Hujan Es Gandeng Puting Beliung Porak-porandakan Baturraden dan Purwokerto

Oleh Muhamad Ridlo pada 26 Des 2019, 02:00 WIB
Diperbarui 26 Des 2019, 02:00 WIB
Ilustrasi - Hujan lebat disertai puting beliung di Wangon, Banyumas. (Foto: Liputan6.com/BPBD BMS/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purwokerto - Akhir-akhir intensitas curah hujan di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah meningkat signifikan. Salah satu yang dikhawatirkan adalah cuaca ekstrem, yang bisa berupa hejan lebat, puting beliung atau bahkan hujan es.

Benar saja, cuaca ekstrem berupa hujan es dan puting beliung melanda kawasan Baturraden, Kabupaten Banyumas pada Rabu sore, 25 Desember 2019, sekitar pukul 15.00 WIB.

Hujan es dilaporkan terjadi di Desa Kemutug Kidul, Kecamatan Baturraden. Selain itu, hujan es itu dilaporkan juga turun di Karangtengah.

Penuturan warga, durasi hujan es dan terjangan puting beliung itu berlangsung cukup lama, kisaran 30 menit. Tak aneh jika lantas dampaknya cukup besar.

“Tapi tidak semua wilayah kena,” kata Ketua Komunitas Radenpala, Irma Anggraeni yang juga warga setempat, Rabu petang.

Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Ariono Purwanto mengatakan yang lebih berbahaya bukan hujan esnya, melainkan tiupan angin kencang atau puting beiung yang disertai hujan lebat.

Angin puting beliung dilaporkan merobohkan pohon dan merusak rumah penduduk. Bahkan, kantor BPBD yang berada di Kota Purwokerto pun turut terdampak puting beliung ini.

Petugas BPBD dan relawan langsung turun ke lokasi untuk penanganan wilayah terdampak. Belum diperoleh data pasti mengenai kerusakan yang ditimbulkan hujan es dan puting beliung ini.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Wilayah Terdampak Puting Beliung

Butiran es dalam hujan es di Baturraden, Banyumas. (Foto: Liputan6.com/Irma/Muhamad Ridlo)
Butiran es dalam hujan es di Baturraden, Banyumas. (Foto: Liputan6.com/Irma/Muhamad Ridlo)

Dari laporan awal yang masuk, puting beliung tersebut sampai berdampak robohnya satu rumah penduduk di Gandatapa, Sumbang. Masih ada kemungkinan jumlah rumah rusak bertambah seiring masuknya data dari wilayah terdampak lainnya.

“Kami terus terang belum ada laporan BPBD belum. Ini teman-teman sedang bergerak semua, ini. Karena dampak kejadian itu cukup (luas), bahkan di BPBD pun terdampak, tadi puting beliung. Pohon-pohon di sekitar BPBD tercabut,” kata Ariono.

Ariono menerangkan, hujan es adalah fenomena yang biasa terjadi saat terjadi puting beliung. Akan tetapi, yang lebih berbahaya adalah puting beliungnya.

Pasalnya, puting beliung yang sampai menimbulkan hujan es biasanya berdampak besar. Buktinya adalah saat ini.

Hujan es dilaporkan hanya terjadi di sejumlah wilayah di kawasan Baturraden. Akan tetapi, dampak puting beliungnya menjangkau setidaknya empat kecamatan di wilayah ini.

Empat kecamatan yang terdampak yaitu Kecamatan Baturraden, Sumbang, Purwokerto Utara dan Purwokerto Selatan. Sementara ini, BPBD masih menunggu pendataan dari petugas yang berada di lokasi.

“Jadi memang biasa ya, di antara hujan dengan puting beliung itu biasanya ada fenomena hujan es itu. Ini yang lebih besar adalah dampak puting beliungnya,” dia menerangkan.

Dia mengimbau agar warga lebih waspada pada masa menjeleang puncak musim penghujan ini. Salah satunya dengan memotong cabang dan ranting pohon yang terlampau rimbun. Dikhawatirkan, pohon yang terlampau rimbun akan roboh dan membahayakan warga di sekitarnya.

 

3 dari 3 halaman

Awan Kumulonimbus, Biang Puting Beliung dan Hujan Es

Dampak hujan es dan puting beliung di Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (25/12/2019). (Foto: Liputan6.com/BPBD Banyumas/Muhamad Ridlo)
Dampak hujan es dan puting beliung di Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (25/12/2019). (Foto: Liputan6.com/BPBD Banyumas/Muhamad Ridlo)

Akhir-akhir ini Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memang lebih sering merilis peringatan dini cuaca di Jawa Tengah. Pada Rabu, 25 Desember 2019, Banyumas menjadi salah satu wilayah yang diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat.

Fenomena hujan es dan puting beliung itu tak lepas dari keberadaan awan kumulonimbus (cumulonimbus). Awan kumolonimbus ini berpotensi memicu terjadinya hujan lebat disertai angin kencang, petir dan juga puting beliung. Awan kumulonimbus biasanya muncul pada siang menjelang sore atau sore hari.

Prakirakan BMKG Pos Pengamatan Cilacap, Rendy Krisnawan menerangkan secara kasat mata, awan kumulonimbus biasanya didahului oleh matahari yang bersinar penuh, cuaca cerah atau cerah berawan dan suhu tinggi.

Saat peningkatan suhu itu lah, tekanan udara turun. Penguapan pun terjadi dengan cepat dan memicu kelembapan tinggi.

Tubuh manusia dapat merasakan dampak penguapan yang tinggi yang berdampak pada gerah luar biasa. Embusan angin cenderung lemah.

Tanda-tanda munculnya puting beliung pun bisa dilihat dengan kasat mata. Biasanya, lepas siang atau sore hari, tiba-tiba muncul awan tebal berarak dan mendekat ke wilayah tersebut.

“Karena pemanasan, biasanya terasa panas, gerah pada siang harinya. Biasanya langit masih clear, kemudian siang menjelang sore hari biasanya muncul awan tebal dan gelap, atau awan kumulonimbus,” dia menerangkan, Senin, 27 Maret 2018.

Awan kumulonimbus ini dapat memicu hujan disertai angin kencang, puting beliung, dan petir. Bahkan, dalam beberapa kasus, kumulonimbus memicu terjadinya hujan es.

Lanjutkan Membaca ↓