Aksi Maut Warga Berswafoto dengan Buaya-Buaya Sungai Palu

Oleh Heri Susanto pada 02 Mar 2020, 03:00 WIB
Diperbarui 02 Mar 2020, 03:00 WIB
Warga sedang asik berswafoto bersama buaya yang berjemur di tepi muara, Jumat (27/2/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)
Perbesar
Warga sedang asik berswafoto bersama buaya yang berjemur di tepi muara, Jumat (27/2/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)

Liputan6.com, Palu - Keberadaan buaya membuat muara Sungai Palu menjadi lokasi wisata dadakan warga. Bahkan tidak sedikit yang berswafoto bersama buaya yang sedang berjemur, meski bukan dengan si buaya berkalung ban yang sedang naik daun itu.

Sohor buaya berkalung ban dan buaya-buaya lainnya yang kerap menampakkan diri di kawasan muara Sungai Palu, telah mengubah kawasan tersebut menjadi lokasi wisata dadakan. Saban siang hingga sore, saat buaya-buaya berjemur di tepi sungai, ratusan warga memadati kawasan muara.

Mereka tidak dari Kota Palu saja tapi juga dari luar Palu semisal Manado, Poso, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan. Tidak sekadar menyaksikan dari kejauhan, buaya muara Sungai Palu yang tidak begitu agresif membuat beberapa warga bahkan nekad mendekati satwa buas tersebut dan berswafoto.

"Senang bisa foto bareng buaya ini biasanya hanya lihat di tv," ujar Ardi (27 th), warga asal Manado yang mengaku sengaja datang ke Palu untuk melihat buaya muara, Jumat (27/2/2020).

Tidak sedikit pula yang memanfaatkan momen kemunculan buaya itu untuk membuat konten Youtube berharap jumlah subcriber terdongkrak.

"Bagus untuk konten Youtube, soalnya sedang viral buaya-buaya di sini," sambung Dian (25 th), warga Palu.

Pantauan Liputan6.com di muara Sungai Palu, buaya-buaya berjemur saat siang hingga sore hari dengan ukuran panjang sekitar satu hingga empat meter lebih. Ketika didekati warga, buaya-buaya itu langsung sipat kuping kembali ke air.

2 dari 3 halaman

Buaya Muara Palu Bukan untuk Candaan

Seorang warga memfoto buaya di muara Sungai Palu. (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)
Perbesar
Seorang warga memfoto buaya di muara Sungai Palu. (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)

Aksi warga itu sendiri dinilai sangat berbahaya dan mengkhawatirkan baik untuk warga maupun satwa liar. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulteng, Haruna Hamma mengingatkan, buaya adalah hewan buas bahkan menjadi top predator di Sungai Palu sehingga insting memangsanya tetap ada terutama ketika lapar, kendatipun saat ini tampak tidak agresif.

Jika terus dibuat candaan oleh warga, buaya-buaya itu juga dikhawatirkan terganggu dan mengubah perilaku asli predator tersebut.

"Berwisata di sana (muara) silakan saja. Tetapi kami ingatkan jangan mengambil gambar dekat dengan buaya, untuk menghindari serangan satwa liar. Satwanya juga bisa terganggu," tegas Haruna, Sabtu (28/2/2020).

Haruna berharap warga yang berkunjung ke muara tidak lagi melakukan aksi konyol tersebut untuk mencegah jatuhnya korban.

Aksi nekat warga itu juga disebut Haruna, yang juga sebagai Ketua Satgas Penyelamatan Buaya Berkalung Ban, dapat mengganggu jalannya operasi penyelamatan buaya nahas itu. Pasalnya setiap kemunculan buaya target tangkap BKSDA itu warga selalu memadati lokasi, dan membuat si target semakin menjauh.

"Kami sebenarnya berharap masyarakat bersabar terkait operasi penyelamatan ini. Kami melihat buaya target semakin sulit didekati dan lebih agresif akibat selalu dikerumuni orang," harap Haruna lagi.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓