Gokil, 1 Keluarga Tinggal dengan 10 Ekor Ular Piton Raksasa

Oleh Muhamad Ridlo pada 22 Des 2019, 03:00 WIB
Diperbarui 22 Des 2019, 03:00 WIB
Anak-anak di Pejagoan, Kebumen, akrab dengan ular-ular piton raksasa. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Kebumen - Belakangan, peristiwa kemunculan ular di permukiman penduduk bikin heboh warga di beberapa wilayah Indonesia. Celakanya, kemudian muncul istilah teror ular.

Memang, sebagian masyarakat masih menganggap ular sebagai ancaman. Ular dianggap sebagai hewan yang berbahaya. Karenanya, ia wajib disingkirkan atau bahkan dibinasakan.

Terlebih, mitos dan legenda menguatkan anggapan ini. Di beberapa belahan dunia, termasuk Indonesia, ular dianggap sebagai hewan jahat dan menjadi perlambang setan.

Anggapan ular sebagai hewan berbahaya mungkin saja akan luruh jika sempat berkunjung ke Pejagoan, Kebumen, Jawa Tengah. Di tempat ini, akan ditemui sekeluarga yang tinggal dengan 10 ekor ular piton raksasa.

Sang pemilik, Munding Aji (31) bilang, sebenarnya jumlah ular peliharannya ada 11. Namun, satu ekor terakhir masih sangat kecil. Hanya seukuran jempol kaki denga panjang beberapa jengkal.

Ular terkecil itu menjadi anggota keluarga terakhir alias si bontot dari keluarga ini. Lainnya, adalah piton-piton berukuran Jumbo.

Rambo misalnya, panjangnya sekitar 10 meter dengan bobot kurang lebih 300 kilogram. Lingkar tubuh ular piton jumbo ini nyaris seukuran perut orang dewasa, tentu dengan perut langsing.

Simak video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Ular Piton Batik hingga Albino

Ular piton raksasa, di Pejagoan, Kebumen, dengan pawangnya. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Ular piton raksasa, di Pejagoan, Kebumen, dengan pawangnya. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

“Bobot ini cuma kira-kira saja tapi Mas. Belum pernah saya timbang. Cuma kalau ngangkat badan ular dari kepala sampai ekor, butuh minimal empat orang,” ucapnya, Sabtu malam, 21 Desember 2019.

Selain Rambo ada juga Syahrini, Selvi dan Amel. Rambo, Syahrini, Selvi adalah jenis sanca batik. Adapun Amel, piton albino alias Ratic.

Syahrini dan Selvi pun tak kalah jumbo. Syahrini berbobot lebih dari 200 kilogram. Adapun Selvi dan Amel, lebih kecil dari itu, kisaran 100 kilogram.

Munding dan keluarganya sudah hidup berdampingan dengan ular-ular ini belasan tahun. Semua ular yang tinggal bersama keluarga ini dipelihara sejak berukuran tak lebih dari sejempol kaki.

Alasannya, semakin muda ular, maka ia akan semakin jinak. Pengenalan dan adaptasinya pun lebih mudah.

Terbukti, selama belasan tahun, nyaris tak pernah terjadi insiden berbahaya. Meski berukuran jumbo, ular-ular ini tak pernah membahayakan. Dengan catatan, dengan pengawasan ahlinya.

Ular-ular ini juga ditaruh di kandang berpengaman kaca di sekeliling rumah munding. Satu ular, menempati satu ruangan. Tetangga dan pengunjung bisa berinteraksi dengan aman dari luar kaca, jika tak ada pemilik atau pawangnya.

“Saya di rumah lima orang, Mas. Nyaman-nyaman saja,” ucap unding.

Munding bahkan sudah menganggap ular-ular ini bagian dari keluarganya. Makanya, ketika ada yang hendak membeli Syahrini, ia keberatan. Padahal, si calon pembeli menawarnya dengan harga mahal, Rp150 juta.

 

3 dari 3 halaman

Tips Pemilik Ular Raksasa agar Aman dari Ular

Kepala ular piton raksasa, di Pejagoan, Kebumen. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Kepala ular piton raksasa, di Pejagoan, Kebumen. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Perihal maraknya ular masuk permukiman, Munding berpendapat ada kemungkinan habitatnya terganggu. Untuk bertahan hidup, ular-ular ini mengeksplorasi wilayah sekitarnya.

“Karena seseunggunya ular juga takut jika ketemu dengan manusia. Selama mereka tidak diusik, mereka pasti akan pergi dengan sendirinya,” Munding mengungkapkan.

Dia berpesan, jika mendapati ular masuk ke dalam rumah pemilik rumah bisa mengevakuasi dengan bantuan alat seadanya. Misalnya, dengan gagang sapu, hanya sekadar untuk mengusirnya.

"Tidak perlu dibunuh," dia menegaskan.

Terpenting, orang yang sedang berhadapan dengan ular tetap tenang dan tak membuat gerakan yang bisa memprovokasi ular. Sebab, saat terprovokasi, ular bisa saja berubah agresif dan menyerang

“Jika tidak berani, kita awasi saja ular tersebut sembari kita minta tolong ke orang sekitar. Teriak juga nggak papa jika perlu,” kata Munding.

Tetapi, tentu saja masyarakat harus tetap mengantisipasi agar rumahnya tak kemasukan ular. Di antaranya dengan selalu menjaga kebersihan dalam rumah atau pun di lingkungan sekitar.

Sebab, besar kemungkinan ular masuk rumah karena ada perubahan tertentu yang merusak habitatnya. Misalnya, pembangunan permukiman.

Perubahan habitat akan lebih massif saat terjadi pembangunan dalam skala besar. Misalnya, pembangunan kawasan industri, atau perumahan dalam skala besar.

"Jadinya apa boleh buat mereka yang tadinya tinggal di situ bingung kan. Akhirnya ada yang masuk rumah,” ucap Munding.

Lanjutkan Membaca ↓