Bisa Dicoba, Tumbuhan dari Papua Penangkal Corona Covid-19

Oleh Katharina Janur pada 27 Mar 2020, 05:30 WIB
Diperbarui 27 Mar 2020, 05:30 WIB
Ilustrasi Rumput Laut

Liputan6.com, Jayapura Pasien dengan gejala mirip corona covid-19 biasanya disertai dengan demam tinggi. Berbagai tanaman herbal di Papua, mampu redakan demam. Ramuan ini pun telah dilakukan turun temurun dari nenek moyang di Papua. 

Peneliti dari Universitas Cenderawasih, I Made Budi menyebutkan daun Sampare salah satunya yang dapat menurunkan demam tinggi. Biasanya, masyarakat hanya merebus daun ini dan minum air rebusannya dan demam pun mulai menghilang.

Daun Sampare merupakan tumbuhan perdu, dengan tinggi 2-3 meter. Daun Sampare banyak dijumpai di Biak Papua dan tumbuh liar.

Masyarakat Papua biasa mengenal daun Sampare untuk mengobati penyakit malaria, obat tradisional Sampare telah dimanfaatkan turun-temurun dari nenek moyang masyarakat lokal di Biak Papua.

Hal lainnya untuk mengobati gejala corona covid-19 juga bisa dengan madu yang mix dengan rumput laut.

“Karena virus sifat asam, jika madu di-mix dengan rumput laut, maka PH tubuh jadi netral dan peluang virus jadi melemah,” kata Made dikenal dengan penemu khasiat buah merah Papua.

Dilansir dari papua.go.id,  budidaya rumput laut di Papua banyak terdapat di pesisir pantai, diantaranya di Kabupaten Biak Numfor, Kepulaun Yapen, Kabupaten Supiori, dan Kabupaten Nabire.

Daerah budidaya dikelilingi pulau-pulau, sehinggga terlindung dari ombak besar dengan laut yang masih asli dan minim adanya pencemaran.

Dalam pengembangannya, bibit rumput laut diikat pada batu dan disebarkan pada area budidaya dalam posisi berjajar, untuk melindungi rumput laut dari predatornya maka digunakan jaring yang berfungsi sebagai pagar.

Lalu ada juga dengan budidaya tonggak dipancang yang saling berhadapan berjarak masing-masing 1,5 meter memenuhi area budidaya. Jarak tanaman dengan permukaan air laut diatur sedemikian rupa sehingga pada saat pasang surut terendah masih tetap berada di dalam air laut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aaron Rumainum menyebutkan untuk penyebaran corona covid-19 dapat dilakukan dengan meningkatkan daya tahan tubuh.

Untuk meningkatkan imunitas, seseorang lebih dianjurkan untuk istirahat cukup. Termasuk mengkonsumsi banyak sayur dan buah.

“Usahakan tak merokok, tak mengkonsumsi alkohol, biasakan cuci tangan, olahraga teratur dan menyantap makanan bergizi. Dijamin kekebalan tubuh seseorang akan terus membaik,” jelasnya.

 

2 dari 2 halaman

Buah Merah Papua

Buah Merah
Buah Merah Khas Papua yang Jadi Buruan Negara-Negara di Dunia

Tanaman dari Papua lainnya dipercaya dapat meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh adalah buah merah Papua. Buah meah bahkan sering disebut sebagai multivitamin.

Kandungan tokoferol dan betakaroten yang sangat banyak, membuat minyak sari buah merah sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia, karena mengandung berbagai macam vitamin dan mineral.

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menyebutkan sejak masa prasejarah, Suku Dani di Lembah Baliem telah mengkonsumsi buah merah dan labu koteka. Keduanya dikonsumsi sehari-hari dan berfungsi sebagai obat.

Buah labu koteka oleh suku Dani digunakan sebagai obat tifus. Sedangkan buah merah terbukti mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dari penyakit, termasuk virus corona.

Buah merah oleh suku Dani disebut dengan kuansu atau nama ilmiahnya pandanus conoidus. Buah merah mengandung anti oksidan alami yang tinggi, serta berbagai vitamin dan zat seperti karoten 12.000 ppm, bekaroten 700 ppm, tokoferol 11.000 ppm yang berperan aktif untuk meningkatkan stamina dan sistem kekebalan tubuh.

Beberapa zat lain dalam buah merah diyakini dapat meningkatkan daya tahan tubuh, yaitu asam oleat, asam linoleat, dekanoat, omega 3 dan omega 9 yang semuanya merupakan senyawa aktif penangkal terbentuknya radikal bebas dalam tubuh.

Buah merah dapat ditemukan dari dataran rendah sampai tinggi. Diperkirakan lebih dari 30 kultivar pandan buah dapat dijumpai di Papua, masing-masing dengan nama yang berbeda tiap karakter buah dan tiap daerah.

“Misalnya, buah merah asal Distrik Kelila, Lembah Baliem barat mempunyai nama lokal yang berbeda yang merujuk pada perbedaan ukuran, warna buah, warna daun, dan rasa, seperti maler, ugi, oakelu, kenen, wona, kuambir, gepe, barugum, magari, werene dan baga,” kata Hari.

Olahan dari buah merah dapat dibuat sebagai pelengkap sayur dan salah satu unsur pelengkap dalam upacara adat bakar batu. Buah merah yang diekstraksi akan menghasilkan minyak yang digunakan untuk pewarna masakan, bahan kerajinan, serta pengobatan.

Peneliti dari Universitas Cenderawasih, I Made Budi menyebutkan selain untuk meningkatan kekebalan tubuh manusia, buah merah juga mengobati penyakit kanker serta tumor ringan.

Kandungan zat tokoferol serta betakaroten pada buah merah sangat tinggi dan difungsikan sebagai antioksidan dalam tubuh kita.

DR Made membuat buah merah sebagai ekstrak minyak. Minyak dalam buah merah banyak juga dicari oleh penderita HIV/AIDS. Walau begitu, penderita HIV/AIDS harus tetap mengkonsumsi ARV.

Pada buah merah Papua ditemukan zat lain seperti Omega 3, Omega 9, asam linoleat, asam oleat, dan dekanoat yang berfungsi untuk memperbaiki daya tahan tubuh dan juga untuk menghilangkan zat-zat radikal bebas yang terdapat di dalam tubuh manusia.

simak video pilihan berikut ini:

 

 

Lanjutkan Membaca ↓