Bukan Virus Corona, Ribuan Warga Sikka Terserang DBD Sepanjang 2020

Oleh Dionisius Wilibardus pada 06 Mar 2020, 01:00 WIB
Diperbarui 06 Mar 2020, 01:00 WIB
Korban DBD meninggal dunia saat berada di ruangan mayat dan keluarga korban menangis histeris. (Foto: Liputan6.com/Dionisius Wilibardus)
Perbesar
Korban DBD meninggal dunia saat berada di ruangan mayat dan keluarga korban menangis histeris. (Foto: Liputan6.com/Dionisius Wilibardus)

Liputan6.com, Sikka - Kasus Demam Berdarah Dengue atau DBD di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama rentang waktu 10 tahun terakhir, mengalami lonjakan yang sangat drastis pada 2020. Tahun ini, penderitanya sudah mencapai 1.117 orang.

Padahal, dari 2010 hingga 2018, total penderitanya 861 dengan korban meninggal dunia sebanyak 10 orang. Kasus terbanyak terjadi pada 2016, dengan 392 kasus dan 2 orang meninggal dunia dan tahun 2013 kasusnya berjumlah 378 dengan korban meninggal sebanyak 3 orang. Pada tahun itu, wabah DBD ini ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Kabupaten Sikka sudah 4 kali ditetapkan status KLB DBD yakni tahun 2010, 2013, 2016, dan tahun 2020 ini yang sudah ada perpanjangan status KLB," ujar Petrus Herlemus, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, saat ditemui media Liputan6.com, Senin, 2 Maret 2020.

Petrus mengatakan, KLB tahun 2020 ini sudah masuk fase krisis karena kalau dilihat 10 tahun terakhir, sudah 4 kali status KLB DBD, trennya sejak 2019 hingga awal 2020 sangat signifikan peningkatan kasusnya.

Dirinya menambahkan, pada tahun 2019 ada 620 kasus dan 13 orang meninggal dunia. Tahun 2020, sejak Januari hingga Maret sudah 1.117 kasus dengan 12 korban meninggal dunia.

"Kita sudah masuk fase krisis karena ada peningkatan kasus yang signifikan. Untuk itu, telah diturunkan 10 dokter yang diperbantukan dari Kementerian Kesehatan RI," jelasnya.

Selain mendapatkan bantuan dokter, Petrus menambahkan, pihaknya mendapat bantuan dari Tenaga Sosial Solidaritas Indonesia (TSSI) sebanyak 1.000 kelambu dan losion anti-nyamuk sebanyak 8 ribu saset, serta dana operasional dan dinas Kesehatan Sikka juga telah menyediakan losion anti-nyamuk sebanyak 6 ribu saset.

Losion anti-nyamuk tersebut, terangnya, akan dibagikan ke sekolah-sekolah yang banyak terdapat kasus DBD. Sedangkan, kelambu dibagikan ke desa-desa yang banyak terdapat kasus demam berdarah.

"Kita akan memotivasi lintas sektor agar turun membantu serta melakukan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) bersama. Selama 14 hari ke depan kita harus setiap hari rutin melakukan PSN untuk memutuskan mata rantai penularan DBD," tegasnya.

Sementara itu, Natalia warga desa Bola Kecamatan Bola ditemui media Liputan6.com, di laboratorium kesehatan dinas Kesehatan menyebutkan di desa Bola Kecamatan Bola sudah banyak warga yang terserang DBD dan dirawat di Puskesmas dan rumah sakit.

Menurut Natalia, meskipun sudah dilakukan berbagai cara dari dinas kesehatan Sikka untuk menekan lajunya kasus DBD, tetapi masyarakat masih khawatir penyakit ini terus berkembang. Untuk itu, dinas kesehatan terus menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

2 dari 3 halaman

Gerakan Berantas Sarang Nyamuk

Wabah DBD di Sikka NTT
Perbesar
Pasien DBD yang dirawat di ruangan anak RSUD TC Hillers Maumere. (Liputan6.com/Dionisius Wilibardus)

Untuk memerangi tingginya angka kasus Demam Berdara Dangue (DBD) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pemerintah Sikka, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dan Tenaga Sosial Solidaritas Indonesia (TSSI) membagikan losion anti-nyamuk gratis di beberapa sekolah dalam kota di Kabupaten Sikka, seperti SDK Bhaktiarsa dan SDN Kota Uneng.

Pembagian losion anti-nyamuk tersebut juga merupakan salah satu upaya menekan kasus DBD. Sampai saat ini, jumlah kasus DBD di Kabupaten Sikka sudah mencapai 1.117 kasus. Pasien yang dirawat karena kasus DBD di RSUD TC Hillers Maumere berjumlah 103 orang dan yang meninggal dunia sebanyak 12 orang.

"Ini merupakan kegiatan sosialisasi sekaligus mengajak semua masyarakat Kabupaten Sikka dari jumlah 319.000 jiwa pada 14 hari ke depan, kita akan melakukan gerak masal PSN mulai jam 07.00 pagi hingga jam 09.00 pagi, sehingga aktivitas perkantoran dan swasta maupun sekolah-sekolah akan diluangkan dalam 14 hari berturut-turut untuk membasmi sarang nyamuk yang ada di wilayah Kabupaten Sikka," ungkap Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo kepada ratusan murid SDK Bhaktiarsa, Rabu, 4 Maret 2020.

Menurut Bupati Fransiskus, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur dilanda wabah DBD hampir setiap tahun ketika musim hujan.

"Setiap tahun khususnya memasuki musim hujan, sampai dengan berakhirnya musim hujan itu kita harus selalu waspada. Karena penyakit ini sangat berbahaya, dalam 6 hari kalau kita tidak peduli dan tidak mengetahui kalau terkena DBD itu bisa menyebabkan kematian," ungkap bupati.

 

 

3 dari 3 halaman

Anak-Anak Jadi Pasien DBD

Wabah DBD di Sikka NTT
Perbesar
Bupati Sikka memberikan bantuan losion gratis ke siswa SDK Bhaktiarsa. (Liputan6.com/Dionisius Wilibardus)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka NTT, Petrus Herlemus, kepada Liputan6.com, Rabu (4/3/2020) menyampaikan losion anti-nyamuk akan dibagikan gratis ke semua sekolah yang ada di kabupaten Sikka.

"Saat ini losion anti-nyamuk berjumlah 12.000 saset, kita juga sudah meminta pada lembaga kesehatan di Kabupaten Sikka sehingga semuanya bisa diberi bantuan losion anti-nyamuk ke semua sekolah," ungkapnya.

Bantuan losion anti-nyamuk ini diharapkan bisa mengurangi kasus gigitan nyamuk di sekolah, di mana anak-anak berjam-jam mengikuti pelajaran di sekolah.

Sementara itu, Suster Yuliana Nina, Kepala Sekolah SDK Bhaktiarsa, menyampaikan, wabah DBD yang sedang terjadi di Kabupaten Sikka, menjadi kecemasan bagi para pendidik.

"Di mana tiap tahun di musim hujan, kami mulai takut dengan wabah DBD. Karena hampir setiap tahun murid-murid di SDK Bhaktiarsa juga terinfeksi DBD," sebutnya.

Tahun ini, dalam pantauannya, di sekolah ada beberapa anak juga sakit akibat DBD dan sampai diopname di RSUD TC Hillers Maumere.

"Pada tahun sebelumnya juga ada banyak siswa di SDK Bhaktiarsa juga terkena virus DBD," ujarnya.

Kejadian ini membuat pihak sekolah memperhatikan kebersihan lingkungan, bukan hanya di sekolah, melainkan juga di rumah para peserta didik dan tenaga pengajar.

Putri Daikian, salah seorang murid kelas 5 SDK Bhaktiarsa, mengaku senang dengan kedatangan Bupati Sikka ke sekolah mereka.

"Awalnya kami berpikir Bapak Bupati Sikka hanya datang kunjungi kami tetapi ini sangat baik Bapak Bupati Sikka datang ke sekolah kami sekaligus sosialisasi soal kebersihan untuk dan memberikan sumbangan losion gratis kepada kami untuk mengatasi masalah DBD," dia menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓