Gerhana Matahari Cincin, Fenomena Langka yang Akan Terjadi 12 Tahun Lagi

Oleh Reza Efendi pada 26 Des 2019, 13:50 WIB
Diperbarui 27 Des 2019, 23:14 WIB
Salat Gerhana di Medan

Liputan6.com, Medan Warga Medan yang ditaksir ribuan orang melaksanakan Salat Gerhana Matahari atau Salat Kusuf. Pelaksanaan salat digelar di Kampus Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Jalan Panglima Denai, Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Seorang warga Medan, Wijaya mengatakan, kehadiran dirinya bersama dengan keluarga ke Kampus Pasca Sarjana UMSU sengaja untuk melaksanakan Salat Gerhana Matahari sekaligus melihat fenomena alam langka Gerhana Matahari Cincin.

"Iya, kami sengaja datang ke mari. Salatnya tadi dilaksanakan pukul 10.15 WIB. Saya bersama keluarga ada 5 orang," kata warga Jalan Sisingamangaraja tersebut, Kamis (26/12/2019).

Kepala Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU), Dr Arwin Juli Rakhmadi Butarbutar menyebut, tim yang dipimpinnya akan membimbing dan mengarahkan masyarakat untuk bisa menggunakan pralatan teleskop yang disediakan.

"Masyarakat yang datang juga dibimbing membuat kacamata gerhana dan dibagikan gratis," ujarnya.

Arwin menjelaskan, peristiwa Gerhana Matahari Cincin merupakan fenomena alam langka yang baru akan terjadi 12 tahun lagi. Secara keilmuan, Gerhana Matahari Cincin berikutnya akan melintasi Indonesia pada tanggal 21 Mei 2031.

"Kenapa disebut langka, karena gerhana matahari cincin terakhir terjadi sekitar satu dekade lalu," jelasnya.

Arwin menuturkan, Gerhana Matahari terjadi ketika bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus. Bulan menghalangi sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Manusia di bumi akan menikmati Gerhana Matahari Cincin atau Total tergantung pada jarak antara bumi, bulan, dan matahari.

Gerhana Matahari Cincin terjadi ketika bulan berada pada titik yang lebih jauh dari bumi. Sehingga, meski berada segaris dengan matahari dan bumi, piringannya yang lebih kecil tak bisa menghalangi seluruh cahaya matahari.

Sementara Gerhana Matahari Total terjadi saat bulan berjarak cukup dekat dengan bumi. Saat itu, piringan bulan terlihat lebih besar dan mampu menutup seluruh permukaan matahari.

“Peluang gerhana Matahari Cincin cukup besar ketika bumi berada pada titik terdekat dengan bintang induknya. Fenomena ini biasanya, meski tak selalu, terjadi pada akhir atau awal tahun,” tuturnya.

Gerhana Matahari Total terakhir kali pernah terjadi sebelumnya di Indonesia pada 1983, 1988, 1995 dan 9 Maret 2016 diperkirakan baru akan terjadi lagi pada 2023. Sementara Gerhana Matahari Cincin sebelumnya pernah terjadi di Indonesia pada Agustus 1999.

Masyarakat diimbau untuk cerdas dalam mengamati Gerhana Matahari Cincin, yaitu harus menggunakan filter atau kacamata matahari. Sebab jika tidak, maka akan dapat menyebabkan kerusakan pada mata.

 

2 dari 2 halaman

Pecahkan Rekor MURI

Gerhana Matahari Cincin di Medan
Gerhana Matahari Cincin di Medan. (Liputan6.com/Reza Efendi)

UMSU memecahkan dua rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) dalam momentum kali ini, yaitu pengamatan dengan kamera lubang jarum raksasa dan pembuatan 3.000 kacamata gerhana yang dibagikan secara gratis.

Rektor UMSU, Dr Agussani, MAP menyebut, kegiatan pengamatan Gerhana Matahari Cincin bentuk komitmen pihaknya dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di OIF.

"Kegiatan ini juga menjadi momen untuk memperkuat silaturahim dengan masyarakat, sekaligus menumbuhkan nilai religius. Kita menyiapkan pelaksanaan ini sejak enam bulan," sebutnya.

Adapun teleskop yang digunakan untuk pengamatan gerhana, Kamera Lubang Jarum raksasa. Teleskop Bresser Missier AR 152 + Mounting CEM60 Ioptron, Teleskop Maksutov 180 mm + Mounting HEQ5 Pro, Teleskop Bresser Missier AR 152 + Mounting Losmandy G-11 Moutierung.

Teleskop SKY Watcher BK 120 Iq5, Teleskop Refractor 90mm EQ2, Binokuler dan Teleskop William Optics GT 102 Pro + Mounting Ioptron IEQ45 Pro (streaming). Teleskop ini disebar di area pelataran Kampus Pasca Sarjana UMSU untuk memudahkan masyarakat memantau fenomena alam.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓