STMIK Primakara Ciptakan Gerbang Penyemprot Disinfektan Otomatis

Oleh Dewi Divianta pada 22 Mar 2020, 05:30 WIB
Diperbarui 22 Mar 2020, 05:30 WIB
STMIK Primakara Ciptakan Pintu Gerbang Disinfektan Otomatis
Perbesar
STMIK Primakara Ciptakan Pintu Gerbang Disinfektan Otomatis (Liputan6.com/Dewi Divianta)

Liputan6.com, Denpasar Kampus STMIK Primakara Bali tergerak menciptakan gerbang otomatis penyemprot disinfektan. Ketua STMIK Primakara, I Made Artana menjelaskan, alat yang diciptakan oleh lembaganya adalah alat semprot disinfektan otomatis.

“Alat ini adalah sebuah pintu gerbang, di mana ketika orang yang masuk ke bandara atau tempat-tempat seperti kantor pemerintah yang masih memberi layanan, ketika lewat pintu gerbang ini akan tersemprot otomatis disinfektan,” kata Artana saat ditemui di kampusnya, Sabtu (21/3/2020).

Sebagai kampus IT, Artana mengaku tergerak membantu pemerintah dalam mempermudah penyemprotan diinfektan. Pintu gerbang otomatis ini dapat digunakan di fasilitas publik seperti bandara, pusat perbelanjaan atau perkantoran.

“Idenya sebetulnya kita melihat ketika orang masuk bandara itu kan disemprot manual. Demikian juga ketika masuk-masuk ke pusat perbelanjaan atau perkantoran. Problem-nya itu, orang yang disemprot dan yang menyemprotkan sama-sama risih. Oleh karena itu, kemarin kebetulan ada teman yang men-trigger dan kami coba ciptakan alat ini,” tuturnya.

Dikatakannya, alat tersebut memiliki teknologi yang cukup sederhana. “Teknologinya cukup sederhana. Kita menggunakan IOT (Internet Opting). Dia mendeteksi gerak atau jarak. Begitu ada orang, dia men-trigger pompa untuk menyala menyemprotkan disinfektan,” paparnya.

Soal biaya, Artana bercerita jika alat produksi tersebut membutuhkan kocek sekitar Rp6 juta. Bagi instansi atau perusahaan yang tertarik dengan alat ciptaan kampusnya, Artana mempersilakan untuk menghubungi kampusnya.  

“Kalau dibutuhkan, kami siap membantu memperbanyak alat ini. Kami bergerak saja membuat sesuatu yang kita bisa sesuai keilmuan kita. Kalau ada intansi yang memerlukan, kami siap membuatkan. Kami tak mau mengambil keuntungan. Hanya biaya produksi saja sekitar Rp6 juta yang akan dibebankan kepada lembaga yang memesan tersebut,” tutur dia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya