adi, buah beluluk yang dihasilkan jumlahnya bervariasi. Jika buahnya banyak dalam satu batang bisa menghasilkan 3 tandan. Satu tandan buah beluluk biasanya mencapai sekitar 50 kilogram. "Satu tandan itu banyak isinya," katanya.

Setelah diolah menjadi kolang-kaling, biasanya tak jarang masyarakat atau pengepul yang datang membelinya langsung dari pengrajinnya. Kolang-kaling itu pun menjadi buruan masyarakat, bahkan sampai menembus pasar di perkotaan.

"Kalau ada yang beli biasanya datang sendiri dan pesan langsung, sekilo itu harganya Rp10 ribu," kata dia.

 

3 dari 4 halaman

Pohon Enau Tanaman Beragam Manfaat

Pohon Enau
Seorang sedang menyadap nira di Desa Jambi Tulo, Kabupaten Muaro Jambi. Kini keberadaan pohon enau atau nira itu sudah semakin jarang. (Liputan6.com / Gresi Plasmanto)

Pohon enau yang memiliki nama ilmiah Arenga pinnata merupakan pohon yang punya beragam manfaat. Dari ujung pohon sampai akar, masih menurut Adi Ismanto, bisa dimanfaatkan menjadi produk turunan yang beragam.

Buahnya bisa dimanfaatkan menjadi kolang-kaling, begitu pula dengan air nira yang dihasilkan dari pohon enai itu bisa dijadikan minuman fermentasi dan juga gula merah.

Tak hanya itu, ijuk dan lidi pohon enau juga bisa menjadi produk turunan lainnya seperti lidinya bisa dijadikan piring dan ijuknya bisa digunakan untuk atap. Pemanfaatan pohon enau atau aren sudah dilakukan oleh nenek moyang masyarakat di Desa Jambi Tulo.

"Pohon aren tidak sekadar menghasilkan kolang-kaling, tapi semua dari pohon arean itu bisa dimanfaatkan. Batangnya dari jaman nenek moyang di sini bisa dimanfaatkan untuk campuran makan ternak," katanya menjelaskan.

Namun, kini di tengah beragamnya manfaat itu, pohon aren masih dipandang sebelah mata terutama sejak masuknya industri kelapa sawit. Keberadaan pohon aren di Muaro Jambi semakin langka. Keberadaanya pohon enai kini hanya tersisa sekitar seratusan batang.

Menurut Adi, perhatian pemerintah daerah terhadap perajin pohon enau saat ini baru sebatas semboyan dan selogan. Pelestarian pohon enau sangat diperlukan intervensi pemerintah, karena ini akan memberikan dampak perekonomian bagi masyarakat.

Dari momen Ramadan dan tradisi panen beluluk itu mengajarkan kita bagaimana melestarikan alam serta menghargai leluhur mereka yang sudah sedari dulu memanfaatkan potensi alam yang melimpah.

"Pohon enau perlu dilestarikan lagi, ini pohon tua sudah dari zaman dulu yang dilindungi leluhur karena banyak memberikan manfaat," pungkas Adi Ismanto.

 

4 dari 4 halaman

Simak Video Pilihan Berikut:

Lanjutkan Membaca ↓