Catatan Harian Penyintas Covid-19, Sejak Bergejala Sakit Hingga Sembuh

Oleh Rudal Afgani Dirgantara pada 21 Apr 2020, 03:30 WIB
Diperbarui 21 Apr 2020, 03:30 WIB
Agus Haryanto, seorang penyintas Corona COVID-19 Purbalingga, Jawa Tengah berbagi kisah dari sakit hingga sembuh. (Foto: LIputan6.com/Istimewa/Rudal Afgani Dirgantara)

Liputan6.com, Purbalingga - Agus Haryanto, seorang penyintas Corona COVID-19 dari Purbalingga, Jawa Tengah membagikan kisahnya menghadapi pandemi yang meneror penjuru negeri.

Dalam kisah ini, ia menuturkan bagaimana suasana batinnya ketika telepon berdering mengabarkan vonis positif COVID-19. Ia juga menceritakan bagaimana ia bangkit dari keterpurukan hingga mampu melewati masa sulit di ruang isolasi.

Kisah ini ditulis istri Agus, Lilis Putri Rahayu, berdasarkan penuturannya. Tulisan ini ia kirim ke akun Instagram “Purbalinggaku” melalui direct message. Tulisan ini diterbitkan atas izin Lilis yang dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (20/4). Selengkapnya, ini lah cerita haru Agus Haryanto, penyintas COVID-19 dari Purbalingga.

Senin 9 Maret 2020 saya berangkat ke Bandung untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan mobil pribadi. Tugas ini saya lakukan rutin dua minggu sekali memang, saat itu posisi nasional adalah 6 orang positif COVID-19 seluruh Indonesia.

Saya masih berani ke Bandung kenapa? Ya karena saya merasa ini masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah seluruh rakyat Indonesia, dan pemerintah pun terasa sangat biasa saja dalam menghadapinya.

Saya sempat mampir ke RSUD Banyumas dan RSUD Majenang untuk suatu pekerjaan. Pekerjaan saya memang tidak jauh dari dunia kesehatan dan rumah sakit.

Malam hari sesampainya di Bandung saya diare satu hari. Entahlah, dulu itu sudah demam atau belum. Saya hanya merasakan badan saya kurang nyaman, dan tak tahu bahwa itu adalah gejala Corona Covid-19.

Pagi harinya saya bekerja seperti biasa, belum ada aturan soal social atau physical distancing. Yang saya tahu, saya harus menghindari jabat tangan dan lebih rajin menggunakan hand sanitizer yang memang sebelum-sebelumnya selalu di dalam mobil.

Selasa 10 Maret 2020 saya ke Jakarta untuk menemui istri saya yang sedang kuliah di sana, masih dengan mobil pribadi. Sesampainya di sana istri memegang badan saya dan bilang kalau saya demam.

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Kondisi Tubuh Memburuk

Agus Haryanto, seorang penyintas Corona COVID-19 Purbalingga, Jawa Tengah berbagi kisah dari sakit hingga sembuh. (Foto: LIputan6.com/Istimewa/Rudal Afgani Dirgantara)
Agus Haryanto, seorang penyintas Corona COVID-19 Purbalingga, Jawa Tengah berbagi kisah dari sakit hingga sembuh. (Foto: LIputan6.com/Istimewa/Rudal Afgani Dirgantara)

Badan saya memang masih terasa tidak enak, bahkan lebih parah dari hari kemarin. Selama di Jakarta saya tinggal di kost, keluar hanya untuk makan ke kantin kampus, selebihnya istri saya yang selalu beli keluar karena memang keadaan saya yang sedang sakit.

Setiap malam saya selalu merasa kedinginan bahkan menggigil. Ada batuk dan pilek, tapi tidak sesak sama sekali.

Kamis 12 Maret 2020 belum ada perbaikan sehingga memutuskan periksa di RS Aulia Srengseng Sawah Jagakarsa. Di sana saya diberikan cefixime dan kapsul racikan.

Karena setiap meminum kortikosteroid saya selalu cegukan, maka dokter pun tidak menambahkan obat tersebut. Diagnosa sementara dari dokter adalah radang tenggorokan.

Jumat 13 Maret saya bersama istri pulang ke Purbalingga mengendarai mobil pribadi. Karena merasa sangat lelah saya pijit di salah satu refleksi. Setelah itu saya tidak pernah kemana-mana karena kewaspadaan terhadap COVID-19 juga.

Istri saya pun sudah tidak mendatangi beberapa undangan pada tanggal 14 karena kekhawatiran setelah pulang dari daerah pandemi. Dan alhamdulillah dua undangan pertemuan dan tiga undangan pernikahan yang kami lewatkan itu tidak menjadi penyesalan bagi kami.

Minggu tanggal 15 Maret 2020 siang, karena belum ada perbaikan, saya memeriksakan diri ke salah satu RS swasta di Purbalingga. Dan dokter akhirnya merujuk saya ke RSUD Banyumas pada malam harinya karena ada indikasi COVID-19.

Saya langsung masuk ke ruang isolasi bertekanan negatif. Istri saya akhirnya pulang pada malam harinya karena dilarang untuk menemani dan saya harus menjalani isolasi sendiri.

Perawat hanya akan masuk saat mengantarkan obat dan makanan. Tanggal 16 dan 17 Maret 2020 saya di-swab untuk memastikan apakah saya terinfeksi Corona atau tidak.

Perawat dan dokter menginfokan kalau hasil ini secara teori bisa didapat dalam dua atau tiga hari, tapi beberapa hasil yang keluar sebelumnya selama lima hari. Baiklah, selama itu artinya saya harus bersabar untuk sendirian di ruang isolasi.

Malam pertama yang saya rasakan di ruang tekanan negatif ini adalah merasa saya sedang berada di alam kubur. Tanpa siapapun yang bisa menjenguk saya dan orang-orang melakukan aktivitas lain sesuai kesibukannya. "Nelangsa" kalau orang Purbalingga bilang.

3 dari 5 halaman

Guncangan Mental Ketika Dinyatakan Positif Covid-19

Ketiga penyintas COVID-19 menunjukkan surat keterangan sehat setelah dinyatakan sembuh, Kamis (16/4). (Foto: Liputan6.com/Humas Pemkab Purbalingga)
Ketiga penyintas COVID-19 menunjukkan surat keterangan sehat setelah dinyatakan sembuh, Kamis (16/4). (Foto: Liputan6.com/Humas Pemkab Purbalingga)

Hari demi hari saya lalui dengan kejenuhan, tapi saya tidak pernah terpikir kalau hasil swab saya akan positif karena dari gejala-gejala yang saya baca dan saya alami banyak yang berbeda.

Tanggal 19 Maret 2020 saya sudah tidak ada gejala apapun, tapi hasil swab belum juga keluar. Sampai pada akhirnya tanggal 23 Maret 2020 saya dipulangkan karena sudah sepenuhnya sehat tanpa gejala.

Tanggal 25 Maret 2020 saya kaget, sekagetnya karena mendapatkan telepon dari Dinas Kesehatan Purbalingga bahwa hasil swab saya sudah keluar dan dinyatakan positif COVID-19.

Hal pertama yang harus saya tekankan pada istri adalah mengenai mental. Dan benar saja setelah Bupati mengumumkan update mengenai hasil tes saya, identitas saya beserta istri tersebar luas di berbagai grup.

Ini berat untuk saya, mengingat stigma masyarakat masih negatif karena minimnya pengetahuan. Saya diinfokan akan dijemput pada sore harinya dan diisolasi kembali di RSU Panti Nugroho.

Petugas menyampaikan untuk menyiapkan pakaian dan keperluan lain yang harus saya bawa di RS. Dan di saat waktu terburuk saya ini saya langsung terpikir untuk membawa Al Quran.

Hasil ini mengartikan bahwa saya diisolasi hari ke-15 sejak saya demam, dan saya pun tidak merasakan gejala apa-apa lagi. Saat di sana saya tetap melakukan pekerjaan yang bisa saya lakukan secara "remote".

Saya tetap membiasakan olah raga seperti biasa yang saya lakukan sehari-hari. Dalam satu set saya biasa melakukan 40-50 kali push up.

Waktu luang lain saya lakukan dengan mengaji dan mencari info tentang COVID-19 untuk membekali diri saya sendiri dari kepanikan. Alhamdulillah berkat ilmu yang cukup saya selalu berpikir positif.

Masa darurat kesehatan saya sudah terlewat. Sekarang saya hanya perlu menjalani isolasi dan yakin saya akan pulang berkumpul dengan keluarga lagi. Di ruang isolasi saya tidak mendapatkan obat lain selain curcuma dan vitamin C.

4 dari 5 halaman

Doa Anak Panti Asuhan dan Dukungan Orang Terdekat

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengajak tiga penyintas COVID-19 sarapan pagi di pringgiyan Pendapa Dipokusumo, Kamis (16/4). (Foto: Liputan6.com/Humas Pemkab Purbalingga)
Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mengajak tiga penyintas COVID-19 sarapan pagi di pringgiyan Pendapa Dipokusumo, Kamis (16/4). (Foto: Liputan6.com/Humas Pemkab Purbalingga)

Di sisi lain saya terharu dengan lingkungan saya yang selalu memberikan suport positif. Dokter dan perawat yang selalu melayani dan memberikan suport terbaik.

Ada juga pemilik panti asuhan yang meminta doa dari anak-anak asuhnya untuk kesembuhan saya. Tetangga yang silih berganti mengirimkan makanan dan bahan pokok untuk keluarga. Semua ini membuat saya terharu, memberikan obat lain yang tidak terlihat.

Beberapa hari di ruang isolasi saya bertanya-tanya kapan saya di-swab untuk memastikan virus Corona ini masih di tubuh saya atau tidak. Pada akhirnya tanggal 1 dan 2 April 2020 yaitu hari ke-7 dan ke-8 sejak saya dijemput kembali baru saya di-swab.

Saya kira hasil ini juga akan saya keluar kira-kira tujuh atau delapan hari ke depan. Tapi nyatanya tidak. Hari demi hari saya lalui dengan menunggu. Menunggu hasil swab yang tidak tahu kapan akan keluar.

Hari-hari tetap saya isi dengan beribadah, pekerjaan, dan olahraga. Sampai pada akhirnya rekor dalam hidup saya. Dalam 20 hari saya bisa khatam Al Quran tepatnya pada tanggal 14 April 2020.

Keputusasaan mulai membayangi saya ditengah kejenuhan yang semakin memuncak. Hari-hari yang saya tunggu akhirnya datang juga. Tanggal 16 April 2020 di waktu subuh telepon berdering dan mengabarkan kalau hasil swab saya sudah keluar dan negatif.

Kebahagiaan yang luar biasa menghampiri saya, buah dari kesabaran selama 16 hari setelah pengambilan swab. Padahal kalau langsung bisa keluar hasilnya, seharusnya awal April saya sudah bisa pulang kerumah berkumpul dengan keluarga.

Terus terang saya miris dengan Indonesia. Betapa kapasitas laboratorium yang masih sangat minim untuk wabah yang sudah menyebar luas ini.

Pesan saya untuk orang-orang di luar sana yang belum menyadari, bahwa kalau posisi mereka ada di sini sebagai PDP ataupun pasien positif seperti saya pasti yang paling mereka rindukan adalah rumah, sama seperti saya.

Selain itu tetaplah berfikir positif dengan membekali ilmu dari sumber-sumber yang terpercaya. Buang jauh-jauh berita yang tidak tahu sumber dan kebenarannya.

Selalu ikuti anjuran pemerintah untuk physical distancing, menjalankan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), mencuci tangan dengan sabun dan usaha lain untuk menghindari virus berbahaya ini.

Kalau kalian merasa bosan saat karantina atau isolasi mandiri, isilah dengan kegiatan-kegiatan positif dalam hal ibadah dan olahraga. Karena itu sangat membantu dalam memberikan energi positif bagi tubuh dan imunitas kita. Kalau kalian merasa berat, ingatlah betapa menderitanya diisolasi seperti saya dengan total 32 hari.

Demikian ungkapan hati Agus, penyintas COVID-19 yang sukses bangkit dari keterpurukan. Dukungan orang-orang dekat menjadi penguat mental. Menjaganya tetap berpikir positif dan menerbitkan harapan untuk hidup lebih lama.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓