Drama Penangkapan Buaya Berkalung Ban, Berkelit dari Harpun dan Jebol Pukat

Oleh Heri Susanto pada 08 Feb 2020, 20:00 WIB
Diperbarui 08 Feb 2020, 20:00 WIB
Petugas bersiap di delta untuk menangkap buaya dengan tombak, Jumat (7/2/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)
Perbesar
Petugas bersiap di delta untuk menangkap buaya dengan tombak, Jumat (7/2/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)

Liputan6.com, Palu - Operasi penyelamatan buaya berkalung ban oleh petugas gabungan BKSDA dan Polair Polda Sulteng, hingga hari kedua belum membuahkan hasil. Bahkan buaya malang tersebut tetap bisa meloloskan diri dari jebakan pukat yang dipasang mengelilinginya di Sungai Palu.

Jumat pagi (7/2/2020) upaya menangkap buaya berkalung ban berlanjut di Sungai Palu tepatnya di Kelurahan Tatura, Palu Selatan yang berjarak sekitar 4 kilometer dari Muara Sungai.

Petugas gabungan BKSDA dan Polair Polda Sulteng kali ini menggunakan pukat berukuran besar untuk menangkap si buaya. Pukat itu dipasang mengelilingi sebuah delta di tengah sungai yang selama ini menjadi "rumah" hewan yang sedang menjadi perhatian dunia tersebut.

Sebelumnya buaya target operasi petugas memang menampakkan diri di sekitar delta itu. Bahkan setelah pukat terpasang si buaya masih menampakkan dirinya.

Yakin target telah terkepung pukat, empat petugas bersiaga di delta. Dua diantaranya, masing-masing petugas BKSDA dan Polair siaga dengan tombak khusus yang akan menembus sebatas kulit buaya sehingga petugas berharap bisa lebih mudah membawa target ke tepi sungai.

Satu jam menunggu, yang dinanti akhirnya muncul. Petugas BKSDA dengan sigap melempar tombak yang terikat tali. Tepat. Petugas lainnya menarik tali dengan cepat setelah buaya berkalung ban itu menyelam.

 

2 dari 2 halaman

Adu Strategi Petugas BKSDA dengan Buaya Berkalung Ban

Setelah beberapa saat terlibat tarik menarik, petugas akhirnya menyadari target mereka lepas. Petugas pun kembali menunggu, yakin sang buaya tetap dalam kurungan pukat.

Namun sekali lagi petugas dan warga yang menyaksikan dibuat heran. Buaya berkalung ban yang mereka nanti-nanti tiba-tiba muncul di sebelah selatan sekitar 100 meter dari lokasi sebelumnya, di luar pukat yang tadi mengurungnya.

Hingga jumat petang petugas masih belum berhasil menaklukkan si buaya.

Pihak BKSDA Sulteng sendiri menduga buaya itu berhasil meloloskan diri dari pukat dengan menyelam hingga ke dasar. Kepala Seksi Wilayah 1 BKSDA Sulteng, Haruna, mengatakan meski kembali gagal, pihaknya yakin target mereka tetap akan bisa tertangkap dan diselamatkan dari jerat ban di lehernya.

"Kami coba semua strategi yang aman dan terukur, memang tidak mudah. Tapi kami yakin," kata Haruna, yang juga sebagai Ketua Satgas Penanganan buaya Muara itu, Jumat (7/2/2020).

Pantauan Liputan6.com di lokasi, pada jumat petang pukat telah pasang dari timur sampai barat di sekitar kemunculan buaya untuk mencegah hewan liar itu keluar dari Sungai Palu.

Simak video pilihan berikut ini:

Tampak dari udara, pukat dipasang mengelilingi delta rumah buaya kalung ban, Jumat (7/2/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)
Perbesar
Tampak dari udara, pukat dipasang mengelilingi delta rumah buaya kalung ban, Jumat (7/2/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)
Lanjutkan Membaca ↓