Tak Ada Dlugdag Keraton Kasepuhan, Awal Ramadan nan Sunyi di Cirebon

Oleh Panji Prayitno pada 17 Apr 2020, 03:00 WIB
Diperbarui 17 Apr 2020, 03:00 WIB
Saat Pandemi Covid-19 Ancam Pelestarian Tradisi Dlugdag Jelang Ramadan
Perbesar
Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon menabuh bedug bertalu-talu dalam Tradisi Dlugdag menjelang Ramadan. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Liputan6.com, Cirebon - Pandemi Covid-19 berdampak signifikan bagi semua sektor. Kebijakan untuk membatasi kegiatan sosial membuat sejumlah agenda berhenti termasuk menjelang Ramadan ini.

Berbagai kegiatan tradisi menjelang Ramadan di Cirebon terancam tidak berjalan. Sultan Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat mengaku masih mempertimbangkan untuk menjalankan tradisi dlugdag.

"Sedang kami diskusikan dengan penghulu kaum dan kerabat keraton termasuk tradisi dlugdag," kata PRA Aried Natadiningrat saat dikonfirmasi, Kamis (16/4/2020).

Dlugdag adalah menabuh bedug bertalu-talu yang dilakukan Keraton Kasepuhan Cirebon. Dlugdag dipimpin langsung oleh Sultan Arief Natadiningrat.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dlugdag merupakan salah satu tradisi Cirebon yang selalu dinanti masyarakat setiap memasuki Ramadan.

"Dilakukan di akhir bulan Syakban sebagai tanda memasuki Ramadan sekaligus memberitahukan bahwa nanti malam Salat Sunah Tarawih," kata Sultan Arief.

Di area Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon, masyarakat sudah menanti kehadiran Sultan dan kerabat. Warga yang sudah menunggu lama menyempatkan diri bersalaman dengan Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon.

Tradisi dlugdag dilakukan pada sore hari setelah Sultan Keraton Kasepuhan melaksanakan ibadah Salat Ashar.

"Ada banyak tradisi yang biasa dilaksanakan pada momen Ramadan ini selain dlugdag ada misalnya tadarusan maleman sampai takbiran. Itu sedang kami bahas dulu," ujar dia.

2 dari 3 halaman

Wali Sanga

Saat Pandemi Covid-19 Ancam Pelestarian Tradisi Dlugdag Jelang Ramadan
Perbesar
Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon menabuh bedug bertalu-talu dalam Tradisi Dlugdag menjelang Ramadan. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Sultan Arief mengaku pandemi covid-19 berdampak kepada semua sektor. Termasuk kegiatan tradisi budaya yang diwariskan oleh nenek moyang Cirebon.

Namun, keraton Kasepuhan tetap mengikuti arahan pemerintah untuk membatasi kegiatan sosial dan menerapkan physical distancing.

"Petunjuk pemerintah kan tidak boleh ada kegiatan yang mengundang orang. Jadi adat tradisi yang menghadirkan banyak atau lebih dari dua orang ditiadakan," kata dia.

Seperti diketahui, Dlugdag merupakan kolaborasi budaya Islam yang dibawa Wali Sanga khususnya Sunan Gunung Jati.

"Bedug sendiri sudah ada sebelum Islam masuk. Jadi Wali Sanga menyebarkan Islam tanpa menghilangkan jati diri masyarakat kita yang berbudaya," ujar dia.

Saat itu, kata Sultan Arief, masyarakat Cirebon belum mengenal Islam. Beduk digunakan sebagai penanda bagi masyarakat di Cirebon itu sendiri.

"Oleh Wali Sanga dipadukan dengan ajaran Islam tanpa meninggalkan tradisi leluhur jadilah Islam Nusantara ini. Dlugdag hanya ada di Keraton Kasepuhan saja," kata Sultan Arief.

Sultan Arief menjelaskan, tradisi Dlugdag memiliki makna silaturahmi yang kuat bersama warga dan abdi dalem. Tidak sedikit dari mereka yang datang hanya menunggu Sultan Cirebon menabuh bedug.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓