Kisah Pilu Dinar, Bocah Penyintas Bencana Palu di Tengah Pandemi Virus Corona Covid-19

Oleh Heri Susanto pada 21 Mar 2020, 18:00 WIB
Diperbarui 21 Mar 2020, 18:00 WIB
Dinar sedang mengerjakan tugas sekolah di tenda daruratnya di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Rabu (18/3/2020). (foto: Liputan6.com/Heri Susanto).

Liputan6.com, Palu - Darurat wabah virus Corona Covid-19 membuat sejumlah pemerintah daerah mengambil kebijakan mengalihkan belajar para siswa di rumah masing-masing.

Di Kota Palu, kebijakan itu harus dijalani anak-anak penyintas bencana gempa yang belum mendapat hunian dari dalam tenda darurat mereka, dengan kondisi miris penuh keterbatasan.

Seperti pelajar lainnya di Kota Palu, sejak Selasa 17 Maret 2020, Dinar Dwi Wahyuni (11 th) siswi kelas 2 sekolah dasar tidak lagi belajar di sekolah sesuai kebijakan pemda untuk mencegah penyebaran virus Corona Covid-19.

Tidak seperti anak-anak umumnya, Dinar dan beberapa anak lainnya di shelter pengungsian di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, menghabiskan siang dengan belajar, bukan di rumah yang nyaman dengan akses mudah ke segala situs belajar.

“Ada tugas matematika dari sekolah. Salama diliburkan 14 hari harus tetap belajar,” kata Dinar kepada Liputan6.com di dalam tendanya, Rabu siang (18/3/2020).

Di tenda darurat yang ditempatinya sejak November 2018 tersebut gadis kecil itu harus berbagi ruang dengan tiga saudara yang masih kecil dan orang tuanya. Ruang sama yang juga menjadi tempat adik-adiknya bermain di tengah cekaman hawa panas siang yang menyusup ke dalam tenda.

Sesekali anak kedua dari empat bersaudara itu keluar dari pengap tendanya sekadar mencari udara segar dan mengeringkan keringat, sebelum kembali mengucil di dalam tenda berukuan 4 X 5 meter.

“Sulit, panas sekali di sini,” keluh Dinar, menuturkan betapa dia kepayahan belajar di shelter, usai diliburkannya sekolah untuk mencegah penularan virus Corona Covid-19.

 

2 dari 3 halaman

Covid-19 Bikin Khawatir Penyintas di Tengah Minimnya Perlindungan Kesehatan

Dinar, adik, dan ibunya sedang berada di dalam tenda daruratnya di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Rabu (18/3/2020). (foto: Liputan6.com/Heri Susanto).
Dinar, adik, dan ibunya sedang berada di dalam tenda daruratnya di Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Rabu (18/3/2020). (foto: Liputan6.com/Heri Susanto).

Setiap hari sejak diharuskan belajar di rumah, Dinar menyempatkan waktunya siang dan malam hari untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan gurunya. Selain buku pelajaran, sumber ilmunya, adalah sang ibu yang nyambi sebagai penjahit pakaian.

Bimbingan dari guru untuk siswa selama masa libur sebenarnya bisa didapat Dinar seperti anak-anak lain dengan gadget dan internet. Namun opsi itu terbilang mahal di tengah pemulihan ekonomi yang sedang dilakukan orang tuanya pascabencana pada 28 September 2018.

“Kalau anak-anak yang ada, orangtuanya bisa komunikasi dengan guru pakai internet dan WA,” katanya.

Orangtua Dinar, Murdiyah (36 th) bukannya tak ingin anaknya belajar dengan nyaman. Ia bisa saja membawa anaknya itu ke rumah kerabat atau kenalannya. Tapi kehawatiran terhadap virus Corona yang tengah mewabah membuatnya memilih menemani anaknya belajar di tenda darurat.

“Khawatir sekali kalau anak-anak di luar. Mau tidak mau anak-anak belajar di sini saja. Cuma ini yang kami punya,” tutur Murdiyah.

Murdiyah berharap pemerintah, di masa darurat pencegahan virus Corona ini, juga memberi perlindungan kesehatan kepada mereka agar wabah tersebut tidak sampai menjadi bencana ke dua untuk dia dan 200-an kepala keluarga yang masih menempati tenda darurat di bukit Kelurahan Balaroa.

“Sejak ramai virus Corona tidak pernah ada pemeriksaan kesehatan untuk kami dan lingkungan di sini. Kasihan juga anak-anak, kami khawatir sekali,” Murdiyah mengungkapkan.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓