Merawat Gambut dan Sagu sebagai Sumber Kehidupan di Sungai Tohor Meranti

Oleh M Syukur pada 17 Mar 2020, 20:00 WIB
Diperbarui 17 Mar 2020, 20:00 WIB
Beberapa olahan sagu yang ditampilkan dalam Festival Sagu Nusantara di Kepulauan Meranti.
Perbesar
Beberapa olahan sagu yang ditampilkan dalam Festival Sagu Nusantara di Kepulauan Meranti. (Liputan6.com/M Syukur)

Liputan6.com, Meranti - Lahan Gambut dan tanaman sagu menjadi hal tak terpisahkan di Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi, Kepulauan Meranti, Riau. Dengan keduanya, rata-rata masyarakat di sana dapat menyambung hidup sejak puluhan tahun lalu.

Desa Tohor mulai menjadi perhatian ketika terbakar hebat pada tahun 2015. Asap kebakaran lahan tidak hanya menutupi sebagian besar wilayah Riau tapi juga menyeberang ke Malaysia.

Kala itu, apa yang terjadi di kabupaten termuda ini mendapat perhatian serius dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dari sanalah kemudian muncul ide membuat badan untuk restorasi gambut (BRG) dan tetap dimanfaatkan masyarakat tanpa memunculkan degradasi.

Kini, 120 ribu penduduk di Sungai Tohor dan kecamatan itu perlahan maju dengan sagu dari gambutnya. Bahkan Meranti dikenal dengan kota sagu, mengalahkan daerah lainnya yang juga terdapat tanaman serupa.

Dari tanggal 13 sampai 15 Maret 2020, Desa Sungai Tohor menggelar Festival Sagu Nusantara. Ragam olahan sagu ditampilkan termasuk pesta rakyat seperti lomba menggelindingkan tual sagu, lari di atas tual sagu hingga membuat anyaman dari pelepah sagu.

Tak sebatas seremonial, kegiatan sebagai kampanyenya agar sagu tidak lagi menjadi tanaman terpinggirkan lagi tapi sebagai sumber ekonomi. Diharap ada penelitian lebih serius kedepannya untuk menciptakan varietas sagu unggul dan ragam produk hilir lainnya sebagai komoditas ekonomi.

Menurut Kepala Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut (BRG) Dr Haris Gunawan, gambut di Meranti mendapatkan perhatian lebih karena sangat unik dibanding tanah serupa di Riau atau Indonesia. Gambutnya sangat rapuh karena hanya mendapat air dari hujan.

Menjaganya tetap basah dengan sistem perairan memadai sehingga menjadi percontohan bagi daerah lain sudah menunjukkan hasil. Tidak ada lagi kebakaran lahan hebat di sana tapi hanya riak-riak yang bisa dipadamkan dalam hitungan jam.

Kebasahan gambut dengan kanal dan embung merupakan hulu yang tetap dijaga hingga kini. Begitu juga dengan tanaman sagunya karena sangat bersahabat dengan gambut dan tidak membuatnya kering seperti sawit ataupun akasia.

"Gambut itu 80 persennya adalah air, kalau air tidak dipertahankan maka gambutnya hilang. Hingga kini belum ada solusi permanen untuk menjaga air ini, makanya Presiden perintahkan jaga airnya dengan kanal yang baik," kata Haris.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Intan Permata

Seorang pekerja di kilang sagu mengupas tual sagu untuk diolah menjadi sagu basah.
Perbesar
Seorang pekerja di kilang sagu mengupas tual sagu untuk diolah menjadi sagu basah. (Liputan6.com/M Syukur)

Haris menyebut gambut adalah intan dan sagu sebagai permata. Jika keduanya dijaga dengan baik maka menjadi sumber ekonomi menjanjikan bagi masyarakat setempat.

Dengan event ini, Haris berharap ada penelitian lebih lanjut untuk menciptakan varietas unggul sagu sehingga tidak perlu lama masa panennya. Penemuan bibit unggul bisa terjadi karena saat ini di Indonesia ada sekitar 30 varietas sagu.

"Kalau misalnya saat ini panen hingga 10 tahun, harapannya dengan menggundang jejaring dari berbagai universitas maka ada penemuan bibit yang bisa panen enam tahun," jelas Harris.

Dengan adanya varietas unggul ini, kemungkinan masyarakat mengkonversi tanaman sagu di lahan gambut dengan tanaman tentu tidak ada. Dan hal ini belum terjadi karena masyarakat Desa Sungai Tohor masih setia dengan gambut.

Beberapa penelitian nantinya diharap lebih mempopulerkan sagu di Indonesia. Tidak dari segi ekonomi tapi juga ekosistem karena sagu bisa mempertahankannya dengan baik.

"Itu dari segi hulu dan harus dipikirkan hilir agar gambut dan sagu memberikan manfaat ekonomi selain ekosistem," kata Haris.

Dari sisi hilir, sambung Haris, bagaimana sagu menghasilkan ragam makanan. Tidak hanya sebagai dasar saja seperti sagu basah ataupun kering (tepung) tapi juga industri. Tidak perlu seperti pabrik cukup dari sisi industri kecil menengah.

Dengan ini warga yang tidak punya lahan sagu ataupun kebunnya tidak luas bisa membuat ragam olahan sagu. Tidak hanya mi sagu ataupun keripik yang saat ini sudah dikenal tapi bisa produk lain yang menjadi komoditi unggulan.

"Inovasi ini perlu gerakan masyarakat, perlu banyak teman dan inovasi agar hilirisasi sagu ini lebih familiar di lidah masyarakat," sebut Haris.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menunggu Mi Instan

Pekerja kilang sagu memasukkan tual sagu yang dipotong-potong ke mesin penghancur.
Perbesar
Pekerja kilang sagu memasukkan tual sagu yang dipotong-potong ke mesin penghancur. (Liputan6.com/M Syukur)

Sementara itu, guru besar dari Jepang, Prof Kozuke Mizuno menyatakan penelitian soal gambut dan hilirisasi gambut saat ini masih minim. Hal ini dirasa wajar karena ada anggapan sagu adalah tanaman pinggiran dan sumber ekonominya juga sedikit.

Anggapan ini, tegas Mizuno, di tengah ancaman pemanasan global karena degradasi gambut sudah seharusnya dirubah. Pasalnya, menanam sagu dengan ragam pangan yang sudah ditemukan termasuk bagian dari restorasi gambut.

"Kalau menanam akasia di gambut itu membuatnya kering, degradasi. Kalau sagu cocok dengan gambut karena bisa mencegah kebakaran lahan, maka perlu diperhatikan karena global warming menjadi masalah internasional," jelasnya.

Sudah saatnya, sambung Mizuno, sagu di gambut dianggap menjadi tanaman global karena bisa menjaga ekosistem. Selanjutnya dari sini harus diperhatikan hilirisasi sebagai komoditas ekspor ataupun lokal.

"Bagaimana nanti sagu di mana-mana, lebih hemat devisa. Ini juga untuk menghadapi ekonomi global karena kebutuhan impor," kata Mizuno.

Salah satu contoh, bagaimana kemudian pabrik-pabrik mi instan di Indonesia mulai menciptakan varian berbahan sagu. Tidak menutup kemungkinan nanti adanya mi kari ayam dari sagu karena bahannya mudah didapat.

"Tidak seperti tepung terigu yang bahannya harus impor. Terigu juga tidak mungkin dibudidayakan di Indonesia karena tidak ada tanah yang cocok untuk gandum sebagai bahan tepung terigu," jelasnya.

Dari sisi industri kecil menengah, Mizuno menganggap modal tidak menjadi masalah. Dengan berkembangnya produk hilir sagu rumah tangga, akan banyak kredit dari perbankkan mengalir ke masyarakat.

"Kalau hilirisasi sagu berhasil maka restorasi gambut akan berhasil," katanya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya