Libur Nataru Penumpang di Terminal Bandung Justru Turun, Kenapa?

Oleh Arie Nugraha pada 21 Des 2019, 22:00 WIB
Diperbarui 21 Des 2019, 22:00 WIB
Ilustrasi – Terminal Karangpucung, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Bandung - Lazimnya, libur Natal dan tahun baru selalu ditandai dengan meningkatnya mobilitas yang berimbas langsung ke naiknya jumlah penumpang di berbagai moda transportasi.

Akan tetapi, di Terminal Cicaheum , yang terjadi justru sebaliknya. Jumlah penumpang di terminal di Kota Bandung ini diprediksi justru turun. Penurunan mencapai sekitar lima persen.

Kepala Seksi manajemen Angkutan Dishub Kota Bandung, Iya Sunarya menduga pemicunya adalah karena banyak masyarakat yang menggunakan kendaraaan pribadi. Selain itu, ada pula peralihan moda transportasi, seperti kereta api.

Namun, dia bilang tak semua terminal Kota Bandung mengalami penurunan penumpang. Di Terminal Leuwipanjang, diperkirakan jumlah penumpang naik sekitar lima persen.

Meski begitu, Dinas Perhubungan Kota Bandung tetap mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang pada libur Natal dan tahun baru kali ini. Selain menyiapkan bus, Dishub Kota Bandung juga telah memeriksa kesehatan para sopir.

Iya mengatakan Dinas Perhubungan Kota Bandung telah menyiapkan sebanyak 790 bus. Sejumlah bus tersebut ditempatkan di Terminal Leuwipanjang sebanyak 633 dan sisanya di Terminal Cicaheum.

Kendaraan itu sudah siap pakai jika terjadi lonjakan penumpang. Artinya semua sudah dilakukan pemeriksaan secara cermat oleh tim pengujian.

"Orientasi kami tahun ini bukan hanya lonjakan saja, tetapi penumpang aman, nyaman dan selamat sampai tujuan,” kata, dalam keterangan tertulisnya, Bandung, Jumat (20/12/2019).

Pemeriksaan sopir dan kelayakan kendaraan juga dilakukan dalam masa libur natal dan tahun baru ini. Sebab, kini bus membawa full penumpang, berbeda dari biasanya yang hanya kisaran 15-20 penumpag.

Simak video pilihan berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Sanksi untuk PO yang Naikan Tarif Angkuta Nataru

“Kelayakan jalan operasi dan pengemudi menjadi hal utama. Kita bekerja sama dengan Dinas Kesehatan. Kita juga menganjurkan agar pengusaha menugaskan sopir yang berusia di bawah 50 tahun,” kata Iya.

Terkait tarif, Dishub Kota Bandung telah mengimbau agar perusahaan otobis untuk tidak menaikkan tarif. Bahkan, Dishub Kota Bandung telah melayangkan peringatan akan ada sanksi jika pengusaha tetap menaikkan tarif.

Iya mengaku, Dishub Kota Bandung kerap menerima keluhan masyarakat bahwa terdapat PO yang menaikan tarif di atas batas atas. Dishub Kota Bandung juga meminta kepada masyarakat untuk mencatat nomor kontek kepala terminal setempat agar ditindaklanjuti.

“Tentu Ini menjadi pelanggaran sehingga nanti pejabat yang berwenang mengeluarkan SK trayek itu akan mencabut secara otomatis. PO-nya apa, nomor polisinya, jam berangkat dan karcisnya jangan sampai hilang,” sebut Iya.

Dia menegaskan, sanksi akan diberikan oleh pejabat yang berwenang yaitu pejabat yang mengeluarkan izin. Jika Antar Kota Antar Provonsi (AKAP) dari kementerian, Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dari Dishub Provinsi Jabar.

Selain menyiapkan armada, Dishub Kota Bandung juga menyiapkan sekitar 200 personel. Salah satu tugasnya yaitu mengantisipasi terjadinya kemacetan di sejumlah titik.

“Nantinya tidak hanya konsen di angkutan saja, tapi lokasi perbelanjaan dan wisata juga. Di masa Nataru, kami melakukan kerjasama dengan jajaran kepolisian tidak hanya konsentrasi di dua terminal (Cicaheum dan Leuwi Panjang), tapi lebih bagaimana penumpang di dua terminal ini merasa aman, nyaman dan selamat sampai tujuan,” ucap Iya.

Lanjutkan Membaca ↓