Melupakan Gempa Sigi dan Memulai Lagi Karapan Sapi

Oleh Heri Susanto pada 21 Jan 2020, 03:00 WIB
Diperbarui 21 Jan 2020, 03:00 WIB
Karapan Sapi Sigi

Liputan6.com, Sigi - Masih lekat dalam ingatan bagaimana gempa Magnitudo 7,4 mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah. Akibat gempa tersebut, rumah-rumah rata dengan tanah, ratusan orang tercatat meninggal dunia di Sigi. Setahun lebih sudah peristiwa itu berlalu, kini hidup harus terus berlanjut. Semua orang mulai berbenah, menata hidupnya kembali.

Di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru misalnya, tradisi karapan sapi dimulai kembali untuk pertama kalinya usai gempa dan tsunami. Di tanah cadas dan kering itu, pacuan sapi sudah dipenuhi penonton, suasana tambah riuh saat ratusan ekor sapi masuk ke pacuan. Terlihat, para joki mengusung gerobak mereka, siap-siap menjadi yang tercepat di arena karapan.         

Berbeda dengan karapan sapi di Jawa Timur yang digelar di lintasan basah dan lumpur, di Sigi perlombaan adu cepat sapi ini justru digelar di tanah kering. Pacuan dibuka di lahan bekas sawah yang kering lantaran rusaknya irigasi usai bencana. 

Karapan sapi di Sigi punya banyak kelas, tiap kelas diadu empat sapi pada lintasan sejauh 300 meter. Butuh keahlian khusus untuk mengendalikan dan menggiring sapi-sapi pacuan. Tak jarang, sapi-sapi itu berontak dan kabur dari arena pacuan, membuat tontontan yang seru dan atraktif. 

"Tidak gampang memang mengendalikan sapi. Butuh kesabaran sebelum sapi-sapi itu dipacu di lintasan," kata Faldi, salah seorang penonton.

Sapi-sapi yang diadu balap di Sigi berjenis sapi lokal, berusia di atas 2 tahun yang umumnya digunakan petani untuk membajak sawah dan sebagai alat transportasi tradisional yang umum di pedesaan Sigi. Bagi para pemilik sapi sendiri, lomba karapan ini diakui menjadi tolok ukur keberhasilan mereka merawat ternaknya, selain juga untuk meningkatkan nilai jual sapi. 

"Sapi saya sudah ada yang tawar sampai Rp30 juta, padahal harga sebelum lomba ini hanya Rp9 juta," kata Iwan (36), salah satu sapi pemenang karapan. 

Para pemilik sapi mengaku memberikan perawatan khusus kepada sapi-sapinya sebelum turun di pacuan. Salah satunya pemberian ramuan berupa gula merah yang dicampur dengan telur ayam kampung. Ramuan itu rutin diberikan tiap hari selama sebulan sebelum sapi-sapi masuk dalam arena pacuan.

"Kalau gula merah untuk pernapasan sapi, kalau telur untuk staminanya," ungkap Iwan.

Sebelum gempa dan tsunami 28 September 2018, karapan sapi ini rutin digelar di Sigi, dan menjadi salah satu atraksi wisata yang gemari wisatawan. Ide untuk menghidupkan kembali tradisi ini usai bencana datang dari para petani, mereka ingin tradisi ini terus terjaga sebagai kearifan lokal Sigi. 

"Semuanya ingin karapan sapi diadakan lagi. Ini sudah menjadi kearifan lokal jadi kami buat," jelas Krissandi, Panitia lomba karapan sapi.

Selain itu lomba tradisional ini juga diadakan agar para penyintas bencana di Sigi dapat melupakan pengalaman traumatik akibat bencana dan bangkit dengan budaya khas mereka.

"Di Sigi ini hampir semua petani dan pemilik sapi terdampak dan trauma karena bencana tahun 2018 lalu. Karapan sapi digelar juga agar penyintas bencana bangkit dengan budaya mereka sendiri," katanya.

Masyarakat setempat hanya berharap, pemerintah daerah Sigi dan Pemprov Sulteng mau mengangkat lagi tradisi karapan sapi ini menjadi agenda rutin yang digelr tiap tahun.

"Kalau digarap dengan maksimal oleh pemerintah daerah, pasti kegiatan ini akan memberi dampak besar terhadap daerah dan masyarakat. Kearifan lokal ini harus dilestarikan," ungkapnya.

Sekadar informasi, beternak sapi sudah menjadi budaya bagi masyarakat Kabupaten Sigi, yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada pertanian dan perkebunan. Sapi-sapi di daerah ini umumnya digunakan sebagai moda transportasi warga ke lahan pertaniannya, selain juga untuk membajak sawah. Bahkan di Kabupaten Sigi juga terdapat Sentra Pengembangan Sapi Sulawesi Tengah.

 

2 dari 2 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓