Misteri Penampakan Deretan Tenda Biru di TNG Halimun Salak di Google Map

Oleh Yandhi Deslatama pada 04 Jan 2020, 22:00 WIB
Diperbarui 04 Jan 2020, 22:00 WIB
Penampakan deretan tenda biru di Taman Nasional Gunung Halimun Salak di aplikasi Google Map fitur Satelit. (Foto: Liputan6.com/Yandhi Deslatama)
Perbesar
Penampakan deretan tenda biru di Taman Nasional Gunung Halimun Salak di aplikasi Google Map fitur Satelit. (Foto: Liputan6.com/Yandhi Deslatama)

Liputan6.com, Lebak - Ada penampakan aneh tatkala menelusuri Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menggunakan aplikasi Google Map. Terlihat deretan penampakan puluhan tenda biru bederet-deret di sepanjang aliran sungai.

Spekulasi pun beredar bahwa puluhan tenda yang tampak jelas dalam fitur Satelit Google Map itu adalah tenda penambang emas. Dugaan itu masuk akan lantaran daerah tersebut sebagai daerah pertambangan emas.

"Dibalik bukit (TNGHS) itu memang ada beberapa tambang, ini nanti yang akan kita cek," kata Kapolda Banten, Irjen Pol Tomsi Tohir, ditemui dilokasi bencana, Sabtu (04/01/2020).

Dia menjelaskan, peristiwa longsor sempat terjadi di sekitar TNG Halimun Salak yang airnya mengalir ke Sungai Cimadur pada Jumat 06 Desember 2019. Kala itu banjir bandang menerjang Kecamatan Bayah dan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten.

Akibatnya, 12 penambang rakyat terjebak di dalam lubang galian sedalam 500 meter. Banjir bandang dan longsor terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah TNG Halimun Salak sejak pukul 14.00 WIB.

Proses pencarian mulai dilakukan Basarnas sejak hari pertama kejadian dan bisa membawa keluar tiga penambang pada tanggal 07 Desember 2019. Disusul esoknya, tanggal 08 Desember 2019 sebanyak sembilan penambang emas.

Kini, banjir bandang dan tanah longsor yang lebih besar mendera enam kecamatan di Kabupaten Lebak, Banten, pada Rabu 01 Januari 2020. Sama seperti banjir dan longsor pertama, kali ini bencana alam itu juga dipicu oleh hujan lebat.

"Karena kurang lebih, beberapa hari lalu ada yang longsor disana. Mengakibatkan penambang tertimbun tapi selamat. Apakah aliran sungai itu ada kaitan dengan kubangan-kubangan tambang tersebut atau tidak," dia meneranglan.

Sembari menyalurkan bantuan logistik ke beberapa daerah yang sulit dijangkau melalui darat, Tomsi akan memetakan lokasi tambang emas milik rakyat yang ada di sekitar pegunungan tersebut.

Dalam sejarahnya, di wilayah memang tersebut pernah beroperasi tambang emas milik Antam, di Cikotok. Namun kini sudah tidak beroperasi lagi.

"Tapi kita baru memetakan lokasi, sementara apakah ada kaitannya, kita belum menyatakan atau menyimpulkan seperti itu. Hari ini juga kita ke atas, sekaligus memetakan ke hulu nya, ke sungai tersebut. Ya kita lihat, kita petakan sampai ke hulunya dulu, baru kita sampaikan datanya," dia menjelaskan.

Simak video pilihan berikut ini: