Perlunya Keseimbangan Mencintai Agama dan Kehidupan Berbangsa

Oleh syukur pada 21 Des 2019, 08:00 WIB
Diperbarui 21 Des 2019, 08:16 WIB
Ilustrasi Islam

Liputan6.com, Pekanbaru - Anak almarhum KH Maimun Zubair atau Mbah Moen, KH Abdul Ghofur mengakhiri kegiatannya di Pekanbaru, Jumat, 20 Desember 2019.

Pria disapa Gus Ghofur ini tidak hanya berbicara kehidupan beragama tapi juga toleransi dengan kepercayaan lain serta kebangsaan.

Dalam kegiatan bertajuk safari pencerahan ini, Gus Ghofur menyebut kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran umat Islam. Oleh karena itu, dia mengingatkan agar Indonesia jangan sampai terpecah karena konflik sesama muslim.

Dia menyatakan, mencintai kebangsaan (Indonesia) tidak boleh melebihi cinta kepada agama (risalah keagamaan), begitu juga sebaliknya. Dua risalah tersebut harus seiring sejalan sehingga tak memunculkan fanatisme.

Menurut Gus Ghofur, Nabi Muhammad SAW sangat bangga dengan bangsanya, Arab. Dengan kebanggaannya itu, ia memerdekakan jazirah Arab dari bangsa Romawi, Persia, dan Habasyah di Yaman.

"Cinta bangsa itu naluriah, namun jangan menjelekkan bangsa lain," ungkap Gus Ghofur di depan civitas akademika Universitas Lancang Kuning Pekanbaru.

Di Indonesia sendiri, kehidupan beragama dan berbangga selalu beriringan. Tak heran, kehidupan bernegara di Indonesia dengan ragam agama dan Islam sebagai mayoritas saling melengkapi serta berjalan damai.

Tak ayal, Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah ini merasa heran melihat umat Islam di Indonesia diminta belajar berbangsa ke negara-negara muslim di jazirah Arab.

"Padahal muslim Arab sendiri ingin mencontoh Indonesia, tanpa ada konflik antar-sesama pemeluk agama Islam," jelas Gus Ghofur.

2 of 3

Indonesia Jadi Contoh Nyata Kerukunan

Gus Ghofur ketika menjadi pembicara keagamaan dan kebangsaan di salah satu kampus di Provinsi Riau.
Gus Ghofur ketika menjadi pembicara keagamaan dan kebangsaan di salah satu kampus di Provinsi Riau. (Liputan6.com/M Syukur)

Menurut anak kelima Mbah Moen ini, Indonesia dengan bingkai persatuan sudah menjadi modal besar memajukan Islam itu sendiri.

Dia membandingkan kehidupan di tanah Arab, antara Sunni-Syiah berkonflik, satu negara dengan negara lainnya saling perang, bunuh-membunuh sesama Islam.

"Saya tak paham, seperti apa paham keislaman dan kebangsaan di Timur Tengah. (Mereka) saling bunuh, bom, bahkan teman saya sedang mengajar di masjid, juga dibom di Suriah sana," jelas Gus Ghofur.

"Mereka itu (Muslim Arab) ingin belajar ke Indonesia, bagaimana bisa akur sesama pemeluk Islam," tutur lulusan Ilmu Tafsir Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Di sisi lain, alumni Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini mengatakan, Islam di Indonesia menjadi harapan banyak bangsa dunia.

Alasannya, kehidupan berbangsa di Indonesia mayoritas memeluk agama Islam, tapi bisa berjalan dengan damai dan aman dengan agama lain dalam bernegara.

"Islam dan negara (Indonesia) sejalan dan beriringan. Bisa tenang, tidak konfrontasi antara (keagamaan) keislaman dengan kebangsaan. Semua ingin mencontoh di sini (Indonesia)," ungkap Ahli Tafsir tersebut.

3 of 3

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Putri Tanjung hingga Angkie Yudistia Diangkat Jadi Staf Khusus Jokowi
Presiden Joko Widodo foto bersama para staf khususnya di Istana Merdeka, Jakarta (21/11/2019). Staf khusus baru kalangan milenial Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia/PMII Aminuddin Ma'ruf, Peraih beasiswa kuliah di Oxford Billy Gracia Yosaphat Mambrasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Lanjutkan Membaca ↓