Adu Nyali Warga dengan Buaya dalam Pencarian Bocah Tenggelam di Sungai Palu

Oleh Heri Susanto pada 13 Jan 2020, 01:00 WIB
Diperbarui 13 Jan 2020, 01:00 WIB
Puluhan warga menyelam untuk mencari keberadaan Riski (12 th) yang tenggelam di Sungai Palu. Sementara, sesekali buaya  menampakkan diri di tengah sungai dan pinggiran, Minggu (12/1/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)

Liputan6.com, Palu - Seorang anak berusia 12 tahun bernama Riski tenggelam di Sungai Palu pada Minggu pagi, 12 Januari 2020. Sejak dilaporkan hilang pada pukul 07.00 WITA, hingga pukul 12.00 siang, korban belum ditemukan.

Pencarian langsung dilakukan setelah korban yang merupakan warga Kelurahan Ujuna dilaporkan hilang. Warga setempat mencari dengan menyelam ke dasar sungai, sementara petugas Basarnas Palu bersama polisi menyisir Sungai Palu hingga ke Muara Teluk Palu menggunakan perahu karet.

Pencarian difokuskan dengan radius sekitar 700 meter ke arah muara dari titik tenggelamnya korban di bawah Jembatan III Palu.

Warga Setempat Arman (36 th) menceritakan, awalnya korban bersama dua temannya pada Minggu pagi mencari ikan di bawah jembatan III Palu. Namun saat akan menuju tepi sungai, korban terbawa arus dan tenggelam, sedangkan dua temannya berhasil selamat.

"Yang dua (teman korban selamat) langsung teriak waktu korban tenggelam, makanya warga langsung cari," cerita Arman di lokasi kejadian.

Puluhan warga terlibat dalam pencarian korban tenggelam di Sungai Palu ini. Dan pencarian itu bukannya tanpa risiko. Sungai ini dikenal sebagai habitat buaya.

Pantauan Liputan6.com di lokasi kejadian, sesekali buaya Muara menampakkan diri di permukaan air dan tepi sungai lokasi tenggelamnya si bocah. Petugas pun mengimbau warga untuk berhati-hati.

2 dari 3 halaman

Ancaman Buaya dan Banjir Sungai Palu

Tim SAR gabungan menyisir Sungai Palu dengan perahu karet untuk mencari korban tenggelam, Minggu (12/1/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)
Tim SAR gabungan menyisir Sungai Palu dengan perahu karet untuk mencari korban tenggelam, Minggu (12/1/2020). (Foto: Liputan6.com/Heri Susanto)

Namun meski takut warga setempat mengaku nekat demi bisa secepatnya mengevakuasi korban. Jika tak secepatnya ditemukan, mereka khawatir pencarian korban tenggelam semakin sulit.

"Takut juga sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak begini nanti korban malah terbawa jauh," kata Adi (28), warga yang membantu pencarian.

Untuk menjaga keselamatan, warga yang mencari di sungai berpegang pada tali yang diulur dari tepi sungai oleh warga lainnya. Antara satu penyelam dengan yang lainnya pun saling menjaga dan mengawasi.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kota Palu ( Basarnas ), Basrano, menyatakan akan memaksimalkan pencarian hari pertama ini. Pasalnya, debit air yang terus meningkat dan deras akibat curah hujan tinggi bakal menghambat pencarian.

Selain itu penghuni Sungai Palu, Buaya Muara, diakui Basrano juga menjadi perhatian.

"Semua tahu Sungai Palu ini berpenghuni buaya, itu juga jadi perhatian kami untuk segera menemukan korban," kata Basrano, di tepi Sungai Palu.

Basrano melanjutkan, kejadian kecelakaan di Sungai Palu seperti ini bukan kali pertama, melainkan berulang. Karenanya, Basrano menyarankan agar papan peringatan larangan berenang atau bermain di Sungai Palu untuk anak-anak disebar di sepanjang sungai.

"Idealnya sepanjang sungai ini ada peringatan karena ini bukan kejadian pertama," Basrano menyarankan.

Dia pun menegaskan, jika pencarian hari pertama ini tidak berhasil, Basarnas Palu sesuai prosedur akan menambah waktu pencarian hingga tujuh hari ke depan dengan radius pencarian yang ditambah hingga muara Sungai Palu.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓