Menerka Muasal Keraton Agung Sejagat dalam Silsilah Kerajaan Majapahit

Oleh Panji Prayitno pada 16 Jan 2020, 00:00 WIB
Diperbarui 16 Jan 2020, 00:00 WIB
Kehadiran Keraton Agung Sejagat Bikin Resah Keraton se Nusantara

Liputan6.com, Cirebon - Deklarasi dan pengumuman Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah tak hanya meresahkan masyarakat setempat.

Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) memastikan Keraton Agung Sejagat tidak terdaftar dalam arsip negara dan catatan sejarah.

Ketua FSKN PRA Arief Natadiningrat mengaku kaget seiring dengan perkembangan negara Indonesia masih ada orang yang berani mendirikan keraton hingga mengklaim keturunan Majapahit.

"Kami prihatin saja apalagi mengklaim masih keturunan Syailendra dan penerus Majapahit. Keraton tersebut tidak ada dalam daftar keraton se-Nusantara," kata Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat itu kepada wartawan, Rabu (15/1/2020).

Arief mengatkaan, dalam catatan yang dimiliki FSKN ada lebih dari 200 kerajaan atau kasultanan yang terdaftar pada persiapan kemerdekaan Indonesia, tidak termasuk Keraton Agung Sejagat.

Arief meragukan klaim keraton yang mengaku keturunan Wangsa Syailendra. Menurutnya, sulit untuk memelihara silsilah dari wangsa Syailendra yang berjaya di abad ke 7 dan 8 masehi itu.

"Mengidentifikasi silsilahnya itu cukup sulit apalagi mengaku keturunan Majapahit. Kerajaan Majapahit itu setelah runtuh menjadi Demak, kemudian runtuh dan jadi Pajang, runtuh lagi menjadi Mataram, kemudian runtuh menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Begitu RI lahir hanya ada Surakarta dengan kasunanan dan Mangkunegaran, kemudian Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman," ujar dia.

Arief mengaku prihatin klaim Keraton Agung Sejagat didanai oleh Swiss. Menurut dia, Keraton se nusantara pernah berkumpul dengan tokoh nasional termasuk Sukarno di Tapak Siri.

2 dari 2 halaman

Peran Pemerintah

Kehadiran Keraton Agung Sejagat Bikin Resah Keraton se Nusantara
Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara PRA Arief Natadiningrat mengaku prihatin dengan deklarasi Keraton Agung Sejagat. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

"Untuk membangun keraton harus ada magersari atau warga di sekitar keraton, itulah yang nantinya dibina keraton. Ini tidak diajak bicara, tiba-tiba dibangun dan ada kegiatan," sambung Arief.

Keraton se-Nusantara menyatakan diri membantu kemerdekaan Indonesia. Pernyataan tersebut karena saat itu hanya keraton yang memiliki perbekalan hingga bantuan dana untuk membantu perjuangan masyarakat Indonesia.

"Jadi tidak ada harta keraton disimpan di bank luar negeri harta keraton banyak digunakan untuk kepentingan kemerdekaan. Sisa aset saja," ujar dia.

Menurut Arief, keberadaan Keraton Agung Sejagat adalah mimpi pemimpin keraton yang dihembuskan ke masyarakat terkait informasi bohong.

Sejak merdeka hingga saat ini pembinaan keraton di Indonesia berada di bawah binaan Kemendagri dan Kemendikbud. Bahkan, hingga saat ini pemerintah pusat belum pernah memberi pengumuman resmi terkait jumlah keraton di Indonesia yang harus dilindungi dan dibina.

"Sejak merdeka keraton yang ada dalam struktur ketatanegaraan hanya Yogyakarta yakni Sultan Yogyakarta adalah Gubernur dan Wakil Gubernur adalah Pakualaman. Keraton yang lain yang masih hidup ini memelihara adat dan tradisi di daerah masing-masing termasuk Cirebon," ujar dia.

Menurut dia, pemerintah harus tegas dalam mengakomodasi peninggalan sejarah keraton di Nusantara. Peran aktif Kemendagri dan Kemendikbud dalam membina keraton di Indonesia sangat penting.

Dia meminta pemerintah segera mengumumkan keraton di Indonesia yang terdaftar resmi sehingga perlu dilindungi dan mendapat pembinaan.

"Kalau data di FSKN ada 200 keraton di Indonesia dan itu beragam kondisi ada yang lengkap bangunan dan silsilahnya, ada yang setengah lengkap bahkan ada yang tinggal bangunannya saja atau keturunannya saja," ujar dia.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

Lanjutkan Membaca ↓