Langkah Pemda Antisipasi Penyebaran Wabah Antraks di Gunungkidul

Oleh Liputan6.com pada 20 Jan 2020, 22:00 WIB
Diperbarui 20 Jan 2020, 22:00 WIB
Kembali Ditemukan Waspadai Penyakit Mematikan Antraks

Liputan6.com, Gunungkidul - Pemerintah Kota Yogyakarta tetap melakukan antisipasi penularan antraks, salah satunya dengan memperketat pengawasan kesehatan sapi yang masuk di Rumah Pemotongan Hewan Giwangan, meskipun daerah itu tidak memiliki banyak peternakan sapi.

"Lalu lintas sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Giwangan cukup tinggi dan banyak sapi dari luar Kota Yogyakarta yang masuk untuk disembelih. Potensi penularan antraks justru lebih besar di lokasi ini sehingga pengawasan kesehatan harus diperketat," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Jumat, 17 Januari 2020, dilansir Antara.

Menurut dia, hingga saat ini belum ditemukan sapi di RPH Giwangan yang diduga terjangkit antraks sejak kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul DIY muncul, beberapa waktu lalu.

"Seluruh sapi yang disembelih di RPH Giwangan dinyatakan sehat meskipun ada beberapa sapi yang berasal dari Gunung Kidul, tetapi bukan dari daerah yang diduga terjadi penularan antraks," katanya.

Sapi dari daerah yang diduga tertular antraks, lanjut Sugeng, sudah tidak diperbolehkan keluar atau dijual ke daerah lain.

"Jika dari hasil pemeriksaan kesehatan diketahui ada sapi yang tidak sehat, maka sapi akan dikembalikan. Sapi tidak diperbolehkan dipotong di RPH Giwangan," katanya yang menyebut rata-rata ada sekitar tujuh sapi yang disembelih di RPH Giwangan setiap hari.

Selain memperketat pengawasan di RPH Giwangan, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga melakukan pemantauan di tempat penggemukan sapi yang ada di Kecamatan Tegalrejo dan Kecamatan Kotagede.

"Lokasi peternakan, atau lebih tepatnya penggemukan sapi hanya ada di dua kecamatan itu. Total populasinya sekitar 150 ekor. Di lokasi tersebut, kami melakukan pengawasan sekaligus pengambilan sampel,” katanya.

Dari pemantauan yang dilakukan, Sugeng memastikan seluruh sapi dalam kondisi yang sehat dan tidak ada hewan yang menunjukkan gejala terserang antraks atau penyakit lain. "Biasanya, sapi yang terserang antraks mengalami demam tinggi," katanya.

Peternak juga diimbau untuk tetap memerhatikan kondisi kandang sehingga tetap bersih dan tidak lembab. "Apalagi saat musim hujan seperti ini. Kondisi kandang jangan sampai lembab karena akan memudahkan bakteri atau virus berkembang biak. Jika diperlukan, maka bisa diberi disinfektan," katanya.

Pakan yang diberikan untuk sapi, lanjut Sugeng, juga harus diperhatikan agar sapi memperoleh makanan dengan kualitas baik sehingga kondisi kesehatannya pun terjaga.

2 dari 2 halaman

Tali Asih untuk Peternak

Waspada Antraks
Ilustrasi antraks (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan segera menyusun peraturan bupati tentang pemberian tali asih kepada pemilik hewan ternak mati untuk mengantisipasi virus antraks.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Gunung Kidul Azman Latif di Gunung Kidul, mengatakan pemkab masih melakukan kajian hukum dan merumuskan besaran tali asih yang akan diberikan kepada pemilik hewan ternak yang diduga terpapar antraks.

"Langkah ini diambil untuk memutus budaya konsumsi hewan ternak mati, seperti yang terjadi selama ini," kata Azman.

Ia mengatakan pemkab belajar dari kasus antraks di wilayah Desa Gombang, Kecamatan Ponjong. Perbup ini diharapkan mampu memutus mata rantai penjualan hewan ternak mati.

"Kami harapkan nantinya jika sudah ada ganti rugi ternak mati, maka tidak ada warga yang menjualnya ke jagal atau patungan dan dikonsumsi sendiri," kata Azman.

Bupati Gunung Kidul Badingah mengatakan pihaknya saat ini tengah mengkaji untuk pemberian tali asih kepada warga yang ternaknya mati. Selama ini banyak petani Gunungkidul memiliki ternak sebagai tabungan, dan akan dijual jika dibutuhkan.

Badingah berharap meski saat ini pemerintah belum memutuskan besaran tali asih, peternak diharapkan tidak menjual atau menyembelih hewan ternak yang mati.

"Kalau menemukan ternak mati dilaporkan ke dinas terkait, jangan sampai disembelih, apalagi dijual," katanya.

Ketua DPRD Gunung Kidul Endah Subketi Kuntariningsih mendukung langkah pemkab untuk melakukan pencegahan meluasnya penyakit yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis.

"Kami rasa penanganan kasus antraks sudah sesuai dengan prosedur yang ada. Kami mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan pemkab dalam menangani masalah ini," katanya.

Dia juga meminta memerhatikan lalu lintas ternak yang keluar masuk ke Gunung Kidul, sehingga penyebaran antraks bisa ditekan.

"Terkait lalu lintas ternak, kartu ternak, sedang kami kaji bersama dengan mitra kerja," kata Endah.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓