Pandemi Covid-19 dan Kegusaran Pengelola Belasan Kilang Sagu di Meranti

Oleh M Syukur pada 17 Mar 2020, 12:00 WIB
Diperbarui 17 Mar 2020, 12:00 WIB
Tual sagu di pinggir salah satu kilang yang belum diolah karena pengelola masih gusar soal virus corona.
Perbesar
Tual sagu di pinggir salah satu kilang yang belum diolah karena pengelola masih gusar soal virus corona. (Liputan6.com/M Syukur)

Liputan6.com, Meranti - Belasan kilang sagu di Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, tidak sesibuk seperti biasanya. Kondisi ini sudah berlangsung dalam dua bulan belakangan karena imbas dari virus corona covid-19.

Minggu siang, 16 Maret 2020, belasan karung berisi sagu basah masih menumpuk di setiap kilang, seolah menunggu kepastian kapan akan diekspor ke Malaysia. Jika dibiarkan hingga dua pekan, kualitas bahan utama pembuat tepung sagu itu dipastikan menurun.

Pemilik dan pekerja di desa penghasil sagu tentu saja gusar. Tidak lagi soal keuntungan, tapi tiap harinya menghitung kerugian karena produksi sagu basah mereka sudah lama tidak terima negeri jiran itu.

Salah satu pengelola kilang, Jasri menyebut kerugian yang dialaminya dalam sebulan bisa mencapai Rp100 juta. Jika dikalikan dengan 15 kilang yang ada saat itu, sudah ada Rp 1,5 miliar kerugian yang dialami.

"Itu kerugian dari kilangnya saja, belum dari petani sagunya. Sebab kami tak berani menerima karena imbas dari virus corona ini, toke tidak mau mengirim ke Malaysia," kata Jasri di kilangnya.

Di kilang Jasri, ada puluhan tual sagu mengantre untuk dikupas lalu dimasukkan ke mesin penghancur. Jumlah ini belum termasuk ratusan tual yang mengantre di pinggir kanal yang tak jauh dari kilang.

Jasri hanya mengolah sedikit saja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar yang sudah menjadikan sagu sebagai panganan utama.

"Kalau diolah semuanya mau dikirim ke mana nanti, sementara sagu basah ini bagusnya hanya 15 hari. Lebih dari itu ada noda hitam, tidak bagus jadinya," kata Jasri.

Jasri hanya berharap virus corona yang sudah ditetapkan menjadi pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) ini segera berlalu. Menjelang itu, dia berharap ada solusi, baik itu oleh pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat.

"Soalnya kalau dipaksa dijual sementara, Malaysia tidak terima lagi, harga sagu tentu anjlok. Ini bisa juga berimbas kepada warga sini yang rata-rata mengolah sagu basah menjadi makanan," imbuhnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Ketahanan Tual Sagu

Seorang pengelola sagu bersama tual yang baru saja dikupas untuk dikelola menjadi sagu basah.
Perbesar
Seorang pengelola sagu bersama tual yang baru saja dikupas untuk dikelola menjadi sagu basah. (Liputan6.com/M Syukur)

Jasri menerangkan, tual atau potongan pohon sagu sepanjang satu meter lebih yang diambil dari petani hanya bertahan dua bulan di air. Air merupakan tempat parkir sekaligus sarana untuk mengangkut tual dari kebun petani.

Jika terkena air asin dari pasang karena Meranti merupakan pulau dikelilingi laut, usia tual sagu tak sampai segitu. Tual sagu akan mudah membusuk dan butuh waktu memisahkan antara yang bagus dan tidak.

"Ancaman berikutnya adalah ulat atau larva dari kumbang tanduk. Kami menyebutnya ulat mato yang bisa memakan tual sagu dari dalam, lama-lama membusuk," kata Jasri.

Meletakkannya ke darat juga bukan solusi. Apalagi saat ini cuaca Kepulauan Meranti lebih terik dari daerah lainnya sehingga membuat tual sagu kering. Jika ini terjadi, serat yang keluar dari mesin tidak banyak sehingga mempengaruhi produksi sagu basah.

"Inilah yang sedang kami hadapi dua bulan belakangan ini sebagai imbas dari virus corona," katanya.

Jasri menyebutkan, tual sagu yang sudah dihancurkan mesin akan mengalir ke wadah di ujung mesin. Ada beberapa wadah, satunya sebagai penyaring, di mana tumpukan sagu basah akan diambil lalu dimasukkan ke karung.

Menurut pekerja lainnya, Erman, satu tual bisa menghasilkan hingga 35 kilogram sagu. Satu kilogram sagu basah biasanya dijual ke pengepul Rp 1,9 ribu dan bisa naik jika permintaan banyak.

Sagu basah ini juga dipasarkan ke masyarakat sekitar ataupun daerah lainnya. Masyarakat akan mengolahnya lagi menjadi tepung, lalu dibuat beragam jenis bahan makanan, salah satunya mi sagu.

"Kalau pabrik pembuat tepung sudah ada di sini, punya perusahaan. Kalau masyarakat sendiri belum punya hanya kilang," jelas Erman.

Erman mengaku sudah bekerja di kilang yang berusia puluhan tahun. Hal ini juga dilakoni warga lainnya karena pendahulu Sungai Tohor memang menjadikan kebun sagu sebagai sumber kehidupan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya