Cerita Pencuri Baik Hati di Madura, Galau Lalu Menyerahkan Diri ke Polisi

Oleh Musthofa Aldo pada 09 Feb 2020, 12:00 WIB
Diperbarui 09 Feb 2020, 12:00 WIB
Pencurian
Perbesar
Hosnan dan bukti kalung yang ia curi

Liputan6.com, Bangkalan - Dalam dunia kriminal, tak banyak penjahat macam Hosnan. Pria 44 tahun berkepala plontos ini jenis penjahat yang langka, sehingga layak digelari: pencuri baik hati. Setelah mencuri, hatinya sama sekali tidak bungah, pikirannya justru rongseng. Maka dia menyerahkan diri ke polisi, sebagai obat galau plus cara menebus dosa.

Cerita Hosnan sebermula senin, 27 januari lalu. Bagi warga Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Senin adalah hari pasaran.

Pusat pasar terletak di Desa Ketawang Larangan. Pedagang dan pembeli tumpah ruah di sana. Senin juga berarti hari penuh kemacetan.

Dari rumah di Desa Payudan Nangger, Kecamatan Guluk-guluk, Hosnan juga ke Pasar Ganding Senin itu dan tergiur oleh sebuah kalung yang melingkar di leher seorang bocah di gendongan ibunya.

Dengan gerak tangan yang cepat, sekali tarik kalung itu telah berpindah tangan. Hosnan bergegas pergi, meninggalkan pasar riuh oleh seorang ibu yang baru sadar kalung anaknya telah raib.

Berhari-hari setelahnya, Hosnan justru dilanda bingung, pikirannya galau. Mungkin ia memang tak punya bakat jadi pencuri. Ia hanya berada di tempat dan waktu yang salah, Senin itu, dan tentu dengan sebuah alasan klasik: kerasukan setan.

"Tersangka bingung dan khawatir, perbuatannya akan menyengsarakan keluarganya di kemudian hari," kata Kasubag Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti.

Cerita ke Keluarga

Pencurian
Perbesar
Setelah menyerahkan diri, Hosnan berswafoto dengan aparat Polsek Ganding

Hosnan yang tak menemukan solusi dalam hatinya, memilih jalan terakhir yaitu menceritakan perampasan emas itu ke keluarga dan orang terdekat.

Entah bagaimana reaksi keluarga setelah mendengar kejujuran Hosnan. Yang pasti ending cerita Hosnan ini adalah keluarga mendukungnya menyerahkan diri ke polisi.

Mengakui dosa adalah obat mujarab agar hati dan pikirannya tak lagi dihantui kegelisahan.

Pada 1 Februari 2020, sepekan setelah Hosnan merampas kalung, ia menyerahkan diri ke kantor Kepolisian Sektor Ganding, sekitar 50 meter dari pasar, diantar langsung keluarga.

Sebuah kalung yang telah terputus menjadi dua bagian, lengkap dengan liontinnya juga diserahkan sebagai barang bukti.

Semoga penjara benar-benar bisa melenyapkan gundah dan menenangkan hati pria kelahiran 1976 ini. Apalagi antara waktu menyerahkan diri dan mencuri masih di jam yang sama. Menurut catatan polisi, ia menjambret jam 09.45 dan menyerahkan diri pas jam 09.00 WIB. Mungkin kebetulan ini sebuah isyarat baik bagi Hosnan.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓