Mengintip Kesiapan TNI AL Hadapi Cuaca Ekstrem di Perairan Cirebon

Oleh Panji Prayitno pada 09 Jan 2020, 09:00 WIB
Diperbarui 10 Jan 2020, 08:14 WIB
Kesiapan TNI AL Hadapi Cuaca Ekstrem di Perairan Cirebon

Liputan6.com, Cirebon - Cuaca ekstrem membuat ratusan personel TNI AL Cirebon siaga membantu pemerintah dalam mengatasi bencana. Termasuk meningkatkan patroli di perairan Pantura Jawa Barat.

Komandan Pangkalan TNI AL Cirebon Letkol Laut (P) Agung Nugroho mengatakan, dalam meningkatkan pengawasan di laut Pantura, pihaknya sudah menyiagakan personel di sejumlah titik.

"Untuk siaga bencana atau laka laut kita siapkan kapal patroli masing-masing lima personel dengan perahu karet lengkap dengan motor tempelnya. Kita juga koordinasi dengan instansi lain seperti Polairud, BMKG dan KSOP," kata dia usai mengikuti apel Gelar Pasukan Satgas Bencana Alam Mako Pangkalan TNI AL Cirebon, Rabu (8/1/2020).

Dia menyebutkan, dari data yang didapat, cuaca ekstrem yang terjadi di perairan Pantura Jawa Barat rentang waktunya sejak Desember sampai Februari. Tinggi gelombang rata-rata di perairan Pantura Jawa Barat di atas 1,5 meter sampai 2 meter.

Angin kencang ditambah awan yang menghitam di perairan Cirebon menyebabkan ombak menjadi besar mulai pukul 12.00 WIB siang hingga malam hari. Namun, jika kecepatan angin hingga di atas 10 nautical mile maka gelombang laut bisa mencapai 2 meter.

"Kondisi tersebut lebih bahaya khususnya kepada nelayan Cirebon yang notabene pakai kapal tradisional yang panjang kapalnya 10 sampai 15 meter," kata dia.

Dia mengimbau agar pengguna jasa laut seperti nelayan maupun kapal wisata agar berhati-hati. Jika tidak ada kondisi yang sangat penting maka disarankan agar tidak melaut.

Agung meminta nelayan maupun pengguna jasa laut lainnya agar selalu memantau informasi terkait cuaca dari BMKG. Dia juga akan berkoordinasi dengan KSOP dan Polairud terkait penyebaran informasi perubahan cuaca ekstrem di laut Cirebon.

2 dari 2 halaman

Siaga Darat

Kesiapan TNI AL Hadapi Cuaca Ekstrim di Perairan Cirebon
Danlanal Cirebon Letkol Laut P Agung Nugroho menjelaskan pemetaan wilayah rawan bencana di Pantura Jawa Barat. Foto (Liputan6.com / Panji Prayitno)

"Termasuk melalui anggota kami di Posal dan Posmad. Nelayan melaut untuk kebutuhan sehari-hari tapi jangan abaikan faktor keselamatan," kata dia.

Untuk personel siaga laut, Pangkalan TNI AL Cirebon menyiapkan ada 25 orang. Masing-masing bersiaga menggunakan kapal patroli dengan kapasitas lima orang.

Dia mengatkan, ketika ada kejadian di wilayah perairan pantura dari bibir pantai bisa diatasi dengan kapal patroli. Namun, jika kejadiannya di luar perairan Cirebon, maka personel meminta bantuan sarana alutsista yang lebih besar.

"Kalau kejadiannya di luar Cirebon seperti Karawang dan Subang Utara akan meminta bantuan Kapal Perang karena mereka memiliki kemampuan untuk itu. Untuk di pesisir Pantai Cirebon masih bisa ditanggulangi bersama dengan unsur lain salah satunya Polairud," ujar dia.

Sementara itu, Personel TNI AL Cirebon juga disiagakan untuk mengatasi bencana di darat. Pangkalan TNI AL Cirebon mengaku sudah mendapat peta rawan bencana dari Pemda setempat dan instansi lain dalam Satgas Gabungan.

Agung menyebutkan, Pangkalan TNI AL Cirebon menyiapkan satu pleton dengan jumlah 35 orang untuk patroli saat bencana. Namun, secara keseluruhan, Agung sudah memerintahkan seluruh personel TNI AL memiliki tanggung jawab membantu pemda setempat menanggulangi bencana.

"Wilayah yang diamati sudah ada seperti di Kota Cirebon rawan banjir di empat tempat Kabupaten Cirebon lebih banyak. Kabupaten Kuningan identik longsor, Indramayu rawan banjir dan rob. Intinya kami sudah koordinasi dengan pemda setempat, kodim, polsek hingga BPBD," ujar Agung.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

Lanjutkan Membaca ↓