Megengan Ramadan Menghilang, Tanda Lahirnya Peradaban Baru?

Oleh Kusfitria Marstyasih pada 17 Apr 2020, 04:00 WIB
Diperbarui 17 Apr 2020, 04:00 WIB
megengan

Liputan6.com, Demak - Selalu ada perayaan menyambut Ramadan. Namun pandemi corona covid-19 memporakporandakan seluruh tradisi yang sudah berumur ratusan tahun. Mungkinkah corona menjadi pemicu peradaban baru?

Salah satu pusat perkembangan Islam di Indonesia adalah Demak. Tentu kota kabupaten di timur kota Semarang ini juga memiliki rangkaian acara, mulai bulan Ruwah atau Sya'ban hingga Ramadan.

Megengan adalah sebuah tradisi menyambut Ramadan. Megengan berarti 'menahan'. Megengan dimaknai sebagai simbol menahan hawa nafsu. Makanan yang tumpah ruah dan pertunjukan seni yang dihadirkan adalah simbol godaan duniawi.

Biasanya Megengan digelar di alun-alun di sekitar Masjid Agung Demak. Jalan raya disulap sebagai arena festival.

Mempertahankan tradisi lama, tradisi ini dibuka oleh Bupati Demak dengan pemukulan bedug. Ini sekaligus tanda bahwa bulan Ramadan tinggal beberapa jam.

Bagi pengunjung, dihadirkan berbagai seni pertunjukan. Juga sajian kuliner berjejer. Tak cukup hanya alun-alun, tempat kemudian meluas hingga jalan-jalan raya di sekitar Masjid Agung Demak.

Khusus untuk kuliner, ada yang wajib dan selalu tersaji tiap tahun berupa pecel sayuran dengan keong sawah. Disantap dengan lontong yang dibungkus daun pisang.

Lalu bagaimana dengan Megengan tahun 2020? Tahun yang menjadi perubahan sosial secara merata dan struktural.

Ya. Tradisi ratusan tahun itu harus ditiadakan. Pemerintah Kabupaten Demak secara tegas menyatakan untuk tahun ini tidak menggelar kegiatan Megengan. Menurut HM Natsir, Bupati Demak, tahun ini memang ditiadakan.

"Pemkab Demak tidak menggelar Megengan menyambut Ramadan," kata HM Natsir, Rabu (15/4/2020).

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

 

2 dari 3 halaman

Yang Bingung Ditagih Hutang

megengan
Berebut aneka jajanan selalu membawa kenangan, namun tahun 2020 tak ada lagi. (foto: Liputan6.com/kusfitriya marstyasih)

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Agus Kriyanto menjelaskan lebih gamblang peniadaan itu untuk menghindari pengumpulan massa. yang biasanya bertindak selaku panitia kegiatan juga menyatakan hal senada.

Tradisi yang tiba-tiba menghilang, tentu menimbulkan kekecewaan. Serupa pacar yang tiba-tiba menghilang justru ketika sedang berada di puncak sayang.

Salah satunya adalah kaum pedagang. Ketiadaan Megengan tahun ini membuat para pedagang kecewa. Mereka banyak yang menjadikan Megengan sebagai salah satu sumber penghasilan untuk bekal Ramadan dan Lebaran.

Ahmad Zaeni, Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Adem Ayem Kabupaten Demak menyebut bahwa akibat pandemi corona covid-19, nasib PKL seperti telur di ujung tanduk.

"Tetap taat peraturan. Tapi bingung karena tidak ada lagi sumber penghasilan. Modal sudah habis untuk biaya makan sehari hari," kata Zaeni.

Kebingungan para PKL makin bertambah ketika pihak bank tetap menagih angsuran di tengah ekonomi rakyat kecil yang makin tercekik.

"Kami berupaya mediasi ke pemerintah desa terkait angsuran modal pinjaman. Ternyata Pemerintah Desa juga tidak bisa mengambil kebijakan final karena itu otoritas bank," kata Zaeni.

Para PKL berharap virus Corona segera teratasi sebelum Ramadhan sehingga mereka bisa 'mremo'. Mremo adalah istilah untuk berjualan secara khusus dan bisa mengambil keuntungan lebih besar.

Lalu benarkah corona covid-19 akan melahirkan peradaban baru dan meniadakan tradisi lama? Apalagi momentum pandemi corona ini benar-benar menjadi revolusi komunikasi masyarakat tradisional yang sebelumnya lebih suka kontak fisik.

Jawabannya baru akan terlihat setelah pandemi corona covid-19 teratasi.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut

Lanjutkan Membaca ↓