Kehadiran Sosok Gaib Sultan Matangaji Saat Situs Keramat Keraton Kasepuhan Cirebon Hancur

Oleh Panji Prayitno pada 16 Feb 2020, 04:00 WIB
Diperbarui 17 Feb 2020, 11:32 WIB
Saat Situs Keramat Sultan Matangaji Keraton Kasepuhan Cirebon Hancur

Liputan6.com, Cirebon - Kurdi, warga Kampung Melangse, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi Kota Cirebon , hanya bisa diam menatap puing bekas bangunan situs keramat yang ada di wilayah permukimannya.

Kurdi merupakan juru kunci situs keramat Sultan ke V Keraton Kasepuhan Cirebon Sultan Muhammad Sofiudin atau lebih dikenal Matangaji. Kurdi menyayangkan perusakan situs oleh oknum tak bertanggung jawab.

Akses jalan menuju situs yang sebelumnya melewati Gang Situganggga kini ditutup. Kurdi harus mengarungi Sungai Melangse untuk menuju situs tersebut.

"Tidak ada obrolan izin RT atau Rw setempat saja tidak. Saya juga sebagai pengurus di kampung ini tidak pernah kedatangan orang yang minta izin mau bangun bangunan," kata Kurdi, Jumat (14/2/2020).

Kurdi mengaku sempat kaget melihat dengan mata kepalanya sendiri situs Sultan Matangaji Cirebon tersebut hancur ditimpa reruntuhan tanah melalui alat berat. Kurdi sempat datang ke lokasi situs. Namun seketika dia kembali lantaran melihat bangunan sudah hancur.

Kurdi berupaya menyelamatkan sisa bata merah berukuran besar yang tidak tertimbun tanah. Seketika itu Kurdi mengaku sempat ditemui sosok gaib yang memerintahkannya untuk kembali.

"Saya lihat sendiri situs itu hancur karena alat berat tidak tahu mau bangun apa. Sebagai juru kunci ketika mau ke lokasi tiba-tiba datang amanat dari Sultan Matangaji. 'Cung jangan ikut campur, ini urusan orang tua'. Kemudian saya pulang, tapi ponakan marah tidak terima," kata dia.

Dia mengaku tidak tahu persis areal di atas situs keramat Cirebon itu akan dibangun apa. Hanya saja dia mengaku kecewa karena pada prosesnya tidak ada sosialisasi ke warga sekitar.

2 dari 3 halaman

Akses Terputus

Saat Situs Keramat Sultan Matangaji Keraton Kasepuhan Cirebon Hancur
Penampakan alat berat yang menimbun bangunan situs keramat Sultan Matangaji di Kampung Melangse Kota Cirebon. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Situs tersebut merupakan salah satu petilasan Sultan ke V Keraton Kasepuhan Cirebon Matangaji. Bentuknya seperti pertapaan lengkap dengan sumur keramat yang tak jauh dari lokasi.

"Beberapa orang ada yang datang berdoa di situs kepada Allah karena dianggap lebih konsen mengingat lokasinya yang asri. Kadang keluarga, kerabat, juga ada yang datang," ujar dia.

Kurdi mengaku sempat membuat akses jalan bersama warga sekitar menuju situs. Namun, upaya sia-sia dan jalan setapat itu pun rusak oleh alat berat.

"Sekitar dua mingguan ini-lah aktivitas alat beratnya. Akses utama sekarang harus mengarungi sungai," ujar Kurdi.

Tidak hanya situs, di kawasan tersebut terdapat satu pohon menua yang usianya sudah ratusan tahun. Pohon tersebut, kata Kurdi, turut menjadi korban aktivitas alat berat.

"Masih berbuah pohonnya hampir setiap hari panen," ujar Kurdi.

Kurdi menuturkan, berdasarkan cerita orang tuanya dahulu, Sultan Matangaji pernah tinggal di Kampung Melangse. Selain bertapa, Matangaji berperan penting dalam penyebaran Islam di kampung ini.

3 dari 3 halaman

Pengalaman Mistis

Saat Situs Keramat Sultan Matangaji Keraton Kasepuhan Cirebon Hancur
Sungai Melangse satu satunya akses jalan menuju Situs Keramat Sultan ke V Keraton Kasepuhan Cirebon Matangaji. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

Berbagai pengalaman dan cerita mistis banyak dialami warga sekitar. Dia menuturkan, pernah ada warga yang mancing di sungai dekat situs kemudian sakit.

"Pernah ada kejadian waktu itu ada orang mancing di sungai pas azan Zuhur tidak pulang dan salat beberapa waktu kemudian sakit. Sultan Matangaji dikenal bagus dan tegas dalam menyebarkan Islam di sini," kata dia.

Oleh karena itu, warga setempat mengaku segan dan tidak ada yang berani macam-macam terhadap petilasan Sultan Matangaji.

Selain pengalaman mistis, Kurdi mengisahkan perkampungan tersebut selalu lolos dari serangan Belanda. Bahkan, kampung tersebut menjadi salah satu dapur tentara rakyat Indonesia melawan Belanda.

"Saya pernah nemu dua granat dan sempat saya mau bongkar niat dibuat damar, tapi dimarahi bapak saya katanya nanti meledak. Konon kampung ini gaib ditutup sama kekuatan luhur Sultan Matangaji, makanya tidak dijajah Belanda," kata dia.

Kurdi yang sudah 18 tahun menjadi juru kunci tersebut berharap ada perhatian dari instansi terkait untuk menyikapi kerusakan situs.

Dia berharap oknum yang merusak ada iktikad baik memberi penjelasan kepadanya serta warga sekitar.

"Memang situs ini termasuknya situs lokal dan sepertinya tidak terdaftar, tapi lokasi itu sebenarnya tanah keraton," ujar dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓